The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor ,Perumahan The Foresta Bogor Barat. Living In Harmony With Nature,bogor barat regency, dijual perumahan bogor, dramaga bogor, harga tanah bogor, jual rumah bogor barat, pakuan regency bogor, perum di bogor, perumahan bogor barat, perumahan di bogor dekat stasiun, perumahan mutiara cileungsi, perumahan pakuan regency bogor, rumah dijual bogor, http://perumahantheforestabogor.blogspot.com

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Untuk informasi lebih lengkap silahkan hubungi : Bp Iswandy Hp.0877 7010 0061 Email : is_wandhi@yahoo.com

Home – The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

– Akses jalan raya, terdepan, bebas macet dan bebas banjir

– Dilengkapi dengan club house di dalam clusternya (satu-satunya perumahan yang mempunyai club house ).

– Perumahan yang masih dekat dengan linkungan alam, masih banyak pohon, udara segar yang kita tidak dapatkan lingkungan seperti ini di Jakarta.

– The Foresta meupakan hunian terbaru di kota Bogor dan merupakan proyek terbaru dari Developer PT. Batavia Bumi Jaya.Alamat : Jl. Raya Cifor Bubulak Bogor

Luas area : 3,2 ha

Tipe Bangunan : Dua lantaiJumlah Ruang : Kamar Mandi : 2 : Kamar Tidur : 2; Kamar pembantu : 1 Carport : 1

Tipe Mahogany : Luas Tanah : 84 m2; Luas Bangunan : 75 m2 lebar 6 m x panjang 14 m

Tipe Teak Wood : Luas Tanah : 98 m2; Luas Bangunan : 85 m2 lebar 7 m x panjang 14 m

Jumlah rumah : 162 unit

Jumlah ruko : 16 unit

Developer : PT. Batavia Bumi Jaya

Untuk informasi lebih lengkap silahkan hubungi :

Bp Iswandy

Hp.0877 70100061

Email : is_wandhi@yahoo.com

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Diposkan oleh Erfin Syafrizal

Fasilitas Internal

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Fasilitas Eksternal

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Tipe Mahogany

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Tipe Teak Wood

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Ruko

The Foresta Bogor

The Foresta Bogor

Siteplan dan Spesifikasi

Untuk informasi lebih lengkap silahkan hubungi : Bp Iswandy Hp.0877 7010 0061

Email : is_wandhi@yahoo.com

Share This

Google Maps

Lokasi

Harga dan Cara bayar

Webblog Creator

Erfin Syafrizal 081256161720 / Ph 0251 4777 182

Muslim Selamatkan Yahudi Pada PD II

Muslim Selamatkan Yahudi Pada PD II

Adalah Norman Gershman, seorang fotografer yang mengumpulkan foto-foto para saksi hidup.

Sabtu, 23 Oktober 2010, 20:49 WIB

Umi Kalsum, Denny Armandhanu

Pemukiman Yahudi (AP Photo/Bernat Armangue)

VIVAnews – Sejak lama, Islam dan Yahudi identik dengan pertikaian dan peperangan yang tak berkesudahan. Namun, sebuah pameran foto di Amerika Serikat menguak sebuah kisah kemanusiaan yang terlupakan tentang bagaimana Islam Albania menyelamatkan kaum Yahudi dari kejaran Nazi Jerman.

Pameran yang digelar di sinagog Emanuel di St. Louis, Missouri, pada 21 Oktober – 1 Desember 2001 ini menggambarkan bagaimana para muslim Albania mempertaruhkan nyawanya dan nyawa keluarganya untuk menampung para Yahudi yang menjadi buronan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Dikabarkan muslim Albania telah menyelamatkan lebih dari 2.000 Yahudi kala itu.

Adalah Norman Gershman, seorang fotografer yang mengumpulkan foto-foto para saksi hidup serta lokasi tempat peristiwa itu terjadi. Keinginan untuk membuat sebuah pameran yang menggambarkan kebaikanlah yang membuat Gershman memutuskan untuk mengangkat Albania sebagai objeknya. Sejak tahun 2003 Gershman mulai risetnya dengan mengambil foto dan melakukan wawancara.

Gershman menjelaskan bahwa pada tahun 1939 Albania diduduki oleh Italia di bawah kepemimpinan Benito Mussolini pada tahun 1939. Lalu diambil alih Jerman pada tahun 1943. Albania adalah negara dengan 70 persen penduduknya muslim, sementara itu hanya terdapat 200 Yahudi di negara tersebut. Selama masa penjajahan Jerman, Yahudi di Albania bertambah 10 kali lipat. Hal ini dikarenakan Yahudi dari Polandia, Yugoslavia, Yunani dan Italia merangsek masuk ke Albania untuk mencari perlindungan.

“Saya memilih fokus terhadap Muslim di pameran ini, karena siapa yang pernah mendengar Muslim menyelamatkan Yahudi?” ujar Gershman seperti dilansir dari laman STLtoday.

Pada salah satu foto pameran tersebut diceritakan seorang Yahudi menyusui anak seorang wanita yang memberinya perlindungan. Sebelumnya, wanita Yahudi itu meminta izin terlebih dulu kepada ibu si anak.

“Yahudi merupakan umat Tuhan juga,” jawab wanita Albania tersebut.

Kepala sekte Bektashi, sebuah sekte Islam di Albania dengan tujuh juta pengikut, menceritakan bahwa perdana menteri Albania memberikan perintah rahasia kepada rakyatnya untuk melindungi Yahudi.

“Semua anak-anak Yahudi akan tidur dengan anak-anakmu, mereka akan makan makanan yang sama dan hidup sebagai satu keluarga,” ujar lelaki itu menirukan perintah PM-nya.

Salah satu foto dari 30 foto yang dipamerkan menampilkan seorang nenek, Lime Balla, yang menceritakan kejadian kala itu. Balla mengisahkan kepada Gershman ketika 17 orang Yahudi datang ke desanya untuk minta perlindungan.

“Kami membagi mereka di antara para penduduk desa. Kami sangat miskin, tidak ada meja makan, tapi kami tidak membolehkan mereka untuk membayar makanan dan perlindungan. Kami menanam sayur untuk makan. Selama 15 bulan, kami pakaikan mereka pakaian petani agar tidak dikenali. Bahkan polisi kami tahu masalah ini,” kisahnya.

Ketulusan Muslim Albania untuk melindungi Yahudi, ujar seorang cendekiawan muslim dari Yayasan Islam St. Louis, Ghazala Hayat, adalah karena mereka menjunjung tinggi nilai yang disebut ‘Besa’.

Hayat mengatakan bahwa Besa yang dalam bahasa Indonesia berarti memegang janji adalah salah satu bagian dari ajaran dan budaya Islam. Besa, menurutnya, adalah kode kuno yang memerintahkan seseorang untuk melindungi orang lain yang meminta pertolongan walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri.

“Saat ini di Albania, Besa adalah hukum tertinggi yang tidak membedakan perbedaan agama, keturunan dan suku,” ujarnya.
• VIVAnews

http://dunia.vivanews.com/news/read/184560-muslim-selamatkan-yahudi-pada-pd-ii

============

Norman H. Gershman photo exhibit of Albanian Muslims who helped Jews during the Holocaust

Chris Lee

Norman H. Gershman photo exhibit of Albanian Muslims who helped Jews during the Holocaust

Posted in Multimedia on Thursday, October 21, 2010 10:00 pm Updated: 10:00 pm. | Tags: Chris Lee, St. Louis, Temple Emanuel, Norman H. Gershman, Missouri

Norman H. Gershman photo exhibit of Albanian Muslims who helped Jews during the Holocaust

Chris Lee

Norman H. Gershman photo exhibit of Albanian Muslims who helped Jews during the Holocaust

Posted in Multimedia on Thursday, October 21, 2010 10:00 pm Updated: 1:07 am. | Tags: Chris Lee, St. Louis, Temple Emanuel, Norman H. Gershman, Justin Kerber, Missouri




Iklankan produk dan jasa anda di http://iklan789.wordpress.com

Iklankan produk dan jasa anda di iklan789 click aja ini

Suami-suami Takut Istri, Tayangan Tidak Mendidik

Suami-suami Takut Istri, Tayangan Tidak Mendidik

Senin, 12-05-2008 13:56:24 oleh: Anwariansyah

Sinetron komedi situasi berjudul Suami-suami Takut Istri yang ditayangkan oleh stasiun Trans TV setiap hari Senin sampai dengan Kamis pada pukul 18.00 WIB memang terlihat lucu bagi sebagian orang. Sinetron yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat sebuah komplek perumahan ini, mengangkat cerita tentang suami-suami di komplek perumahan tersebut yang selalu takut kepada istrinya masing-masing, dalam hal ini takut bila ketahuan menggoda janda seksi di komplek mereka.

Tapi pernahkan Anda memperhatikan dengan seksama bahwa tayangan tersebut sangat tidak mendidik dan membahayakan perkembangan kejiwaan dan budi pekerti anak-anak kita yang ikut-ikutan menonton tayangan tersebut ? Mungkin kita akan berdalih bahwa cerita itu lucu dan hanya merupakan cerita rekaan atau fiksi dan tidak benar-benar terjadi. Tapi apakah Anda bisa memberikan alasan tersebut kepada anak-anak yang ikut menyaksikan sinetron itu, dan yakin bahwa anak-anak itu tidak akan mencontoh beberapa adegan yang sangat tidak sesuai dengan norma-norma pendidikan budi pekerti ?

Adegan beraroma sex

Kebiasaan para suami di dalam tayangan sinetron tersebut yang suka menggoda – sering kali dengan menyerempet-nyerempet “wilayah berbahaya” – si janda muda cantik dan cara berbusana si janda yang sexy, bukanlah penampilan tayangan yang mendidik buat anak-anak. Kesimpulan yang diambil seorang anak adalah bahwa ayah-ayah mereka juga bertabiat yang sama dengan yang ditampilkan di sinetron tersebut. Sehingga rasa hormat mereka kepada orang tua akan berkurang karena asumsi buruk (prasangka jelek) sudah terbangun di dalam pikiran mereka.

Istri-istri dan anak-anak yang berani kepada suami dan ayahnya

Ada lagi adegan sangat – sangat – tidak mendidik, yaitu adegan para istri yang marah kepada suaminya karena ketahuan para suami itu sedang asyik menggoda si janda muda, lalu masing-masing istri tersebut ada yang menjewer, mencubit perut, menarik leher baju, bahkan ada yang menjambak rambut suaminya sambil menarik pulang ke rumah. Yang lebih parah lagi ditambahkan adegan si anak ikut menarik ayahnya bersama-sama dengan ibunya. Bila si istri menarik baju suaminya, si anak juga menarik baju ayahnya. Bila si istri mencubit perut suaminya, si anak juga mencubit perut ayahnya. Yang lebih parah lagi adalah adegan si istri memaki-maki suaminya diikuti oleh anaknya. Apa tidak ada lagi adegan lucu yang bisa ditampilkan, sampai harus menampilkan keburukan akhlak seperti ini ? Apa anak-anak kita akan dijadikan anak durhaka semua ?

Mungkin beberapa pihak berdalih bahwa kalau tidak mau nonton, ya ganti aja kanalnya. Itu bukan jawaban yang bermuatan niat baik, tetapi tidak lebih dari pada jawaban mau menang sendiri. Apakah Trans TV ingin ikut andil dalam penghancuran moral bangsa ?

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=8180

=====================================================

Suami suami takut istri ; STOP

Otnas,

Mhn perhatian KPI, sinetron suami suami takut istri agar di STOP. Sangat tidak mendidik dan jauh dari realitas. Penggunaan kata yang kasar dan merendahkan posisi suami yang dalam agama islam merupakan pemimpin. Belum lagi jam tayang yang mudah ditonton anak2. Sunggu menyedihkan.

http://www.kpi.go.id/index.php?etats=pengaduan&nid=6355

Awas, Virus Liberal Masuk Pesantren! Tiap tahun, ratusan santri di pesantren ”diboyong” ke luar negeri. Dengan dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke pesantren terus gencar

Awas, Virus Liberal Masuk Pesantren!

Tiap tahun, ratusan santri di pesantren ”diboyong” ke luar negeri. Dengan dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke pesantren terus gencar. [bagian pertama]

Suatu hari, salah seorang utusan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) mendatangi KH Kholil Ridwan, ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren (BKSPPI) se-Indonesia. Utusan ini menyampaikan ajakan kepada Kholil untuk “bertamasya” ke Negeri Paman Bush tersebut. Semua fasilitas dijamin, termasuk uang saku yang tak sedikit. Sungguh tawaran yang menggiurkan!

Tentu saja Kholil tak mau memenuhi undangan tersebut. Ia tahu ada niat tersembunyi di balik ajakan itu.
Namun, belum sempat penolakan disampaikan, undangan tersebut buru-buru dicabut. ”Mereka tahu saya ini anti Amerika,” ujar Kholil kepada Suara Hidayatullah.

Kholil tak sendiri menerima ajakan tersebut. Sejumlah kiai juga menerima ajakan serupa. Bedanya, mereka mau memenuhinya, Kholil tidak.

Maka, setelah itu, silih berganti kiai-kiai mendapat jatah terbang gratis ke negara AS. Selama di sana, mereka dilayani bagai tamu istimewa. Mereka diajak melihat ”realitas” masyarakat AS.

Hasilnya sungguh fantastis. Mereka yang sejak awal bersuara lantang terhadap kekejaman AS di Irak, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya, mulai bersuara parau, jika tak ingin dikatakan lembek. Kata mereka, rakyat AS itu tidak sejahat pemerintahnya.

Menurut Kholil, inilah tanda keberhasilan AS mengubah cara pandang negatif masyarakat Muslim terhadap negaranya. Ini pula awal penyusupan paham liberal ke pesantren.

Meski begitu, tak berarti pesantren yang kiainya terkena bujuk rayu AS langsung dicap sebagai liberal. Mereka hanya perlu diwaspadai. Sebab, upaya AS tentu tak akan berhenti sampai di sini. Mereka akan terus berupaya menyusupkan pemikiran liberalnya ke dalam pesantren tersebut. Sekali kena jaring, boleh jadi selanjutnya kembali terperosok.

Menurut pemerhati pemikiran-pemikiran Barat, Adian Husaini, program Barat sekarang ini ingin membuat ”Islam yang lain” menurut versi mereka. ”Tentu yang menjadi sasaran utama adalah pesantren dan perguruan tinggi Islam sebagai tempat strategis pembinaan umat,” tandasnya.

Muncullah pertanyaan di benak kita, mengapa pesantren begitu mudah disusupi mereka? Apa yang salah? Bagaimana pula pemikiran liberal itu bisa menyusup ke ruang-ruang mengaji di pesantren?

Setidaknya, kupasan Suara Hidayatullah dalam Laporan Utama kali ini bisa menambah khazanah pengetahuan bagi jutaan orangtua yang ingin memasukan anaknya ke pesantren. Selamat membaca.

***

Santri Dirayu, Kiai Digoda

Beberapa tahun lalu, Laskar Santri menggelar unjuk rasa menentang sikap Amerika Serikat (AS) yang represif terhadap umat Islam. Para santri Surakarta ini dengan lantang meneriakan yel-yel anti Yahudi dan AS.

Salah seorang di antara mereka ada yang bernama David Adam Al-Rasyid. Dialah santri paling lantang berteriak di antara demonstran lainnya. Di hadapan massa dia berkata, ”Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!”

Kenangan itu kini tinggal rekaman peristiwa masa lalu. Sejak David diundang mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika selama satu tahun, ada yang berbeda dari dirinya.

”Kalau dulu waktu jadi Laskar Santri saya mengatakan, ’Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!’ Tapi sekarang, siapa yang mau dihancurkan? Tidak semua orang Amerika jelek,” ujar David saat ditemui Suara Hidayatullah di Pesantren As-Salam, Surakarta, beberapa waktu lalu.

Saat David hendak berangkat ke AS, ia sempat meminta masukan kepada salah seorang kakak kelasnya di pesantren yang sama. Sang kakak kelas memberi wejangan, ”Ternyata Amerika tidak memusuhi Islam.”

Lalu, berangkatlah David ke Negara Paman Sam. Selama di sana, David dititipkan pada keluarga Katolik di Corvallis, Oregon. Menurutnya, keluarga yang ia diami amat toleran. Buktinya, ia bisa melaksanakan shalat dan membaca al-Qur’an secara rutin.

“Mereka juga bertanya-tanya tentang Islam, mengapa harus shalat? Mengapa harus puasa? Bahkan kadang-kadang mereka menegur saya jika terlambat shalat. Rupanya tidak semua orang Amerika jahat ” kenang David.

Santri asal Yogyakarta ini juga menceritakan kehidupan bebas remaja di sana. Pernah suatu hari, David dikejutkan oleh tangan yang sekonyong-konyong melingkar di pinggangnya. Saat menoleh ke belakang, ternyata tangan itu milik seorang perempuan. Menurut David, di Amerika, hal seperti itu biasa-biasa saja.

David cuma satu dari sekian banyak pelajar Indonesia yang mengikuti program Youth Exchange Study (YES). Program ini diselenggarakan oleh AFS (American Field Service) bekerjasama dengan Yayasan Bina Antara Budaya.

Program ini dirancang setelah peristiwa 11 September 2001, dirancang khusus untuk negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Setiap bulan para peserta dibekali uang saku sebesar 125 dollar AS, atau sekitar Rp 1,2 juta.

Tahun 2007, dari 97 orang pelajar Indonesia yang diberangkatkan, 30 di antaranya dari pesantren seperti Darunnajah, Darul Falah, Insan Cendekia, dan IMMIM Makassar, Sulawesi Selatan.

Suara Hidayatullah sempat menyambangi kantor Yayasan Bina Antara Budaya yang terletak di Jakarta Selatan. Menurut Ketty Darmadjaya, humas yayasan, program ini didesain untuk meningkatkan wawasan santri serta mengubah pandangan masyarakat terhadap pesantren yang selama ini dianggap terbelakang.

Ketty tak menapik kemungkinan tertularnya para santri tersebut dengan paham liberal. “Makanya, sebelum berangkat, kita memberikan orientasi kepada mereka tentang AS. Sepulangnya dari AS, mereka juga kita orientasi kembali. Kita katakan kepada mereka bahwa pengalaman satu tahun di AS bukanlah segalanya. Kita tidak ingin mengubah pandangan mereka terhadap Islam mejadi liberal,” jelasnya.

Bahaya Mengancam

Ternyata, tak hanya santri yang mendapat jatah ’terbang’ ke Amerika. Kiai pimpinan pondok pesantren juga menjadi sasaran untuk diperkenalkan dengan ’wajah manis’ Amerika.

Melalui Institute for Training and Development (ITD), sebuah lembaga milik Amerika, mulai pertengahan September 2002, para kiai bergantian bertandang ke negeri itu. Di awal program, lembaga itu mengundang 13 utusan pesantren ’pilihan’ yang berasal dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Menurut KH Kholil Ridwan, Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI), program ini terbukti efektif mengubah pandangan para kiai terhadap Amerika. Banyak kiai yang setelah pulang ke tanah air mengatakan, “ Rakyat Amerika tidak sejahat pemerintahnya. Mereka sangat baik.”

Kholil, yang juga Ketua MUI, menolak keras pernyataan para kiai itu. “Di mana sikap baiknya rakyat Amerika? Amerika menyerang Irak atas persetujuan kongres, lalu kongres itu kan wakil rakyat. Jadi, artinya, rakyat Amerika sama jahatnya dengan pemerintahnya,” ungkap pengasuh Ponpes al-Husnayain ini.

Apabila sikap kiai-kiai itu melunak kepada Amerika, kata Kholil lagi, maka liberalisasi akan sangat mudah masuk ke pesantren. Kalau pesantren sudah terjangkit virus liberalisasi, maka akan berdampak pula terhadap pola pikir santrinya.

Nah, santri-santrinya ini pada akhirnya akan menjadi guru madrasah. Kalau gurunya liberal, bisa dipastikan murid-muridnya juga liberal. Generasi muda kita menjadi liberal semua. Perjuangan umat Islam pun melemah. “Ini sangat berbahaya!” Kholil memperingatkan.

Hal yang sama juga diungkap Adian Husaini, salah seorang ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). ”Salah satu kelemahan pesantren adalah tidak bisa memberikan framework (bingkai) yang jelas kepada para santrinya,” jelas Adian.

Santri hanya ditekankan pada satu aspek saja, misalnya, fiqih atau lughah (bahasa). Tapi, framework menghadapi tantangan berfikir kadang kurang.

Salah satu pesantren yang telah membekali santrinya untuk menghadapi tantangan berfikir, kata Adian, adalah Gontor. ”Di Gontor, santri yang akan lulus diberi bekal agar bisa menyiapkan diri menghadapi pemikiran Barat. Kalau tidak, ya, dia akan menganggap itu sebagai hal yang benar,” jelasnya. . [diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, edisi Januari 2008/www.hidayatullah.com/www.suara-islam.com] berlanjut…

http://moslemgen.blogspot.com/2008/01/awas-virus-liberal-masuk-pesantren.html

Awas, Virus Liberal Masuk Pesantren! [2]
Lanjutan artikel sebelumnya

Tiap tahun, ratusan santri di pesantren ”diboyong” ke luar negeri. Dengan dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke pesantren terus gencar. [bagian kedua]

Proyek besar penyebaran liberal ke pesantren disinyalir didanai oleh LSM asing yang cabangnya berada di Indonesia, yaitu The Asia Foundation (TAF). Lembaga donor yang disponsori Barat ini telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1955. Beberapa ormas dan lembaga Islam menjadi mitra utama mereka.

Dalam situs resminya http://www.asiafoundation.org lembaga yang menjadi perpanjangan tangan para saudagar Yahudi ini banyak membantu LSM Indonesia yang giat menyosialisasikan sekularisme, pluralisme dan liberalisme (baca; SePiLis). Sebut saja, misalnya, Jaringan Islam Liberal (JIL), P3M, International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Wahid Insitute, Maarif Institue, MADIA, dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Laporan tahunan TAF 2006 menyebutkan, sejak tahun 2000 mereka telah membuat kurikulum kewarganegaraan yang mendukung nilai-nilai demokrasi, mendorong siswa berpikir kritis terhadap isu-isu demokrasi, HAM, dan pluralisme agama. Untuk mewujudkan ini mereka menggandeng CCE Indonesia (pusat pendidikan kewarganegaraan).

Kurikulum itu kini telah menjadi materi wajib di seluruh UIN dan IAIN di seantero Indonesia. Bahkan, mereka tengah berupaya mengembangkan kurikulum serupa untuk diterapkan di universitas Islam swasta.

Para mitra TAF telah memberikan pelatihan kurikulum baru ini kepada 90 dosen kewarganegaraan dari 66 universitas Islam swasta pada tahun 2006. Para dosen tadi sudah mulai mengajarkan kurikulum tersebut kepada sekitar 20.000 mahasiswa mereka.

Pasca 11/9

Proyek liberalisasi pendidikan Islam semakin deras arusnya setelah peristiwa 11 September. Workshop-workshop bertema liberal banyak digelar atas dukungan TAF dan ICIP.

Berapa dollar AS yang digelontorkan kedua organisasi ini untuk proyek liberalisasi Indonesia? Robin Bush, Deputy Country Representative TAF untuk Indonesia, saat ditanya Suara Hidayatullah tentang itu tidak bersedia menjawabnya. Begitu juga Elfiqa D Siregar, salah satu staf ICIP, saat ditemui di kantornya di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta, juga tidak menyebutkan jumlah pasti. Ia cuma menyebut salah satu nama lembaga pemasok dana, Ford Foundation.

Namun, Robin menolak anggapan bahwa lembaganya disebut membawa misi liberalisasi. “Kami di TAF sama sekali tidak punya program liberalisasi,” ujarnya saat ditemui di kantor TAF, jl Adityawarman no 40, Jakarta Selatan.

“Kami bekerja sama dengan pesantren karena tahu lembaga pendidikan ini erat kaitannya dengan masyarakat kelas bawah. Ini sesuai dengan apa yang menjadi benang merah dari semua misi TAF, yaitu good governence, serta meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia,” terangnya lagi.

Menurut Bush, TAF tidak pernah menawarkan sesuatu kepada pesantren atau lembaga-lembaga Islam. ”Semua program yang dijalankan TAF adalah inisiatif mitra kami. Mereka datang ke kami dengan ide, bukan kami datang ke mereka dengan ide,” kata bule yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.

Hal senada juga disampaikan Elfiqa. ”Saya pribadi melihat tuduhan itu nggak benar. Saya turun langsung ke lapangan, saya lihat tidak ada. Tidak ada doktrin-doktrin itu,” jelasnya.

Apa pun perkataan mereka, faktanya, TAF dan ICIP telah banyak menggelontorkan program liberalisasi. Bahkan, kalau melihat visi dan misinya, jelas tujuan ICIP adalah mempromosikan pluralisme. Apalagi jika melihat daftar orang-orang yang duduk di jajaran dewan direktur. Di sana ada Moeslim Abdurrahman, Musdah Mulia, dan Ulil Abshar Abdalla. Siapa mereka? Pembaca pasti sudah tahu. [diambil dari majalah Suara Hidayatullah, edisi Januari 2008/www.hidayatullah.com/www.suara-islam.com]

http://moslemgen.blogspot.com/2008/01/awas-virus-liberal-masuk-pesantren-2.html

Kapitalisme, IMF, dan Bank Dunia Digugat di PBB

Kapitalisme, IMF, dan Bank Dunia Digugat di PBB

>> Jumat, 26 Juni 2009

PBB, New York (ANTARA News/Reuters) – Presiden Ekuador yang berhaluan kiri Rafael Correa, Kamis, menuding kapitalisme sebagai penyebab krisis keuangan global dan mendesak dihapuskannya Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

Kecaman terhadap IMF dan lembaga-lembaga Bretton Woods lainnya yang didirikan selama Perang Dunia Kedua menjadi suasana umum dalam sidang tiga hari membahas krisis ekonomi di Majelis Umum PBB.

Bretton Woods adalah satu tempat di negara bagian New Hampshire, AS, dimana 730 delegasi dari 44 negara berkumpul pada Juli 1944 untuk membangun sistem perekonomian dunia yang menjadi cikal bakal lahirnya Bank Dunia dan IMF.

“Membadut kepada sistem Bretton Woods yang tidak bisa kita kendalikan, adalah sia-sia saja bagi negara-negara (berkembang),” kata Correa pada satu pidato di hari kedua konferensi PBB itu.

Oleh karena, reformasi IMF dan Bank Dunia bukanlah solusi yang cukup karena dunia kini menghadapi satu krisis yang berbeda dari krisis sebelumnya yang diprovokasi kapitalisme, tambahnya.

Jika lembaga-lembaga Bretton Woods tidak dihapus, maka lembaga-lembaga itu mesti diubah dan kewenangannya di negara-negara miskin dikurangi. Sebaliknya, PBB harus diberikan otoritas dan kekuasaan lebih besar dalam memutuskan soal keuangan.

Sebelumnya pada konferensi hari pertama Menteri Perdagangan Kuba Rodrigo Malmierca Diaz menyatakan IMF dan Bank Dunia telah menyengsarakan bangsa-bangsa seluruh dunia dan harus dihapus.

Pertemuan PBB ini sedianya diselenggarakan pada 1-3 Juni namun Presiden Majelis Umum PBB Miguel D’Escoto, seorang kiri dan mantan menteri luar negeri Nikaragua, memundurkannya ke minggu ini karena ada perdebatan seputar draft proposal reformasi sistem keuangan dunia.

Sekitar sepertiga dari 192 negara anggota Majelis Umum PBB turut serta dalam konferensi yang rencananya akan mengadopsi satu dokumen draft mengenai proposal reformasi sistem keuangan yang oleh para diplomat disebut hampir disepakati tanpa syarat.

Proposal final yang semula dipersiapkan oleh D’Escoto namun kemudian ditolak negara-negara Barat karena terlalu radikal, termasuk seruan reformasi IMF.

Namun satu-satunya reformasi khusus yang diseru proposal ini adalah bahwa kekuatan mengambil kebijakan dari negara-negara berperekonomian berkembang dan negara berkembang akan ditingkatkan pada pengkajian kembali perimbangan suara IMF awal 2011 nanti.

Penghapusan Utang

Peraih Nobel ekonomi sekaligus penasihat D’Escoto, ekonom Joseph Stiglitz, berkata pada wartawan bahwa negara-negara maju mengakui banyak masalah berat sehingga mereka mulai melakukan reformasi.

“Pandangan pribadiku adalah bahwa tampaknya akan banyak gejolak di masa mendatang dan itu akan menjadi sangat menyulitkan pulihnya pertumbuhan ekonomi sampai setidaknya kita melakukan beberapa reformasi,” kata Stiglitz.

Salah satu wilayah perdebatan konferensi adalah pembentukkan alternatif cadangan mata uang global di luar dolar AS dimana Stiglitz mengatakan reformasi sistem rezim mata uang menjadi bagian dari proses reformasi itu.

Draft yang rencananya akan diadopsi seluruh delegasi peserta konferensi Jumat waktu AS (Sabtu WIB) ini juga menyerukan peningkatan bantuan dan penghapusan utang untuk negara-negara miskin serta pengawasan lebih ketat terhadap “hedge fund” (spekulan keuangan) dan produk-produk keuangan derivatif, serta mengingatkan ancaman proteksionisme perdagangan.

Draft ini juga berisi peningkatan kerjasama antara PBB dan lembaga-lembaga keuangan global, namun tidak menyebut secara khusus apa yang sesungguhnya diperlukan dunia. Draft ini juga tidak berisi terobosan terhadap proses itu, seperti diinginkan kebanyakan negara miskin.

Sejumlah delegasi termasuk AS dan Uni Eropa, berencana mengeluarkan pernyataan setelah proposal ini dikemukakan dan akan menunjukkan sikap mereka yang tidak mendukung semua isi dokumen draft, aku seorang diplomat PBB yang menolak menyebutkan jati dirinya.

Kebanyakan delegasi telah menyuarakan perlunya mereformasi IMF dan Bank Dunia, namun wakil-wakil negara maju di Barat menolak gagasan penghapusan kedua lembaga itu.

“Lembaga-lembaga Bretton Woods tidak lagi populer dan sudah tidak begitu penting,” kata menteri urusan Afrika Kerajaan Inggris, Malloch Brown.

Meskipun pertemuan PBB ini diperlakukan setingkat KTT, tidak ada satu pun pemimpin Barat yang menghadirinya dan hanya sedikit presiden dan perdana menteri yang hadir, kebanyakan dari Amerika Latin dan Karibia. Negara-negara lainnya hanya mengirimkan delegasi yang lebih rendah dari itu.

Para diplomat Barat mengatakan ketidakhadiran banyak pemimpin dunia di konferensi itu sebagai bentuk ketidakpuasan atas cara D’Escoto menyelenggarakan perhelatan itu. (*)
http://beritakbar.blogspot.com/2009/06/kapitalisme-imf-dan-bank-dunia-digugat.html