Pernyataan HTI Tentang Bentrok Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang

Pernyataan HTI Tentang Bentrok Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang (Baca dan sebarkan)
by Komunitas Rindu Syariah & Khilafah on Tuesday, February 8, 2011 at 7:38pm

KANTOR JURU BICARA

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Nomor: 193/PU/E/02/11

Jakarta, 07 Februari 2011 M

Pernyataan

HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Tentang

Bentrok Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang

Seperti telah diberitakan, pada hari Ahad pagi 6 Februari lalu terjadi bentrokan antara anggota Jemaah Ahmadiyah dan warga di Kampung Pendeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Akibatnya, delapan orang menjadi korban, tiga di antaranya meninggal dunia. Ini adalah bentrok antara anggota Jemaah Ahmadiyah dan warga yang terjadi untuk untuk kesekian kalinya. Sebelumnya bentrok serupa terjadi di Ciampea, Bogor, lalu di Desa Manis Lor, Kuningan, dan yang terakhir pada 29 Januari lalu bentrok juga terjadi di Makassar.

Bentrokan di Cikeusik dan yang terjadi sebelumnya dipicu oleh fakta bahwa Jemaah Ahmadiyah memang tidak mengindahkan larangan untuk beraktifitas sebagaimana disebutkan dalam SKB Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Nomor 199 Tahun 2008, dimana intinya SKB tersebut memberikan peringatan dan perintah kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Bahwa di dalam setiap bentrok tersebut ada juga didorong oleh rasa emosi atau amarah warga sekitar, mungkin itu benar. Tapi emosi atau amarah warga itu bisa dimengerti mengingat Jemaah Ahmadiyah adalah kelompok yang sangat menghinakan Nabi Muhammad dan juga kesucian al Qur’an yang diacak-acak di dalam kitab mereka Tadzkirah.

Dan yang paling utama, bentrok itu dipicu oleh ketidaktegasan pemerintah dalam hal ini Presiden SBY yang hingga sekarang tidak juga kunjung mengeluarkan larangan atau pembubaran terhadap Jemaah Ahmadiyah padahal dasar hukum yang diperlukan untuk itu sudah lebih dari cukup, baik berupa Fatwa MUI, hasil Kajian Bakorpakem, SKB 3 Menteri maupun tuntutan ormas-ormas Islam. Ketidaktegasan itulah yang membuat Jemaah Ahmadiyah merasa mendapat angin, yang itu kemudian memunculkan gesekan dengan umat Islam di berbagai tempat.

Berkenaan dengan hal di atas, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Menyesalkan terjadinya bentrok antara anggota Jemaah Ahmidyah dan warga sekitar. Bentrok ini sesungguhnya tidak perlu terjadi andai pemerintah bersikap tegas menyangkut keberadaan Jemaah Ahmadiyah.
2. Bahwa pemerintah dalam hal ini Presiden SBY mestinya segera mengeluarkan keputusan untuk membubarkan Jemaah Ahmadiyah atau menyatakannya sebagai kelompok non-muslim. Hanya dengan keputusan seperti inilah persoalan Jemaah Ahmadiyah dapat diselesaikan dengan tuntas dan menutup pintu terjadinya bentrok lebih lanjut. Lambatnya Presiden dalam mengambil keputusan bisa dianggap turut membiarkan terjadinya konflik horisontal karena warga akan mengambil jalan sendiri-sendiri dalam menyelesaikan persoalan Jemaah Ahmadiyah ini.
3. Menyerukan kepada pengikut Jemaah Ahmadiyah untuk segera kembali kepada jalan yang benar dengan cara meninggalkan ajaran Ahmadiyah yang jelas-jelas telah dinyatakan sesat dan menyesatkan. Hanya dengan cara itu kedamaian hidup dengan umat Islam lain bisa didapat.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com

link…

http://hizbut-tahrir.or.id/2011/02/08/pernyataan-hti-tentang-bentrok-ahmadiyah-di-cikeusik-pandeglang/

Advertisements

Fatwa Liga Muslim Dunia – Ahmadiyah Sesat

Fatwa Liga Muslim Dunia – Ahmadiyah Sesat

TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA :

Liga Muslim Dunia melangsungkan konferensi tahunannya di Makkah Al-Mukarramma Saudi Arabia dari tanggal 14 s.d. 18 Rabbiul Awwal 1394 H (6 s.d. 10 April 1974) yang diikuti oleh 140 delegasi negara-negara Muslim dan organisasi Muslim dari seluruh dunia.

Deklarasi Liga Muslim Dunia – Tahun 1974

(Rabita al-Alam al-Islami)

Qadianiyah atau Ahmadiyah : adalah sebuah gerakan bawah tanah yang melawan Islam dan Muslim dunia, dengan penuh kepalsuan dan kebohongan mengaku sebagai sebuah aliran Islam; yang berkedok sebagai Islam dan untuk kepentingan keduniaan berusaha menarik perhatian dan merencanakan untuk merusak fondamen Islam.

Penyimpangan-penyimpangan nyata dari prinsip-prinsip dasar Islam adalah sebagai berikut :

1. Pendirinya mengaku dirinya sebagai nabi.

2. Mereka dengan sengaja menyimpangkan pengertian ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur�an.

3. Mereka menyatakan bahwa Jihad telah dihapus.

Qadianiyah semula dibantu perkembangannya oleh imperialisme Inggris. Oleh sebab itu, Qadiani telah tumbuh dengan subur dibawah bendera Inggris. Gerakan ini telah sepenuhnya berkhianat dan berbohong dalam berhubungan dengan ummat Islam. Agaknya, mereka setia kepada Imperialisme dan Zionisme. Mereka telah begitu dalam menjalin hubungan dan bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan anti-Islam dan menyebarkan ajaran khususnya melalui metode-metode jahat berikut ini :

Membangun mesjid dengan bantuan dari kekuatan anti Islam di mana pemikiran-pemikiran Qadiani yang menyesatkan ditanamkan kepada orang.

Membuka sekolah-sekolah, lembaga pendidikan dan panti asuhan dimana didalamnya orang diajarkan dan dilatih untuk bagaimana agar mereka dapat lebih menjadi anti-Islam dalam setiap kegiatan-kegiatan mereka.

Mereka juga menerbitkan versi Al-Qur’an yang merusak dalam berbagai macam bahasa lokal dan internasional.

Untuk menanggulangi keadaan bahaya ini, Konferensi Liga Muslim Dunia telah merekomendasikan dan mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

Seluruh organisasi-organisasi Muslim di dunia harus tetap mewaspadai setiap kegiatan-kegiatan orang-orang Ahmadiyah di masing-masing negara dan membatasi sekolah-sekolah dan panti-panti asuhan mereka. Selain itu, kepada seluruh organisasi-organisasi Muslim di dunia, harus dapat menunjukkan kepada setiap Muslim di seluruh dunia tentang gambaran asli orang Qadiani dan memberikan laporan/data tentang berbagai macam taktik mereka sehingga kaum Muslim di seluruh dunia terlindung dari rencana-rencana mereka.

Mereka harus dianggap sebagai golongan Non-Muslim dan keluar dari Islam juga dilarang keras untuk memasuki Tanah Suci.

Tidak berurusan dengan orang-orang Ahmadiyah Qadiani, dan memutuskan hubungan sosial, ekonomi, dan budaya.

Tidak melakukan pernikahan dengan mereka, serta mereka tidak diizinkan untuk dikubur di pemakaman Muslim serta diperlakukan seperti layaknya orang-orang non-Muslim yang lainnya.

Seluruh negara-negara Muslim di dunia harus mengadakan pelarangan keras terhadap aktivitas para pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Dan harus menganggap mereka sebagai minoritas non Muslim dan melarang mereka untuk jabatan yang sensitif dalam negara.

Menyiarkan semua penyelewengan Ahmadiyah yang mereka lakukan terhadap Kitab Suci Al-Qur’an disertai inventarisasi terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang dibuat oleh Ahmadiyah dan memperingatkan umat Islam mengenai karya-karya tulis mereka.

Semua golongan yang menyeleweng dari Islam diperlakukan sama seperti Ahmadiyah.

http://ahmadiyah.20m.com/fatwa/RAI_IND.HTM

ENGLISH TRANSLATION :

World Muslim League held its annual conference at Makkah Al-Mukaramma Saudi Arabia from 14th to 18th of Rabiul Awwal 1394 H (April 1974) in which 140 delegations of Muslim countries and organizations from all over the world participated

1974 Declaration by World Muslim League

(Rabita al-Alam al-Islami)

Qadianism or Ahmadiyyat: It is a subversive movement against Islam and the Muslim world, which falsely and deceitfully claims to be an Islamic sect; who under the guise of Islam and for the sake of mundane interests contrives and plans to damage the very foundations of Islam. Its eminent deviations from the basic Islamic principles are as follows:

1. Its founder claimed that he was a Prophet.

2. They deliberately distort the meanings of the verses of the Holy Quran.

3. They declared that Jehad has been abolished.

Qadianism was originally fostered by the British imperialism. Hence it has been flourishing under her flag. This movement has completely been disloyal to and dishonest in affairs of the Muslim Ummah. Rather, it has been loyal to Imperialism and Zionism. It has deep associations and cooperation with the anti Islamic forces and teachings especially through the following nefarious methods:

Construction of mosques with the assistance of the anti Islamic forces wherin the misleading Qadiani thoughts are imparted to the people.

Opening of schools institutions and orphanages wherein the people are taught and trained as to how they can be more anti Islamic in their activities. They also published the corrupted versions of the Holy Quran in different local and international languages.

In order to combat these dangers, the Conference recommends the following measures:

All the Muslim organization in the world must keep a vigilant eye on all the activities of Qadianis in

their respective countries; to confine them all strictly to their schools, institutions and orphanages

only. Moreover he Muslims of the world be shown the true picture of Qadianism and be briefed of their various tactics so that the Muslims of the world be saved from their designs.

They must be declared non Muslims and ousted form the fold of Islam. And be barred to enter the Holy lands.

There must be no dealings with the Qadianis. They must be boycotted socially , economically and culturally Nor they be married with or to Nor they be allowed to be buried in the Muslims graveyards. And they be treated like other non Muslims.

All the Muslim countries must impose restrictions on the activities of the claimant of Prophethood Mirza Ghulam Ahmed Qadiani’s followers; must declare them a non Muslim minority must not trust them with any post of responsibility in any Muslim country.

The alterations effected by them in the Holy Quran must be made public and the people be briefed of them and all these be prohibited for further publication.

All such groups as are deviators from Islam must be treated at par with the Qadianis

http://ahmadiyah.20m.com/fatwa/RAI_ING.HTM

Di bawah adalah dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada Nabi sesudahnya. Ini adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang mematahkan argumen kelompok Ahmadiyah yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

Ketika disodorkan ayat: QS AL AHZAB 40: ”Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”. ada yang berargumen bahwa Nabi Muhammad hanya Nabi terakhir. Bukan Rasul terakhir. Namun hadits di bawah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya Nabi terakhir, tapi juga Rasul terakhir:

Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

Di bawah adalah dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada Nabi sesudahnya. Ini adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang mematahkan argumen kelompok Ahmadiyah yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

http://media-islam.or.id/2007/09/27/dalil-nabi-muhammad-nabi-terakhir/

http://media-islam.or.id/2007/09/26/fatwa-liga-muslim-dunia-ahmadiyah-sesat/comment-page-1/

Ust. Ahmad Hariyadi & Ust. Amin Jamaluddin – Membongkar Kesesatan Ahmadiyah

Ahmadiyah & Pembajakan Al-Qur`an

Ahmadiyah & Pembajakan Al-Qur`an

M. Amin Djamaluddin
Judul : Ahmadiyah & Pembajakan Al-Qur`an
Penulis : M. Amin Djamaluddin
Penerbit : Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI)
Tahun : 2005
Genre : Aliran & Kepercayaan
Tebal : 236 Halaman
ISBN : –

Di Tanah Air tercinta yang bernama Indonesia ini, bahwa segala sesuatu yang berbau bajakan itu memang sudah menjadi hal biasa. Pembajakan film-film dalam bentuk DVD, pembajakan software komputer, dan pembajakan buku-buku bestseller kerap dilakukan oleh oknum-oknum yang menganggap remeh hak sebuah karya cipta. Ancaman hukuman yang diberikan kepada pembajak tentu saja ada dan termaktub dalam undang-undang negara. Namun, semua itu diabaikan, karena faktor ekonomi lebih kuat tuntutannya.

Nah! Yang tidak habis pikir, bagaimana jadinya kalau sebuah kitab suci Al Qur`an juga ikut-ikutan dibajak oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Ahmadiyah? Sudah pasti hukumannya lebih berat beribu-ribu kali lipat dbanding para pembajak DVD, software komputer, dan buku-buku bestseller tadi. Latar belakang bukan untuk mencari fulus dari apa yang dibuatnya. Tapi, apapun tujuannya, yang pasti peristiwa semacam itu tentu saja telah menodai nilai religius dari Islam. Sebagai umat pemeluk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tentu saja marah dan jelas mengutuk. Karena zona akidah yang selama ini mereka anut merasa dicabik-cabik dengan keberadaan munculnya kitab baru yang dibawa oleh gerakan Qodianisme (Ahmadiyah).

Ya, kitab yang dianggap suci itu bernama Tadzkirah. Isinya penggalan dari ayat-ayat Al-Qur`an yang dicomot serampangan. Kemudian diramu sedemikian rupa dan ditambah dengan syair-syair dan pesan yang menurut pengakuan si pembuatnya adalah wahyu dari Tuhan. Kitab suci karya Mirza Ghulam Ahmad tersebut ditulis ke dalam berbagai bahasa; Urdu, Persia, dan Arab.

Buku ini khusus membedah isi dari kitab Tadzkirah yang ditelusuri ayat per ayat. Dari hasil pembedahannya itu banyak sekali penyimpangan, termasuk ayat-ayat yang tidak masuk akal sama sekali. Sebagian bajakan dari Al-Qur’an, sebagian lagi hanya lamunan Nabi Palsu Ghulam Ahmad yang didapat entah dari mana asal-muasalnya.

Kontan saja berbagai organisasi Islam banyak yang menentang. Termasuk juga laskar-laskar Islam lainnya yang jauh dari setuju dengan keberadaan gerakan Qodianisme asal India itu. Berbagai keputusan telah dikeluarkan. Fatwa dari Majelis Ulama Islam (MUI) juga sudah dikumandangkan ke seantero jagat. Aksi-aksi ke lapangan juga sudah bergilir dilakukan oleh Ormas (Organisasi Masyarakat) bergaris keras. Bahkan, Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai perintah menghentikan kegiatan Ahmadiyah yang diteken oleh Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung itu pun sudah dikeluarkan.

Memang secara hakiki kebebasan beragama itu layak dihormati. Tapi kalau sampai menciderai umat lain tentu saja menjadi perkara yang beda. Ok, untuk lebih lengkapnya silahkan cari tahu dari dalam buku yang ditulis oleh M. Amin Djamaluddin ini. (muluk)
http://wisata-buku.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1275&Itemid=1418

MUI Minta Pemerintah Tidak Gamang dalam Penerapan SKB Ahmadiyah

MUI Minta Pemerintah Tidak Gamang dalam Penerapan SKB Ahmadiyah

Senin, 07 Februari 2011 11:21

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai kekerasan dalam penyerbuan rumah milik jamaah Ahmadiyah karena pemerintah gamang dalam memberlakukan Surat Keputusan Bersama (SKB). MUI minta SKB yang telah ditandatangani semua pihak harus ditaati.

“SKB pemerintah tidak boleh gamang,” ujar Ketua MUI Amidhan ketika dihubungi detikcom, Minggu (6/2/2011).

Amidhan mengatakan, SKB selama ini seperti pisau bermata dua. Dalam SKB, telah ditetapkan jika Ahmadiyah tidak boleh mengajarkan ajarannya. Namun kenyataaannya Ahmadiyah tetap mengajarkan ajarannya.

“SKB itu seperti pisau bermata dua. Salah satu yang pokok itu bahwa pemerintah telah menetapkan bahwa ajaran Ahmadiyah sesat. Dilarang mengajarkan ajarannya itu. Kalau dia mengajarkan itu, dia melanggar SKB,” terang Amidhan.

Menurut Amidhan, penegakan SKB yang tidak tegas ini yang menyebabkan keresahan warga menumpuk, karena aktivitas Ahmadiyah masih terus dilakukan.

“Masyarakat menumpuk keresahannya, akhirnya terjadilah bentrokan fisik,” sebutnya.

Karena itu, Amidhan meminta agar pemerintah tegas membubarkan Ahmadiyah. Jika tak ingin dibubarkan, Amidhan mengatakan sebagai solusi bahwa Ahmadiyah dijadikan agama tersendiri, dan tidak masuk dalam bagian agama Islam.

“Ahmadiyah supaya dibubarkan, kalau tidak mau dibubarkan karena berbentuk badan hukum, yang dibubarkan ajarannya. Kalau tidak agamanya, dijadikan agama tersendiri, di luar Islam seperti di Pakistan,” jelasnya.(Detiknews)
http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=398:mui-minta-pemerintah-tidak-gamang-dalam-penerapan-skb-ahmadiyah-&catid=1:berita-singkat&Itemid=92

MUI Tetap Anggap Ahmadiyah Menyimpang

MUI Tetap Anggap Ahmadiyah Menyimpang

MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai ajaran Ahmadiyah tahun 1980 dan diperkuat 2005.
Selasa, 8 Februari 2011, 09:29 WIB
Ita Lismawati F. Malau
Cuplikan video penyerangan jemaah Ahmadiyah (dok. Ahmadiyah)
BERITA TERKAIT

* Polisi Bidik Tiga Calon Tersangka
* Ahmadiyah: Diserang di RI, Dibom di Pakistan
* Warga dan Ahmadiyah Bentrok, MUI Bentuk TPF
* SBY Perintahkan Kapolri Tangkap Para Pelaku
* Pengamanan Terkendala Faktor Geografis

VIVAnews – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan keprihatinan atas penyerangan yang terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Meski demikian, MUI tetap berpegang pada fatwa yang menyatakan aliran ini sesat.

“Fatwa ini sudah keluar tahun 1980 kemudian diperkuat lagi tahun 2005. PBNU pun sudah menyatakan aliran ini menyimpang dari ajaran Islam,” tegas Ketua MUI Amidhan saat dihubungi VIVAnews.com. “Ini sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.”

Sedikitnya ada dua alasan mengapa Ahmadiyah dinilai sesat. Pertama, jemaah ini mengakui nabi lain sesudah Nabi Muhammad. Kedua, Ahmadiyah pun punya kitab suci selain Al Qu’ran.

“Isi fatwa sudah jelas menyebutkan bahwa orang yang sudah terlanjur masuk Ahmadiyah agar kembali ke ajaran yang benar.” Yang belum masuk, lanjut dia, diminta tidak terjebak.

Meski demikian, Amidhan menegaskan bentrokan berdarah di Cikeusik, Minggu 6 Februari lalu tidak perlu terjadi. “Saya pikir, aparat kepolisian kecolongan,” kata dia. “Kami sesalkan kejadian ini.”

Sementara itu, Ketua Dewan Pakar PPP Lukman Hakim menilai bentrok Ahmadiyah itu merupakan bentuk ketidakmampuan pemerintah dalam melindungi warga. Pemerintah, tegasnya, harus menyelesaikan kasus ini.

“(Penyelesaian) Ini tidak boleh diserahkan kepada masyarakat karena berbahaya mengingat ini kasus krusial,” kata dia.

Menurutnya, Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang Ahmadiyah tidak pernah dilaksanakan selama ini karena pemerintah tidak tegas dalam menentukan sikap.

Dalam penyerangan ke sebuah rumah jemaah Ahmadiyah, Minggu 6 Februari lalu, empat orang tewas dan enam lainnya luka parah. Kepolisian dalam kasus ini sudah menangkap tiga calon tersangka. (sj)
• VIVAnews