Jaringan Islam Liberal ( JIL ) : Menjual Islam Demi Dolar

JIL : Menjual Islam Demi Dolar

MENJUAL ISLAM DEMI DOLAR

Wawancara Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo, MA , Pakar Perbandingan Mazhab Hukum Islam dengan Sabili

.

Adalah Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo yang lantang mengemukakan hal ini. Peraih gelar doktor bidang fiqih dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini, tanpa beban, menyatakan ada kepentingan materi di balik munculnya berbagai paham liberal di masyarakat. Demi dolar, itu kata-kata yang tepat untuk sebuah paham yang mengusung liberalisme.

Setelah laporan dari wartawan-wartawan Sabili yang ditugasi mewawancarai sejumlah narasumber terkait paham liberal, masuk ke meja redaksi. Sejumlah fakta dan data dari nara sumber terkait soal dana menjadi jawaban kenapa para pengusung paham liberal acap kali melontarkan pemikiran-pemikiran nyeleneh.

Menurut penerima penghargaan atas prestasi kepemimpinan dan manajemen peningkatan peranan wanita dari menteri negara peranan wanita RI tahun 1999 ini, tangan-tangan asing menyokong para pengusung paham liberal itu di Indonesia untuk kepentingan mereka.

Berdasar pengamatan mantan anggota komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, selama ini di lapangan, dukungan pihak asing tersebut dilakukan melalui berbagai proyek, seperti pengadaan buku-buku, seminar, lokakarya dan penelitian-penelitian, terutama yang mengusung pemikiran liberal. “Kalau tidak dari bantuan asing, darimana mereka mencetak buku-buku karyanya,” tandas ibu satu putra yang bernama Syarif Hidayatullah ini.

Lain Prof Huzaemah, lain pula Ketua KISDI Adian Husaini. Cendekiawan Muslim yang baru saja meraih gelar doktor di salah satu universitas di Malaysia ini mengakui, umat Islam kadang terlambat merespon munculnya paham liberal karena kaum Muslimin menganggap pemikiran dan kajian ilmiah tidak lebih penting dari politik, ekonomi dan lainnya.

“Politik, ekonomi dan lainnya penting, tapi ilmu lebih penting sebab ilmu adalah landasan tegaknya iman. Jika ilmu rusak, akan lahir ulama rusak yang lebih bahaya daripada orang kafir yang rusak,” tandasnya.

Soal menjamurnya paham liberal, Adian mempunyai pandangan sendiri. Menurut Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, paham bebas yang cenderung kebablasan ini akan terus muncul sepanjang masa, sebab ada pihak-pihak yang menjadi produsen, distributor, pengecer dan pengasongnya. Khusus di Indonesia, paham liberal ini mulai hidup sejak tiga puluh tahun lalu. Kalau saat ini paham liberal marak, sangat dapat dimaklumi sebab mereka sedang menuai hasilnya. “Para pendukung pemikiran nyeleneh ini bisa saja dari perorangan, lembaga, bahkan negara,” tandas pengamat politik Islam yang menjadi salah seorang garda terdepan dalam membantah pemikiran-pemikiran liberal ini.

Pendapat dua orang cendekiawan Muslim di atas bisa jadi mewakili sebagian pandangan umat Islam Indonesia. Perihal kepentingan uang di balik munculnya pemikiran-pemikiran liberal di Indonesia, dapat dicocokkan dengan sejumlah fakta di lapangan.

Pada kata pengantar Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI) misalnya, secara gamblang, Tim Pengarusutamaan Gender (TPG) Pimpinan Musdah Mulia mengucapkan terima kasih pada The Asia Foundation (TAF), sebuah LSM internasional yang acap kali memberikan bantuan dana kepada para NGO lokal. Menurut sejumlah kalangan, sudah barang tentu ucapan terima kasih TPG kepada TAF itu bukan sekadar basa-basi, namun benar-benar ada maksudnya.

Hal ini diperkuat oleh pendapat salah seorang pejabat Departemen Agama yang tidak mau disebutkan namanya. Kepada SABILI, pejabat ini menyatakan, untuk mengegolkan CLD KHI, The Asia Foundation mengucurkan dana sebanyak enam miliar rupiah. Dana sebesar itu digunakan untuk melakukan penelitian lapangan ke sejumlah daerah. “Dana itu tidak ada yang gratisan,” tandas sumber SABILI itu.

Soal kucuran dana pihak asing tersebut juga diakui sendiri oleh Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla. Saat diwawancarai Majalah Hidayatullah Desember 2004 lalu, Ketua Lakpesdam NU ini mengaku dapat kucuran dana sebesar 1,4 miliar rupiah per tahun dari TAF untuk tujuan mendorong politik sekular di Indonesia.

Sayangnya SABILI tidak memperoleh tanggapan soal ini dari Ulil. Saat SABILI mengonfirmasi soal kebenaran dana di atas, pentolan kelompok JIL ini menolak diwawancara. Bahkan saat wartawan SABILI meminta waktu untuk wawancara, Ulil malah menjawab “Saya tidak bersedia diwawancarai SABILI”. Ketika SABILI balik bertanya kenapa ia tidak bersedia diwawancarai, Ulil balik menjawab serupa, “Begini, saya nggak mau diwawancarai SABILI.” Setelah Ulil menjawab itu, telepon pun terputus. Setelah itu, Ulil tidak pernah menjawab meski sekali pun telepon dan sms dari SABILI.

Seorang profesor hukum yang tidak bersedia namanya disebut memaparkan pengalamannya. Saat diundang anggota DPD memberikan masukan soal hukum Islam di DPR beberapa waktu lalu, ia merasakan adanya kepentingan asing di balik paham liberal. Menurut ceritanya, saat kasus revisi Kompilasi Hukum Islam (KHI) mencuat ke permukaan, sejumlah orang dari LSM asing tertentu mendatangi kediamannya. Mereka meminta sang profesor menulis pembaruan KHI dengan imbalan puluhan juta rupiah.

Namun dengan nada halus, sang profesor menolaknya. Tak berhenti sampai di situ. Besoknya, mereka kembali mendatangi sang profesor dan memintanya kembali menulis pembaruan KHI. Tentu saja mereka menyediakan imbalan yang lebih besar lagi. Namun profesor itu kembali menolaknya. Padahal, mereka sudah menyediakan sebuah secarik kertas sebagai kontrak penulisan. “Saya menolaknya karena mencium ada kepentingan tidak baik dalam kontrak tersebut,” katanya.

Kepada SABILI, pria yang pernah menikahkan pasangan beda agama Dedi Corbuzier dan Karlina ini menolak bila disebut sebagai anggota JIL pimpinan Ulil Abshar Abdalla. Saat diwawancarai SABILI, ia berkali-kali menolak disebut aktivis JIL. “Saya harus tegaskan dulu bahwa saya bukan aktivis JIL, tapi kalau saya diminta mengisi oleh JIL, sesuai latar belakang, saya akan mengisi,” kata Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini.

Zainun juga menolak dianggap sektarian. Sebagai seorang akademisi, ia mengaku bisa saja berada di mana-mana, baik di DDII, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan lainnya. Bahkan jika para aktivis Ahmadiyah atau Syiah mengundangnya, ia bersedia menghadirinya. “Bukan berarti saya masuk kelompok mereka,” katanya.

Untuk menangkal serangan kelompok liberal tersebut, Adian Husaini mengatakan, yang menjadi prioritas utama adalah melahirkan sebanyak-banyaknya cendekiawan Muslim yang mampu menjawab tantangan pemikiran tersebut, mampu memahami Islam dengan baik dan memahami pemikiran Barat, Kristen, Yahudi dan pemikiran sesat lainnya.

Adian mengutip kisah Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Umar menangis bahagia saat seseorang mengritiknya. Adian belum melihat budaya kritik mengritik ini tumbuh di internal umat Islam. Kritik kepada seseorang, menurutnya, masih dinilai sama dengan menjatuhkan. “Ini yang tidak benar. Tradisi kritik ini sulit berkembang jika budaya ilmu tidak berkembang,” tegasnya.

Adian boleh jadi benar. Kehancuran Islam bukan disebabkan kuatnya musuh-musuh Islam, tapi lebih disebabkan lemahnya ketahanan internal umat Islam sendiri. Jika umat Islam kokoh, serangan sedahsyat apapun yang datang dari musuh-musuh Islam, tidak akan mudah menjungkirbalikkan posisi umat. Jadi, sudah semestinya, umat Islam terus membentengi diri dengan akidah dan pemahaman Islam yang benar. (Sabili)

http://www.muslimdaily.net/artikel/islam/1434/jil-menjual-islam-demi-dolar

======================================

Ulil Abshar: “1,4 milyar Itu Kecil”

Gemerincing dollar di balik program Liberalisasi Islam di Indonesia sering hanya menjadi gosip. Tapi, tokoh JIL, Ulil Abshar Abdala mengaku jujur pada Hidayatullah tentang isu itu

Ulil Abshar Abdalla (Koordinator Jaringan Islam Liberal)

Benarkah JIL didanai oleh The Asia Foundation? Benar, berapa jumlahnya?

Setiap tahun kami mendapat sekitar Rp 1,4 milyar. Selain itu, JIL juga mendapatkan dana dari sumber-sumber domestik, Eropa, dan Amerika. Tapi yang paling besar dari TAF. Tapi dana itu jauh lebih kecil daripada dana yang diperoleh ormas-ormas Islam lainnya.

Ormas mana?

Selain kami ada juga ormas Islam yang menerima dana dari TAF program Islam and Civil Society. Mereka itu adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Solo, dan Departemen Agama. Dana yang diterima JIL jauh lebih kecil daripada mereka.

Ormas-ormas tersebut dipandang menggulirkan isu yang sejalan dengan JIL?

Tidak juga, justru bermacam-macam. Ada isu toleransi, kesetaraan gender, demokrasi, dan pluralisme.

TAF menjalin kerjasama dengan Yahudi dan CIA. Berarti JIL sesungguhnya menjalankan agenda mereka?

Ini cara berpikir orang yang dibingkai dalam kerangka berpikir teori konspirasi. Seolah ada agenda besar yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Perlu Anda tahu bahwa orang-orang kaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi, punya tradisi yang sama, yaitu menyumbangkan sebagian kekayaannya kepada kegiatan sosial. Mereka akan dibebaskan dari pajak dan memperoleh reputasi lebih tinggi karena telah berbuat baik untuk masyarakat. Hal ini sangat menakjubkan dibanding dunia Islam.

Apa yang dilakukan TAF dan Yahudinya itu tidak akan bermasalah?

Saya tidak keberatan mendapatkan dana dari Yahudi atau CIA. Memangnya kenapa? Sepanjang mereka tidak mempengaruhi kebijakan internal organisasi saya dan selama saya tidak diintervensi, tak masalah buat saya.

Tetapi tentu saja mereka tidak akan memberi bantuan secara cuma-cuma kan?

Sudah tentu mereka akan mendanai kegiatan-kegiatan yang punya satu visi dengan mereka. Tidak mungkin mereka mendanai kegiatan organisasi yang bersifat fanatisme agama. Kami, seperti JIL, NU, IAIN, Muhamammadiyah, juga tidak mungkin mencetak buku-buku Wahabi walau diiming-imingi oleh, misalnya, Arab Saudi.

Kami punya ideologi tertentu, dan kami tidak bisa menerima uang dari orang yang tidak seideologi dengan kami. Kalau Pemerintah Arab Saudi akan membiayai kegiatan JIL, fine (baik). Tapi kalau mereka menyuruh saya untuk mengadakan kegiatan yang anti Islam liberal, anti Islam progresif, menyebarkan Islam yang konservatif, ya saya tidak mau.

Pendapat Anda seringkali kontroversial dan berbeda dengan para ulama. Kenapa begitu?

Kontroversi itu bukan tujuan saya. Kontroversi itu akibat yang tak terelakkan. Saya mengemukakan pendapat tentang Islam yang berbeda dengan orang banyak. Otomatis, kalau pendapat Anda berbeda dan perbedaan itu sangat prinsip, yaitu agama, maka sudah tentu akan menimbulkan kontroversi. Jadi, kontroversi itu akibat, bukan sebab.

Secara jujur saya katakan, pandangan-pandangan saya itulah iman saya tentang Islam. Saya merasa tenteram dengan pemahaman saya itu.

Kalau boleh tahu, bagaimana dengan kehidupan keagamaan Anda sehari-hari?

Soal shalat, saya tetap shalat dengan cara seperti orang Islam yang lain. Soal puasa, saya tetap puasa seperti orang Islam lain. Karena bagi saya, soal ritual itu sudah selesai. Itu saya anggap bagian dari agama yang tidak perlu dipersoalkan. Saya merumuskan pandangangan yang liberal berkaitan dengan hal-hal di luar ritual. Pandangan tentang nikah beda agama, bagi saya, itu bukan ritual.

Anda setuju dengan pernikahan beda agama. Bagaimana jika suatu saat pernikahan beda agama itu terjadi pada anak Anda?

Saya harus menanggung, karena itu pandangan saya. Meskipun berat. Jadi, kalau saya ditantang seperti itu, secara rasional saya akan menyatakan boleh. Tetapi secara hati saya tidak mau munafik, saya mengatakan berat. Tetapi itu manusiawi.

Ada beberapa lembaga yang punya visi yang sama dengan JIL, seperti Majalah Syir’ah, ICRP, Radio 68H, dan lainnya. Ada hubungan apa?

Mereka teman seperjuangan kami. Dalam LSM itu ada yang disebut culture network (budaya jaringan). Jaringan ini bukan hanya di Indonesia, tapi global. Kami punya teman-teman di luar negeri yang punya visi yang sama, dan kami saling share (berbagi).* (Ahmad Damanik/Hidayatullah)

Baca lengkapnya di rubrik khusus majalah Hidayatullah terbaru, edisi Desember 2004, tentang “Benang Merah CIA, The Asia Foundation dan JIL(Jaringan Islam Liberal).

Baca juga wawancara panjang dengan ahli fiqh wanita ternama Indonesia, Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo. “Poligami Tidak Masalah…., “katanya.

Sejarah: “Kisah Teladan Shalahuddin al-Ayyubi saat Perang Salib”.

Juga “Saksi Penghianatan Bung Karno di Kota Amungtai”

Jangan lewatkan, keburu habis. Dapatkan di toko buku terdekat, atau di agen-agen majalah Hidayatullah

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1499:ulil-abshar-q14-milyar-itu-kecilq&catid=71:wawancara&Itemid=73

2 Responses to “Jaringan Islam Liberal ( JIL ) : Menjual Islam Demi Dolar”

  1. Salim Says:

    melihat dari tingkat edukasi mereka2 tokoh JIL,sebetulnya mereka bukan berbuat demi dollar,tetapi dengan kesadaran untuk menghapus islam secara bertahap yg memang sudah mereka rencanakan,sedangkan dollar hanya sarana pendukung saja,walau tanpa dollar pun,mereka akan menggunakan dollar pribadi mereka untuk misi2 mereka,yg kemungkinan besar ada kaitannya dengan gerakan FREMASONRY

  2. dafit Says:

    Apa boleh buat.., harta, tahta, dan wanita sangat menggoda untuk umat Islam, termasuk saya, Jil, dan yang lainnya. akan tetapi, saya kira umat Islam di indonesia dapat berlaku bijaksana dalam memberi penilaian terhadap pemikiran JIL.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: