Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.

Kewajiban Kita Terhadap Al-Al-Qur’an

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan tercinta….

Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Seseorang layak heran terhadap sikap kebanyakan manusia terhadap kitab Allah swt.: Al-Qur’an Al-Karim.

Ikhwan sekalian, sebagaimana saya katakan sebelumnya, sikap kebanyakan manusia pada masa sekarang ini terhadap kitab Allah ibarat sekelompok manusia yang diliputi kegelapan dari segala penjuru. Mereka kebingungan, berjalan tanpa petunjuk apa pun. Kadang-kadang mereka jatuh ke jurang, kadang-kadang membentur batu, dan kadang-kadang saling bertabrakan.

Keadaan mereka terus demikian, tersesat membabi buta dan berjalan dalam kegelapan yang pekat. Padahal di hadapan mereka ada sebuah tombol elektrik yang andaikata mereka tekan dengan jari, maka dengan gerakan sedikit saja dapat menyalakan sebuah lampu yang terang-benderang.

Inilah Ikhwan sekalian, perumpamaan umat manusia sekarang dan sikap mereka terhadap kitab Allah. Umat manusia di seluruh dunia saat ini tersesat: dalam kegelapan yang pekat. Seluruh alam berjalan tanpa petunjuk. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, maka sebentar saja sistem itu akan hancur berantakan.

Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Quran al-Karim, kitab Allah swt.

Bak unta mati kehausan di padang pasir

Sedangkan air terpikul di atas punggungnya

Mereka tidak mendapatkan jalan petunjuk, padahal di hadapan mereka ada cahaya yang sempurna.

“Tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 15-16)

“Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.” (Ibrahim: 1)

“Maka berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (At-Tagbabun: 8)

Ikhwan sekalian….

Kembali saya ingin katakan bahwa barangkali suatu hal yang wajar jika orang-orang kafir yang mata mereka belum dibuka untuk melihat cahaya ini, berjalan tanpa petunjuk dalam kehidupan mereka. Ini logis dan dapat diterima, karena Allah swt. berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka ia tiada memiliki cahaya sedikitpun.” (An-Nur: 40)

Sebagaimana pula halnya dengan orang-orang mukmin yang mengimani, membenarkan, mencintai, menghormati dan mengagungkannya, yang tidak ada satu pun dari rumah-rumah mereka dan tidak satu pun dari kantong-kantong baju mereka yang tidak terdapat mushaf dari Kitabullah.

Ikhwan sekalian…

Orang-orang kafir telah menipu mereka dengan cahaya itu, menjauhkan mereka dari petunjuk, menyesatkan mereka dari jalan, dan menjauhkan tangan mereka dari sumber mulia dan dari tombol elektrik ini; kadang-kadang dengan jerat politik di saat lain dengan parangkap ilmu duniawi.

“Mereka hanya mengetahui kehidupan dunia yang lahir, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai.” (Ar-Rum: 7)

Mereka terus memperdayakan; terkadang dengan harta benda, kadang-kadang melalui hawa nafsu, kadang-kadang dengan tipu muslihat, dan di saat lain dengan kekuatan, paksaan, dan kekejaman.

Wahai Ikhwan sekalian…

Semua sarana ini terus digunakan para penganut kekafiran. Orang-orang kafir itu menjauhkan manusia dan kaum muslimin dari petunjuk. Sekian lamanya kaum muslimin mengikuti dan berlari di belakang kesesatan mereka. Akibatnya, mereka lupa kepada sumber petunjuk ini dan mengekor saja di belakang orang-orang kafir. Padahal Allah swt. telah memperingatkan mereka dari tindakan itu.

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lantas jadilah kalian orang-orang yang merugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindung kalian, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran: 149-150)

Ikhwan sekalian…

Karena Allah mengetahui bahwa orang-orang kafir terkadang mengintimidasi orang-orang beriman dengan kekuatan yang mereka miliki, maka Allah swt. ingin mencabut pengaruhnya dari hati kaum muslimin.

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurun-kan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan alangkah buruknya tempat kembali orang-orang yang zhalim.” (Ali Imran: 151)

Kemudian Allah swt. menyebutkan peristiwa nyata untuk menjadi pengiring bagi dalil yang tegas itu.

“Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia bagi orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 152)

Ikhwan sekalian…

Demikianlah. Allah swt. memperingatkan orang-orang mukmin dengan Al-Qur’an, jangan sampai mereka mengikuti jalan orang-orang kafir atau tertipu oleh tipu muslihat dan trik-trik mereka.

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman.” (Ali Imran: 100)

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali Imran: 102-103)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 149)

Orang-orang kafir itu diciptakan dengan memiliki watak menipu dan memperdaya orang-orang beriman.

“Sebagian besar Ahli Kitab berkeinginan untuk mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena kedengkian (yang timbul) dari diri mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)

“Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kalian dan mereka sama.” (An-Nisa’: 89)

“Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti, dan mereka ingin supaya kalian menjadi kafir.” (Al-Mumtahanah: 2)

Ikhwan sekalian…

Jelas sekali bahwa dada mereka tidak akan terbebas dari keinginan ini, yaitu keinginan agar orang-orang beriman kembali menjadi kafir.

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian jika mereka mampu.” (Al-Baqarah: 217)

Ini merupakan ilustrasi yang tepat mengenai perasaan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman. Sekalipun demikian, orang-orang yang beriman didominasi oleh rasa toleransi, sehingga mereka melupakan peringatan ini.

“Beginilah kalian ini. Kalian mencintai mereka padahal mereka tidak mencintai kalian, dan kalian beriman kepada semua kitab. Jika berjumpa dengan kalian, mereka berkata, ‘Kami beriman.’ Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci kepada kalian. Katakanlah, ‘Mampuslah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kalian memperoleh kebaikan, mereka bersedih hati, tetapi jika kalian ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak membahayakan kalian sedikit pun. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan.” (Ali Imran: 119-120)

Meskipun ada peringatan semacam ini dan kitab Allah telah mengungkap keadaan jiwa mereka sedemikian rupa, namun setelah ini semua, kita tetap menjerumuskan diri kita ke jurang dan berjalan mengikuti orang-orang kafir. Bagaimana tidak, kita masih berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang kafir, padahal mereka menipu kita dengan segala sarana dan cara. Cahaya ini memang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir, namun mereka cukup bergembira bilamana berhasil menjauhkan kita darinya.

Bagaimanakah kondisi yang terjadi sekarang, wahai Ikhwan sekalian? Kondisi yang terjadi adalah, orang-orang kafir tidak percaya kepada cahaya ini, sedangkan orang-orang beriman tidak mengetahuinya.

Kondisi ini sungguh ironis. Kondisi yang membawa manusia kepada segala macam penderitaan. Karena itu, orang-orang yang telah mengambil petunjuk Al-Qur’an wajib menyelamatkan diri sendiri sekaligus orang lain.

Lantas apakah kewajiban kita sebagai orang yang telah beriman kepada Al-Qur’an?

Ikhwan sekalian…

Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an al-Karim ada empat:

1. Hendaklah kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah swt. ini. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an Al-Karim pasti bakal menuai kegagalan.

Misalnya, banyak orang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam, “tidak menggemukkan dan tidak pula sekadar menghilangkan lapar”. Sementara Al-Qur’an Al-Karim telah menggariskan aturan tentang zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antar sesama manusia. Dengan arahan semacam problema kemiskinan tentu dapat segera dipecahkan. Tanpa solusi ini, tidak mungkin terpecahkan. Selain model ini, solusi hanya ibarat pil penenang sementara.

Contoh lain adalah problem kesehatan. Ikhwan sekalian, kalian mendapati mereka ibarat orang yang membuka kran berdiameter tiga milimeter, sedangkan di bawahnya terdapat bak yang berdiameter tiga meter. Mereka membuat rumah-rumah sakit keliling dan klinik-klinik kesehatan, tetapi akar penyakit tidak diberantas. Misalnya, taraf hidup yang masih rendah. Padahal Islam menghendaki peningkatan taraf hidup dan pemberantasan berbagai kemungkaran.

Rasulullah saw bersabda:

“Tidaklah perilaku keji terlihat nyata di tengah-tengah suatu kaum, sehingga mereka sendiri memperlihatkannya, kecuali akan banyak penyakit menular menimpa mereka, yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka”.

Ikhwan sekalian….

Contoh lain misalnya pemberantasan kriminalitas. Apakah kita akan menjebloskan pencuri ke penjara agar ia mengasah keahliannya kepada dedengkot-dedengkot kriminalitas sehingga semakin lama masa tinggalnya di penjara, semakin tinggi pula keahliannya dalam melakukan tindak kriminal? Andaikata nash Al-Qur’an berikut ini diambil, “Atau diasingkan dari negeri (tempat kediamannya)”, niscaya hal ini akan memberi-kan banyak manfaat kepada negara.

Bagaimana pendapat Anda jika sistem ini diterapkan secara keseluruhan?

Ikhwan sekalian….

Solusinya hanya Islam.

Islam tidak menerima persekutuan. Karena itu, kita wajib percaya bahwa hanya Islam yang layak menyelamatkan umat ini dari setiap bencana yang menimpa dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Maka dari itu, kaum muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah swt. melalui Qur’an.

Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum Salaf, semoga Allah meridhai mereka. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur’an Al-Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu, sehingga Rasulullah saw. harus turun tangan untuk melarang mereka berlebihan di dalamnya. Setidaknya, Saudaraku, hendaklah kita membaca Al-Qur’an secara rutin, meskipun sedikit. Sunah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari.

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa membaca satu ayat dari Kitabullah, maka ia memperoleh sepuluh kebaikan untuk setiap huruf. Barangsiapa mendengarkannya, maka itu akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.”

Orang yang telah menghafalkan Al-Qur’an kemudian melupakannya, ia telah melakukan satu dosa besar. Karena itu, Ikhwan sekalian, Anda harus rajin membaca Al-Qur’an Al-Karim dan menetapkan bacaan rutin dari kitab Allah swt. untuk diri Anda. Hendaklah kalian tekun melaksanakannya, sebagai peneladanan terhadap para pendahulu umat ini, sebagai pelaksanaan perintah Allah swt. dan agar mendapatkan manfaat dari kandungan kitab-Nya.

3. Setelah itu, ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya dan ketika mendengarkan kita juga harus memperhatikan adab-adab mendengarnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya.

Rasulullah saw bersabda:

”Sesungguhnya Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis, jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis.”

Akhi, ini artinya adalah, bahwa jika hati Anda belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah Anda berusaha untuk menghayatinya. Janganlah setan memalingkan Anda dari keindahan perenungan sehingga Anda tidak mendapatinya. Tekunlah!

Andaikan dalam membaca Anda hanya dapat menggerakkan lidah, tetap bacalah! Hendaklah Anda menyediakan waktu untuk menghafal dan mengulang. Usahakan agar Anda benar-benar meresapi kandungan makna Al-Qur’an.
Banyak riwayat menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin Khathab ra. pergi berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca,

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi bukit Thur. Dan demi kitab yang ditulis. Pada lembaran yang terbuka. Dan demi Baitul Makmur. Dan demi atap yang ditinggikan (langit). Dan demi laut yang di dalam tanahnya ada api. Sesungguhnya siksa Tuhanmu pasti terjadi. Tidak ada yang dapat mencegahnya.” (At-Thur: 1-8)

Ketika mendengar bacaan ini, beliau berkata, “Inilah sumpah yang benar, demi Tuhan Pemilik Ka’bah.” Beliau lantas tersungkur pingsan. Beliau digendong oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari, dijenguk oleh masyarakat.

Akhi fillah….

Demikian halnya dengan Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika beliau datang ba’da isya’. Beliau lantas berwudhu dan berdiri melaksanakan shalat. Beliau membaca, “(Kepada malaikat diperintahkan) kumpulkanlah orang-orang zhalim dan teman sejawat mereka beserta apa yang selalu mereka sembah, selain Allah. Lantas tunjukkan kepada mereka jalan menuju neraka Jahim. Dan hentikan mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya.” (Ash-Shafat: 22-24) Beliau terus mengulang-ulang ayat, “Dan hentikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya,” sampai muadzin datang untuk mengumandangkan adzan subuh.

Demikianlah, Ikhwan sekalian, penghayatan mereka terhadap kitab Al-Qur’an Al-Karim.

Pada zaman Imam Syafii, jika mereka ingin meresapi kitab Allah di Mekah, mereka mengirimkan surat kepada beliau, agar beliau membacakan kitab Allah. Beliau tidak pernah terlihat menangis, seperti pada hari tersebut. Hendaklah kita juga membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang membuahkan. Jika Al-Qur’an ini dapat menyentuh hati orang-orang kafir, yang merupakan manusia paling jauh kemungkinannya untuk menghayati kitab Allah, maka bagaimana pula dengan kita?

Lihatlah Utbah bin Rabi’ah (seorang kafir), ketika mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah saw., ia berkata, “Sesungguhnya bacaan ini mengandung kelebatan dan keindahan. Atasnya membuahkan, bawahnya menyejukkan. Sungguh, ini bukan perkataan manusia. “

Begitu pula yang terjadi pada Najasyi dan kaumnya ketika mendengar Ja’far bin Abu Thalib membaca Al-Qur’an. Sekonyong-konyong mata mereka dialiri oleh air mata.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang beriman? Seharusnya, ketika orang-orang beriman membaca kitab Allah swt. adalah sebagaimana yang difirmankan-Nya,

“Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, yaitu Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang pada waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.” (Az-Zumar: 23)

4. Akhi, setelah kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah satusatunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya.

Hukum-hukum Al-Qur’an Al-Karim menurut yang saya ketahui, terbagi menjadi dua:

a. Hukum-hukum individu yang berkaitan dengan masing-masing orang, seperti shalat, puasa, zakat, haji, tobat, serta akhlaq, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian, dan amanah. Ini semua, wahai Saudaraku, merupakan hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia secara umum. Setiap orang dapat melaksanakannya sendiri. Ketika Anda membaca Al-Qur’an, Anda harus mematuhi hukum-hukum dan batasan-batasannya. Barangsiapa yang belum pernah shalat, kemudian membaca firman Allah swt., “Dan dirikanlah shalat,” (An-Nur: 56) maka ia harus melaksanakan shalat.

Dan ketika membaca, “Dan jangan-lah kamu mengurangi takaran dan timbangan manusia,” (Al-A’raf: 85) maka Anda harus memenuhi hak setiap orang. Seharusnya Anda tidak perlu menunggu orang lain untuk melaksanakan hal ini. Sesuatu yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.

b. Kedua adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat, atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. Ini semua merupakan kewajiban negara, misalnya menegakkan hudud (sanksi hukum), jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tidak melaksanakan-nya, ia bertanggung jawab di hadapan Allah swt.

Kewajiban rakyat dalam keadaan demikian adalah menuntut pelaksanaannya. Sesungguhnya Islam tidak membebaskan umat dari tanggung jawab.

Sekarang, bagaimana umat dapat mewujudkan hal ini? Hendaklah umat bersatu padu. Hendaklah umat menyatukan kata, menuntut, dan terus menuntut. Hendaklah umat menggunakan segala cara untuk menyampaikan tuntutan ini, khususnya jika sistem kenegaraan yang berlaku seperti sistem kenegaraan di Mesir.

Jika demikian, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak menyatakan hal ini dengan terus terang. Umat tidak dapat dilepaskan dari kewajiban mengawasi negara.

Ikhwan sekalian…

Hendaklah kita menyatukan barisan dan menyatukan kata, sehingga kita menjadi kuat, diperhitungkan, dan mempunyai suara agar negara dapat memandang kenyataan yang ada. Dengan demikian, cepat atau lambat kita akan sampai kepada tujuan, insya Allah.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada junjungan kita, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Hasan Al-Banna

http://www.al-ikhwan.net/al-qur%E2%80%99an-menurut-hasan-al-banna-2-kewajiban-kita-terhadap-al-al-quran-2918/

===============================================

Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.

« pada: Juni 29, 2008, 09:57:03 pm »

Pertama, kita mengimaninya.

Saudaraku…, sudahkah kita mengimani Al-Qur’an sebagai satu-satunya wahyu yang bersumber langsung dari Allah.swt..? dan diturunkan kepada Nabi Muhammad.saw sebagai rahmat semesta alam dan pegangan hidup semua makhluk dimuka bumi ini..?

Kedua, kita membacanya.

Saudaraku.., sudahkah kita membaca Al-Qur’an dalam setiap hari-hari kita..? Jika ya, Alhamdulillah semoga kita semua bisa istiqomah dalam kebaikan ini, jika belum, mari jangan tunda-tunda lagi, mulai dari hal yang terkecil, satu ayat satu hari sudah lumayan..

Ketiga, kita memahaminya.
Saudaraku.., sudahkah kita berusaha memahami apa yang sudah kita baca dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut..? Sungguh begitu nikmatnya apabila kita memahami ayat-ayat Allah.swt, karena didalamnya terkandung peringatan dan kabar gembira yang dijanjikan.

Keempat, kita mengamalkannya.

Saudaraku.., sudahkah kita mengamalkan setiap ayat-ayat Al-Qur’an yang telah kita baca dan dengar tersebut..? Jika belum, mari kita amalkan dari hal-hal yang terkecil, dan semoga kita tidak termasuk kaum yang membangkang, sudah tau tapi merasa tidak mengetahui.

Kelima, kita mengajarkannya.

Saudaraku.., sebaik-baik dari kita adalah; orang yang mempelajari Al-Qur’an dan juga mengajarkannya.., maka sudahkahkah kita mengajarkannya [menyampaikan, memberitahu dan menjelaskannya] kepada saudara-saudara kita yang lain..? Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat..!

By: http://www.al-reza.co.nr
http://forum.dudung.net/index.php?topic=11352.0

=================================================

Saturday, 6 October 2007
Al Quran Sebagai Hudal lil Muttaqin.
Topic: KHUTBAH JUMAT

disampaikan di Masjid Nurul Ilmi, SMAN 113 Jakarta

Oleh Drs. Imam Prasaja, M.Si

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pertama-tama marilah kita senantiasa memuji dan bersyukur ke Hadlirat Allah SWT, yang telah memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam, atas rakhmat dan karuniaNya kita diberikan kesehatan dan kekuatan untuk melaksanakan sholat jumat di Masjid Nurul Iman ini. Setelah selama satu bulan kita melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang merupakan bulan pembinaan untuk berbuat amal ibadah, maka pada tahap selanjutnya marilah kita realisasikan pembinaan tersebut dengan amal ibadah sehari-hari kita setelah Ramadhan. Marilah kita melanjutkan tradisi seperti pada bulan Ramadhan yakni melakukan tadarus dan pengkajian Al Quran, melakukan sholat berjamaah di musholla atau masjid, mengkaji agama Islam baik melalui studi kepustakaan atau dengan mengikuti pengajian di masjis taklim, dan sebagainya.

Solawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Jungjunan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, kepada para tabiin serta kepada seluruh pengikutnya yang istiqomah, setia menjalankan ajaran Dienul islam sampai akhir jaman, semoga kita semua termasuk di dalamnya. Amin.

Hadirin, jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Dalam kesempatan ini khatib mengajak, khususnya kepada diri khatib sendiri dan kepada seluruh jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah SWT, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Yakni melaksanakan segala perintah Allah serta menjauhi segala laranganNya. Selanjutnya, perkenankanlah khatib menyampaikan materi khutbah jumat kali ini yang diberi judul : Al Quran sebagai Hudallilmuttaqin, Al Quran sebagai Petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Allah SWT berfirman di dalam QS Al Baqoroh (2) ayat : 2

“ Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan di dalmnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Pada ayat lainnya Allah SWT berfirman di dalam QS Al Baqoroh (2) ayat : 185

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil) ”

Dari kedua ayat tersebut jelas bahwa fungsi Al Quran adalah sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia, khususnya bagi manusia yang bertakwa, bayyinah (penjelasan-penjelasan) mengenai petunjuk tentang jalan yang lurus, yakni tentang ajaran dienul Islam. dan sebagai Furqon (pembeda) mana jalan yang hak (benar) dan mana jalan yang batil (salah).

Jamaah sholat Jumat rohimakumullah,

Mengingat fungsi Al quran sebagai hudan (petunjuk), bayyinah(penjelas) dan furqon(pembeda), maka kewajiban kita terhadap Al Quran adalah sebagai berikut :

1. Meyakini kebenaran isinya

2. Mempelajari cara membacanya dan senantiasa membacanya.

3. Mempelajari isinya (artinya) dan menjadikannya sebagai petunjuk

4. Mengamalkannya

Jamah Sholat Jumat Yang terhormat,

Kewajiban kita terhadap Al Quran yang pertama adalah meyakini kebenaran isinya, meyakini bahwa al Quran itu adalah dari Alloh SWT. Al Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada manusia terbaik, nabi dan rasul termulia yaitu Muhammad SAW, sebagaimana Allah SWT menurunkan Kitab-kitab lain kepada rasul-rasul sebelumnya. Seorang muslim harus mengimani keseluruhan ayat al Quran, tidak boleh mengimani sebagian ayat dan tidak mengimani sebagian ayat yang lain.

Selain berisi perintah melakukan ibadah ritual seperti sholat, zakat, puasa haji dan sebagainya, sesuai dengan fungsinya sebagai petunjuk, maka isi al Quran meliputi segala aspek kehidupan manusia, Al Quran berisi tentang idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam (ipoleksosbudhankam) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Al Quran merupakan mukjijat abadi. Jika pada jaman dahulu, abad 7 M, banyak orang tertarik pada Quran karena bahasa dan sastranya. Sekarang pada abad 21, abad iptek/sains dan teknologi, Al-Quran memberikan bukti-bukti ilmiah yang dikandungnya. Banyak sekali ayat-ayat yang berisi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi di sini akan dikemukakan salah satu ayat saja yakni QS Yasin (36) : 38 .

“Dan matahari itu beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang maha Kuasa lagi maha Mengetahui.”

Pada mula-mula para ahli ilmu falak (ilmu astronomi) menetapkan bahwa matahari tetap, tidak berjalan (beredar) dan hanya bumilah yang beredar (berevolusi) mengelilingi matahari. Tetapi hasil penemuan sains terkini menyatakan bahwa matahari bersama keluarganya (tata surya) bergerak terhadap pusat galaksi yakni pusat galaksi milky way (Bima sakti) / ke arah konstelasi Lyra dengan kecepatan gerak 125 km/detik sambil berotasi terhadap sumbunya dengan periode 25 hari . Dari ayat ini kita melihat bagaimana mungkin penemuan sains pada abad 20 dan 21 ini telah diketahui oleh seseorang yang hidup pada 14 abad yang lampau yakni abad ke 7, dimana pengetahuan tentang ilmu falak saat itu masih belum maju dan teknologi teleskop modern belum ada. Ini membuktikan bahwa Al Quran itu bukan dari manusia, melainkan datangnya dari Allah SWT, sedangkan Muhammad SAW adalah sebagai rasulullah yang menerima alQuran dan bertugas menyampaikan Al Quran tersebut kepada manusia.

Jamaah sholat Jumat yang berbahagia,

Kewajiban kita terhadap Al Quran yang kedua adalah Mempelajari cara membacanya dan senantiasa membacanya. Membaca Al Quran walaupun karena keterbatasan kita, kita tidak tahu isinya atau artinya, menurut sebagian besar ulama adalah tetap bernilai ibadah.

Banyak hadis yang menjelaskan keutamaan belajar dan membaca Al Quran diantaranya adalah sebagai berikut :

“Rasulullah bersabda : Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya” (HR Bukhari). Fadhail amal, alQuran hal 9.

Pada hadits lain Rasulullah bersabda :

“ Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu (pahala) sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR Turmudzi).

Pada hadits lainya Rasulullah bersabda :

“Orang yang mahir dalam membaca Al Quran kelak akan mendapat tempat di syurga bersama-sama dengan rasul yang mulia lagi baik. Dan orang yang tidak mahir dalam membaca Al Quran, terbata-bata dalam membacanya dan tampak agak berat lidahnya (atau belum lancar) maka baginya pahala dua kali. (HR Bukhari Muslim). Sebagian ulama menafsirkan bahwa orang yang terbata-bata membaca Al Quran akan memperoleh 2 pahala yakni satu pahala karena membacanya dan satu pahala lagi karena kesungguhannya membaca Al Quran. Namun, bukan berarti pahalanya akan melebihi orang yang mahir dalam membaca AlQuran. Orang yang mahir membaca AlQuran sudah pasti akan memperoleh derajat istimewa.yang sangat tinggi. Maksud sebenarnya dari hadis ini adalah bahwa dengan bersusah payah mempelajari al quran akan memperoleh pahala ganda. Oleh karena itu tidak sepatutnya bagi kita meninggalkan bacaan al quran walaupun sulit.

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kewajiban kita terhadap Al Quran yang ketiga adalah mempelajari isinya (artinya) dan menjadikannya sebagai petunjuk.

Bagi kebanyakan kita yang tidak bisa berbahasa Arab, salah satu cara dalam upaya mempelajari isinya (artinya) adalah dengan membaca Al Quran dan terjemahnya, atau lebih bagus lagi Al quran, terjemah dan tafsirnya. Insya Allah dengan membaca terjemah atau tafsirnya secara kontinu, dan menanyakan maksud terjemah/tafsir ayat yang masih belum jelas kepada guru agama atau ulama, kita akan dapat menjadikan al quran sebagai petunjuk.

Jamaah sholat jumat rohimakumullah

Kewajiban kita terhadap Al Quran yang ke-empat adalah mengamalkannya.

Jika kita menjadikan al Quran sebagai petunjuk, maka insya Allah kita akan dapat mengamalkan al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Rasulullah bersabda : Barangsiapa membaca Al Quran, menghapalnya, menghalalkan apa yang dihalalkan al quran dan mengharamkan apa yang diharamkan al quran, maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga. (HR Ahmad).

Maksud dari menghalalkan apa yang dihalalkan al quran dan mengharamkan apa yang diharamkan al quran, ialah hati, ucapan dan perbuatannya tidak bertentangan dengan Al Quran, ia tidak mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh al quran dan sebaliknya ia tidak menghalalkan sesuatu yang diharamkan alQuran. Ia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh al quran, serta menjauhi segala yang dilarang oleh al quran. Jadi orang yang melaksanakan atau mengamalkan al Quran akan dimasukkan oleh Allah ke dalam syurga.

Jamaah Sholat jumat yang dimuliakan allah SWT,

Demikianlah khutbah Jumat kali ini, semoga kita dapat melaksanakan kewajiban kita terhadap al quran yaitu :

1. Meyakini kebenaran isinya

2. Mempelajari cara membacanya dan senantiasa membacanya.

3. Mempelajari isinya (artinya) dan menjadikannya sebagai petunjuk

4. Mengamalkannya

Insya Allah dengan melaksanakan keempat hal tersebut kita menjadi golongan orang-orang yang diberi petunjuk. Sebaliknya menganggap enteng, berpaling dari kewajiban kita terhadap al quran, akan mendapat ancaman Allah dengan penghidupan yang sempit serta siksa yang pedih. Sebagaimana disebutkan dalam QS Thoha ayat 123-124.

“ Maka barangsiapa mengikuti petunjukKU ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan aku akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Di dalam QS Ar-Radu ayat 37, Allah berfirman :

“Dan demikianlah, Aku telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.”

http://imamprasaja.tripod.com/blog/index.blog/1751351/al-quran-sebagai-hudal-lil-muttaqin/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: