Penerapan Syariat Islam Berdampak Positif

Penerapan Syariat Islam Berdampak Positif

JAKARTA — Penerapan syariat Islam di Aceh berdampak positif bagi kehidupan masyarakat di sana. Menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Huzaimah T Yanggo, penerapan syariat Islam ini telah berhasil mengurangi perilaku tak baik yang ada di tengah masyarakat Aceh. Dulu, kata Huzaimah, orang-orang yang minum minuman keras maupun bermain judi terlihat di jalan-jalan. ”Namun, sejak diberlakukannya syariat Islam, hal itu tak terlihat lagi. Ini artinya, penerapan syariat Islam di Aceh memberikan dampak positif,” katanya kepada Republika, Ahad (27/9). Huzaimah mengatakan, berdasarkan informasi yang didapatkan dari sejumlah tokoh Aceh saat berkunjung ke sana, melalui penerapan syariat Islam, seperti melakukan enam cambukan bagi mereka yang kedapatan minum minuman keras atau bermain judi, membuat para pelakunya menjadi jera dan tak melakukan hal itu lagi. Menurut Huzaimah, itu baru…

http://www.republika.co.id/koran/14/78536/Penerapan_Syariat_Islam_Berdampak_Positif

=================================================

Penerapan Syariat Islam di Aceh Berdampak Positif Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini
KESRA– 29 SEPTEMBER: Penerapan syariat Islam di Aceh berdampak positif bagi kehidupan masyarakat di sana, kata Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Huzaimah T Yanggo,

Penerapan syariat Islam ini telah berhasil mengurangi perilaku tak baik yang ada di tengah masyarakat Aceh. Dulu, orang-orang yang minum minuman keras maupun bermain judi terlihat di jalan-jalan.

”Namun, sejak diberlakukannya syariat Islam, hal itu tak terlihat lagi. Ini artinya, penerapan syariat Islam di Aceh memberikan dampak positif,” katanya kepada Republika, Ahad (27/9).

Huzaimah mengatakan, berdasarkan informasi yang didapatkan dari sejumlah tokoh Aceh saat berkunjung ke sana, melalui penerapan syariat Islam, seperti melakukan enam cambukan bagi mereka yang kedapatan minum minuman keras atau bermain judi, membuat para pelakunya menjadi jera dan tak melakukan hal itu lagi.

Menurut Huzaimah, itu baru enam kali cambukan. Padahal, menurut fikih, hukuman bagi penjudi dan peminum itu bisa sampai 40 kali cambukan. Ia optimistis, jika penerapan syariat Islam benar-benar dilakukan secara baik, kehidupan masyarakat Aceh akan lebih baik lagi.

”Sebab, sesungguhnya tujuan penerapan syariat Islam itu memang untuk meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan pribadi, keluarga, maupun masyarakat,” kata Huzaimah.

Ia juga mempertanyakan landasan yang dilakukan negara-negara Barat yang selama ini memandang negatif terhadap penerapan syariat Islam.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin, menyatakan sah-sah saja Aceh menerapkan syariat Islam karena memang Aceh memiliki Undang-Undang Otonomi Daerah Khusus yang diperkenankan menerapkan syariat Islam.

”Insya Allah, tidak ada masalah baik buat masyarakat Aceh maupun bangsa Indonesia,” katanya.

Sedangkan Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Ahmad Satori Ismail, mengatakan bila suatu umat atau bangsa ingin mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi serta rezeki yang melimpah, sudah seharusnya mereka mematuhi perintah Allah SWT sebagai pemilik langit dan bumi.

Oleh karena itu, bila masyarakat dan Pemerintah Aceh menerapkan syariat Islam dengan cara yang bijak, jujur, penuh kelembutan, dan langkah-langkah yang baik, kata Satori, insya Allah mereka akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. ”Hal terpenting, jangan sampai salah niat,” katanya.

Penerapan syariat Islam, jelas Satori, harus benar-benar niatnya karena Allah SWT, bukan karena ingin kekuasaan dan kepentingan duniawi. Ia mengakui, untuk mampu menerapkan syariat Islam bukanlah perkara mudah. Banyak ujian dan ganjalan dari berbagai pihak, salah satunya masyarakat Barat. (roh)

Mereka, jelas Satori, memang tidak suka bila suatu umat atau suatu bangsa melaksanakan perintah Allah dengan baik. Upaya menjegal apa yang mereka lakukan tidak perlu ditanggapi serius. Namun, ia juga mengingatkan, penerapan syariat Islam harus dilakukan secara bertahap agar bisa diterima semua pihak.

Ini artinya, penerapan syariat Islam tak dilakukan secara kaku, bukan asal potong tangan misalnya. Langkah awal, masyarakat terlebih dahulu harus akidah atau tauhidnya kemudian ibadahnya, seperti shalat dan hukum-hukum Islam yang lainnya serta kesejahteraan hidupnya. Dengan demikian, mereka bisa menerima penerapan syariat Islam dengan baik.

Satori mencontohkan pada masa paceklik, Khalifah Umar bin Khathab tidak memberlakukan hukum potong tangan pada seorang pelaku pencurian. Sebab, ternyata alasan pencurian itu bukan untuk memperkaya diri, tetapi karena kebutuhan mendesak. ”Ini sudah ada contohnya, penerapan syariat tidak kaku.” dam/taq

http://www.menkokesra.go.id/content/view/12789/39/

=================================================

Ahad, 25 Maret 2007
Konsep Syariat Islam tidak Tiru Negara Lain
BANDA ACEH-Konsep pelaksanaan syariat Islam di Aceh tidak meniru negara muslim lainnya. Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Prof Dr Alyasa’ Abubakar mengatakan, konsep syariat Islam di Aceh lebih bersifat alamiah berdasarkan aspek sosiologis dan historis masyarakat Bumi Serambi Makkah.

“Syariat Islam yang sudah berjalan saat ini tidak mencontoh negara lain,” kata Alyasa’ kepada wartawan di Banda Aceh, kemarin. Dia menyebutkan, dalam hal berbusana, tidak menerapkan sebuah ketentuan baku dan juga tidak meniru model busana dipakai muslim di negara lain.

“Jadi kita tidak bisa meniru penerapan syariat Islam ini dari luar. Syariat Islam di Aceh merupakan ruh dan tuntutan aspek sosiologis dan historis masyarakat,” jelas guru besar pada program pascasarjana IAIN Ar-Raniry itu.

Alyasa’ menyebutkan, hingga kini pemerintah Aceh telah menerapkan tiga qanun syariat Islam. Sejak pemberlakuannya, dirasakan dampak positif dalam masyarakat. Kendati masih ada tudingan sejumlah kalangan yang menilai pelaksanaan syariat Islam belum optimal.

Salah satu dampak positif tersebut antara lain, menurunnya pelanggaran. Terutama setelah dilakukan hukuman cambuk pertama di Aceh kepada para penjudi di Kabupaten Bireuen tahun 2005. Dulunya toke judi bergairah datang ke Aceh sekarang sudah berkurang,” kata dia.

Di lain sisi, kata Alyasa’, pemberlakuan syariat Islam secara tidak terduga telah berdampak pada perubahan sistem hukum tata negara Indonesia. Terutama setelah Aceh resmi menerapkan UU No 11/2006 tentang pemerintahan Aceh.

Dalam UU itu disebutkan pelaksanaan syariat Islam diatur dengan qanun. Dan qanun tidak tunduk pada peraturan perundang-undangan. “Ini tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia,” ungkapnya.(ans

http://rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=1877&tit=Berita%20Utama%20-%20Konsep%20Syariat%20Islam%20tidak%20Tiru%20Negara%20Lain

One Response to “Penerapan Syariat Islam Berdampak Positif”

  1. ismalia Says:

    alhamdulilah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: