Aipac, Pintu Masuk Israel ke AS

Aipac, Pintu Masuk Israel ke AS

COMES: -Tampaknya AIPAC (The American Israel Public Affairs Committee/ komisi hubungan AS-Israel) tidak hanya menjadi satu-satunya lobby Yahudi paling kuat di AS saja. Akan tetapi organisasi ini telah menjadi ‘negara dalam negara’ setelah menyandera sistem politik AS melalui dorongan penuh kepada orang-orang penting seperti Martin Andec, Danys Rose, Douglass Feit, Joseph Lieberman dan lain-lainnya untuk menduduki pos-pos penting sebagai penentu kebijakan di dalam pemerintah AS pada umumnya dan khususnya di dalam Kongres AS. Sehingga organisasi ini memiliki kemampuan mengarahkan laju kehidupan perpolitikan AS demi mementingkan orientasi dan tujuannya. Walaupun hal ini sendiri diliputi berbagai sak-wasangka dan tuduhan seputar hubungan rahasianya dengan pihak Zionis Israel yang telah menorehkan berbagai skandal. Yang paling anyar adalah kasus penangkapan Lary Franklin, seorang pengamat Pentagon yang memberikan informasi penting dan sangat rahasia tentang sikap pasukan AS di Irak terhadap Israel melalui para pejabat di organisasi Aipac.

Untuk menunjukkan kekuatan dan basisnya, para pejabat organisasi ini berhasil mendatangkan lebih dari 5 ribu pendukung fanatik Israel, yang paling utama adalah PM Israel Ariel Sharon, Menlu AS Condoleezza Rice dan puluhan tokoh Yahudi lainnya dari anggota Kongres untuk hadir dalam konferensi tahunan organisasi ini pada tanggal 23 Mei 2005 lalu. Jumlah itu sangat spektakuler sejak organisasi Aipac ini didirikan pada tahun 1951. Kondisi ini juga diiringi adanya krisis politik hubungan antara Israel dan AS, yang hingga kini masih berlangsung. Karena aksi mata-mata yang berhasil terungkap, dari waktu ke waktu, bahwa pihak AS selalu berada di sisi Israel. Juga kasus perbedaan antara Tel Aviv dan Washington seputar nota perjanjian perdagangan militer Israel dengan masing-masing negara India dan China.

Para peserta konferensi saling berlomba-lomba untuk menunjukkan dukungan penuh kepada Israel dan agar nanti bisa mendapatkan ‘curahan hati’ dari Aipac dan lobby Yahudi. Mereka sama-sama berjanji menjamin kwalitas organisasi ini dalam setiap aspek kehidupan di atas negara-negara tetangganya. Berusaha ‘menggencet’ musuh-musuh Israel dan menjatuhkannya, atau merubah ideologi serta strateginya. Seolah-olah lisan para peserta konferensi itu sama-sama mengatakan:”Hubungan AS-Israel adalah kepentingan paling besar sampai-sampai mengalahkan kepentingan nasional AS itu sendir

Dalam kaitan ini, Sharon memilih konferensi ini, yang dinilai oleh Harian Israel, Ha’aretz tanggal 22/5/2005 sebagai forum Yahudi terbesar di ibu kota AS, Washington, untuk menyampaikan pandangannya atau sebagai seorang senator yang akan merealisasikannya di fase mendatang terkait dengan pihak Palestina. Ia seorang senator yang berbeda sama sekali dengan usulan AS, hanya yang berhubungan dengan janji-janji AS yang telah diberikan oleh Bush kepada Sharon saat kunjungannya pada tahun 2004 lalu. Terutama janji-janji tersebut berkenaan dengan beberapa hal; yaitu tidak ada perundingan mengenai posisi atau kedudukan Al-Quds (Jerusalem), tak ada istilah penggusuran bagi pemukiman-pemukiman besar di Tepi Barat, tak ada istilah kembali bagi para pengungsi Palestina dan tak ada kata menarik pasukan dari batas tanah yang dijajah pada tanggal 4 Juni 1967. Sebuah persoalan yang menimbulkan berbagai tanda tanya besar soal independensi dan ‘jati diri’ organisasi Aipac ini yang memang dipilih oleh Sharon sendiri untuk menyampaikan keinginannya, di antara para anggotanya, menentang permintaan AS itu sendiri.

Dengan amatan yang cepat tentang sejarah aktivitas organisasi itu, yang dinilai oleh Majalah Forchen sebagai salah satu dari lima organisasi penekan paling jitu di AS, kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa basis yang dimiliki Aipac dalam kehidupan perpolitikan AS tidak hanya sebatas ia sebagai salah satu organisasi Yahudi penekan yang efektif di wilayah AS. Namun ia menjadi pilar utama bagi semua organisasi Zionis yang ada di negara Paman Sam itu dan bergerak di semua lini kehidupan, ekonomi, sosial, politik dan militer. Semua lini tadi bergerak sesuai dengan prioritas dan peran yang ditentukan dan diarahkan oleh Aipac untuk mewujudkan sejumlah target, yaitu jaminan untuk memberikan bantuan keuangan Amerika kepada Israel melebihi bantuan apapun yang diberikan kepada negara yang lain, tersedianya jaminan diplomasi tanpa syarat kepada Tel Aviv di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan di lembaga-lembaga internasional lainnya, membela Israel melawan berbagai ancaman pada perang-perang mendatang dan mempersiapkan generasi Amerika yang baru yang mendukungnya di kemudian hari

Peran utama atau hegemoni Aipac ini tidak datang dengan tangan kosong, namun itu hasil dari interaksi sejumlah faktor obyektif. Diantarannya yang paling penting adalah 1). Kapasitas materi dan moril yang tinggi yang dimiliki aliran Zionis di dalam masyarakat Amerika berhadapan dengan lemahnya atau raibnya pengaruh Arab dan Islam, 2). Kebebasan yang diberikan kepada kelompok-kelompok penekan di AS, 3). Kepentingan-kepentingan bersama antara Israel dan AS, dan yang terakhir 4). Adalah soal dimenasi agama yang berpengaruh dalam pembentukan masyarakat Amerika yang diwujudkannya dengan apa yang dikenal dengan nama ‘Zionis Kristen’ yang mewakili sebagian kelompok Kristen, sepertiga penduduk AS dari Kristen. Dalam pandangan kelompok ini, mendukung dan menjamin kekuatan ‘Israel’ adalah bagian utama dalam kepercayaan agamanya

Sebelum ini dan itu, basis dan kekuatan yang dimiliki Aipac tidak dimiliki oleh organisasi Zionis lainnya. Sebab anggarannya mencapai milyaran US dollar, anggotanya melebihi 65 ribu orang yang mayoritas dari unsur-unsur politik berpengaruh di sejumlah 50 wilayah negara bagian AS. Organisasi Aipac ini juga memiliki hubungan menejemennya dengan jaringan luas kepada ratusan anggota Kongres, pemerintah AS, Dewan Wilayah, tokoh lokal, partai dan elemen-elemen masyarakat AS lainnya. Hingga akhirnya berubah menjadi pusat bagi penentuan kebijakan politik luar negeri AS mengenai semua persoalan yang berkenaan dengan Israel dan wilayah timur tengah secara umum

Aipac juga memiliki jaringan luas di komisi-komisi kerja politik lokal, yang hingga tahun 2004 lalu jumlahnya mencapai lebih dari 126 komisi di semua wilayah AS. Peran dan tugas utama dari komisi-komisi ini terfokus pada koordinasi semua upaya dan usaha dalam mendukung para calon yang pro Israel dalam pemilu lokal (daerah). Aipac juga memiliki tidak kurang dari 50 kelompok kerja politik yang memberikan dana segar mencapai US$ 500 ribu kepada satu calon kepala daerah yang cukup mencukupi kampanye di televisi. Cukup sebagai contoh dalam hal ini adalah peristiwa pemilu tahun 2002 dimana Aipac telah menyumbang US$ 6,5 juta bagi para kandidat utama dari dua partai, republik dan demokrat

Tidak cukup persoalannya berhenti sampai disitu saja, mereka bahkan mengembangkan bantuannya sampai ke sektor pengembangan dan pembangunan politik. Aipac memiliki peran khusus terhadap para pemuda di perguruan tinggi agar bisa mencetak generasi aktivis politik yang pro Israel dan menentang Arab sekaligus Islam. Hal ini mereka lakukan melalui perhatian terhadap tulisan di ‘mading mahasiswa’, melakukan training-training pelatihan dan pengajaran dengan sasaran kelompok dari elemen masyarakat AS ini. Salah satu programnya yang paling populer adalah program ‘pemberdayaan kepemimpinan politik’ yang dimulai sejak tahun 1980 dengan melibatkan peserta hingga lebih dari 5 ribu mahasiswa dan mahasiswi. Kegiatan tersebut dilakukan di perguruan tinggi dan universitas yang tersebar di 50 wilayah negara bagian. Disana ada juga kegiatan perkemahan musim panas bagi para mahasiswa perguruan tinggi dan sekolah menengah atas yang diadakan oleh Aipac setiap tahun. Dari kegiatan-kegiatan itu diharapkan bisa menggaet puluhan mahasiswa yang nantinya bisa merubah cara pikirnya dan siap membela politik Israel, baik di dalam maupun di luar wilayah AS. Setelah sebelumnya dibekali dengan berbagai informasi tentang Israel dan tabiat pertarungannya dengan Arab melalui cara pandangan Israel. Hal itu yang kemudian topik ‘Israel’ menjadikannya sebagai sebuah persoalan internal AS yang harus didukung dan disupport oleh bangsa Amerika

Gebrakan-gebrakan Aipac tidak hanya berhenti didalam menghantarkan para kandidatnya ke Kongres atau pemerintah AS saja, namun mereka juga bergerak di dalam lembaga-lembaga internasional lainnya untuk mendapatkan teman dan pendukung baru melalui penjelasan soal pandangan Israel dan citra positif Tel Aviv. Dalam kaitan ini, perlu disampaikan tentang kegiatan Aipac dan lembaga-lembaga yang menjadi embrionya pernah melakukan kunjungan tahunan bagi anggota Kongres dan pegawainya ke Israel dengan tujuan mempererat tali hubungan antara tokoh politik dari kedua negara

Hal sebaliknya, Aipac menggunakan berbagai sarana dan cara untuk memperburuk citra musuhnya dan sekaligus menekannya. Hal ini melalui penguasaan lobby Yahudi atas media massa Amerika yang biasanya mampu membuat opini di dalam negara AS. Cara ini sangat efektif dalam memonitor semua pandangan dan kampanye yang menentang penjajahan Israel berikut cara politiknya, sekaligus bisa cepat men-counter-nya. Semua tadi dilakukan melalui tiga akses penting:

Akses Pertama: anggota parlemen, kelompok ini adalah kelompok yang paling berpengaruh di dalam menekan masyarakat dan media dalam negeri. Oleh karena itu Aipac ini bisa memerankan tekanannya kepada Kongres karena dianggap sebagai jalan pintas dan cepat dalam mengeluarkan hukum dan undang-undang yang menentang Arab dan sebaliknya, yang mendukung Israel. Bahkan di sana ada kaedah politik yang biasa digunakan oleh para lembaga penentu kebijakan di Washington yang isinya adalah; “Dukungan dari lobby Yahudi menjadikan unsur paling penting bagi setiap keberhasilan pemilu presiden atau legislatif. Namun sebaliknya, penentangan terang-terangan terhadap Israel itu berarti bunuh diri politik.” Oleh karena itu setiap pemerintah AS berusaha untuk selalu mendapatkan ‘curahan hati’ dari lobby Yahudi, terutama dari Aipac, dan merealisasikan semua permintaannya, karena tak lain dan tak bukan itu adalah permintaan Israel. Ini mungkin rahasianya kenapa Tel Aviv berhasil dalam menggolkan agenda politiknya kepada Washington dan mendapatkan jaminan atas bantuan pertahun yang mencapai US$ 3 milyar.

Akses Kedua: sektor aktivitas media, dimana Aipac sudah mengkhususkan sejumlah pakar, ahli, wartawan dan kolomnis untuk menjadi peneliti atau pengamat bagi ratusan majalah, koran dan laporan harian yang ada di 50 wilayah negara bagian. Termasuk didalamnya bantahan, umpatan dan cercaan terhadap semua orang yang memusuhi Israel.

Akses Ketiga: lembaga-lembaga perguruan tinggi AS, yang diinginkan oleh Aipac bukan hanya menggaet kader-kader muda yang baru, akan tetapi memutus atau membunuh setiap ide baru yang menentang politik Israel yang kemungkinan bisa muncul di tengah-tengah masyarakat kampus. Baik itu pada kalangan dosen maupun pada kalangan mahasiswa sekalian, dengan tetap menggunakan berbagai cara dan sarana yang illegal berupa tekanan atau iming-iming yang menggiurkan

Secara umum, ketidakberdayaan para pejabat AS menghadapi semua ancaman dan iming-iming lobby Yahudi membuat sebuah perubahan berbahaya bagi kondisi hubungan antara Washington dan Tel Aviv, setelah Aipac menjadi pintu gerbang utama bagi basis Israel di AS. Dan hari ini, Aipac menjadi pintu utama bagi orang Amerika untuk bisa masuk ke Gedung Putih atau Capitol. (AMRais) (Sumber: Harian Akhbar Al-Khalej, Bahrain (30/6/2005/infopalestina.com).

Menelisik Spionase Yahudi di Pentagon

Oleh: Warsito
Center for Middle East Studies (COMES)
Tajasus, atau yang sering kita sebut dengan istilah spionase, menurut penulis buku “Muqaranatul Adyan: Alyahudiyah”, Dr. Ahmad Shalabi, adalah kata yang selalu terlintas saat membicarakan tentang Yahudi, atau tepatnya zionis Yahudi. Alasannya, gerakan inilah yang pada akhirnya mendominasi, kalau tidak justru menjadi gerakan utama, dalam merealisasikan terwujudnya Israel Raya. Penjelasannya, menurut Rager Garaudy, karena zionis Yahudi saat ini tidak saja merupakan gerakan keagamaan tapi juga suatu gerakan politik. Sehingga kalau ditilik kembali ke sejarah, bahkan sampai sekarang, gerakan spionase atau pengintaian rahasia ini ternyata masih dan akan terus menjadi tugas terpenting bagi kaum Yahudi.

Dalam banyak literatur dapat dirujuk nama Yahudza al Iskharyuti, seorang mata-mata bayaran Yahudi yang sengaja ditugaskan sebagai spion dalam rangka menangkap Isa as. Demikian halnya pada masa permulaan fajar Islam. Mereka, kaum Yahudi, menjadikan kegiatan tajasus sebagai gerakan untuk menghancurkan Islam.

Ibnu Hisyam di dalam tarikhnya menyebutkan, ada golongan kaum Yahudi yang mengaku Islam tetapi sejatinya mereka adalah kaum munafik yang hanya menampakan keislamannya pada kulitnya saja. Sedangkan apa yang ada dalam benak mereka adalah bagaiaman menghancurkan Islam dari dalam. Di antara golongan munafik itu adalah Da’Israel, Sa’ad bin Hunaif, Zaid bin Lashif, Rafi’, Huraimalah, dll.

Frank Briton, seperti dikutip Ahmad Shalabi, menyebut gerakan spionase ini memang sudah menjadi tabiat orang Yahudi, bahkan telah menjadi “kesukaan mereka dimanapun mereka berada”. Merekalah yang menjadi spion-spion tentara Jerman. Mereka pula yang menjadi spion-spion Barat di Rusia. Bahkan pada tahun 1945 telah terungkap adanya “ring of espionage” yang sangat berbahaya di Kanada, di mana salah satu anggotanya adalah seorang anggota parlemen Kanada dan guru besar di Universitas Mac Dal. Apalagi di dunia Arab – Islam, gerakan-gerakan mereka tidak pernah ada putusnya. Puncak dari semua itu adalah ketika mereka berselindung di balik agama-agama lain; bukan saja hendak menempatkan diri mereka sebagai spion-spion untuk mengetahui dan mendeteksi agama baru itu, tapi lebih pada bagaimana “bekerja dari dalam di bawah lindungan agama yang baru itu demi cita-cita agama dan politik mereka yang orisinil: agama dan negara Yahudi.”

Masalah spionase inilah yang belakangan sedikit menggoncang, karena sengaja diredam, Amerika Serikat. Adalah jaringan televisi CBS News Amerika, yang pertama kali, pada Jum’at (27 Agustus lalu), melaporkan sebuah sekandal yang menggoncang negeri yang Novembar nanti melangsungkan pemilihan presiden tersebut. Sekandal itu sendiri melibatkan sekutu paling dekat dan yang paling dibela Amerika selama ini, Israel. Laporan itu menyebutkan adanya seorang analis di markas pertahanan dan keamanan Amerika Pentagon yang memberikan informasi rahasia ke Israel, tentang rancangan proyek kebijakan Amerika Serikat menyangkut program nuklir negeri kaum mullah, Iran.

Laporan itu segera menjadi “hidangan” berita media-media internasional baik cetak maupun elektronik. Meski masalah mata-mata adalah hal yang biasa dalam hubungan internasional, namun kasus semacam ini tetap dianggap sebagai sekandal besar. Betapa tidak, kalau sebuah negara memata-matai musuhnya maka itu adalah hal yang biasa, tapi ini adalah sebuah kasus di mana sebuah negara memata-matai sekutu terdekatnya sendiri.

Mengenai persekutuan Amerika – Israel sudah tidak ada yang meragukan lagi. Hampir dalam semua hal Amerika selalu mendukung kebijakan Israel, seperti yang kita saksikan selama ini di Palestina, demikian juga sebaliknya. Tapi kenapa Israel melakukan semua itu? Banyak pertanyaan dan analisa kemudian muncul dari sekandal ini, di balik masih belum gamlangnya kasus ini. Apa kira-kira yang akan terjadi selanjutnya.

Banyak hal bisa diselidik berkaitan dengan kasus sekandal pembocoran informasi rahaisa intelijen, yang sebenarnya belum tuntas ini. Pertama bahwa pembocoran informasi rahasia ini dilakukan dengan maksud agar Israel bisa memberikan pengaruh dalam finalisasi kebijakan Amerika Serikat mengenai masalah Iran. Ini kemudian mencuatkan kembali pertanyaan, apakah sekutu Israel di Washington telah memiliki pengaruh yang sangat kuat dan sangat berlebihan atas Gedung Putih.

Bahkan seorang analis Israel di harian Yahudi Ha’aretz Nathan Guttman menulis, “Hal itu mengungkapkan kembali tanda tanya bahwa keputusan Amerika Serikat untuk menginvasi Irak, adalah dilakukan untuk kepentingan Israel, bukan untuk kepentingan Amerika Serikat.” Di samping itu, tambah Guttman, sekandal ini juga menghidupkan kembali tuduhan lama bahwa Israel bukanlah sekutu Amerika, tetapi sebuah negara penerobos. Kasus tersebut juga kembali mencuatkan isu bahwa Yahudi Amerika memiliki loyalitas ganda (kompas 31/09).

Ada kemungkinan Israel memang sangat haus akan informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan program nuklir Iran, yang tentu saja dapat merubah peta kekuatan kawasan Timur Tengah dan bukan tidak mungkin menjadi ancaman bagi Israel ke depan.

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika memandang Iran sedang memacu dirinya untuk memiliki senjata nuklir. Amerika juga telah menekan sekutu-sekutunya di Eropa, juga Badan Tenaga Atom Internasional IAEA (International Atomic Energy Agency) untuk menekan Iran agar menghentikan program senjata nuklirnya. Sejauh ini, meski mendapat tekanan dari Amerika, Iran masih tetap menolak dan menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai.

Sebagai sebuah negara yang kaya akan informasi dan pengalaman dalam masalah senjata nuklir dan juga pembuatan senjata pemusnah massal, Amerika adalah negara yang paling diincar oleh Israel untuk dikuras informasinya. Karena bagi Israel, mengetahui setiap lengkah dan rencana kebijakan Amerika menyangkut masalah Iran, terutama tentang program nuklirnya, tentu akan memberinya kesempatan untuk menyusun langkah strategis untuk menghadapinya.

Ala kulli hal, semua itu mengisyaratkan bahwa gerakan spionase, seperti disinggung di atas, merupakan karakter utama kaum Yahudi demi eksistensi mereka. Sekandal yang menggoncang Amerika ini bukanlah yang pertama kalinya. Seperti dilansir islamonline, Jum’at (27/08/2004), kasus terbesar mengenai mata-mata zionis Israel di dalam pemerintahan Amerika sudah terungkap resmi sejak 19 tahun yang lalu. Seorang Yahudi Amerika bernama “Jhonatan Bolard” dijatuhi hukuman seumur hidup karena telah menyusupkan informasi rahasia militer Amerika ke Tel Aviv.

Dalam kasus kali ini, laporan-laporan media menyebutkan keterlibatan kelompok lobi utama Israel di Amerika Serikat AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), yang sebagian kalangan menyebutnya sebagai “lobi paling berkuasa di Washington” (koran tempo (03/09/2004). AIPAC konon memiliki 65 ribu anggota yang bekerja dengan amat baik di seluruh 50 negera bagian Amerika dan memainkan peranan sebagai penyalur informasi dari dalam Amerika ke pemerintah Israel. Di samping adanya kumpulan jurnalis tersebar di sejumlah harian dan stasiun televisi berpengaruh di Amerika Serikat yang bekerja untuk kepentingan Israel, seperti ditulis harian al quds arabi terbitan London (06/09/2004), di sana ada tidak kurang 600 stasiun radio yang bekerja untuk kepentingan AIPAC dan Israel. Yang paling populer adalah stasiun radio EIB (excellence in broadcasting), penyiar Yahudi yang paling terkenal di stasiun EIB ini adalah seorang zionis kanan radikal bernama Rush Limbaugh. Konon dia sangat disukai kaum konservatif namun dibenci kaum demokrat.

Terkait sekandal kali ini, laporan-laporan media menyebutkan seorang staf analis kebijakan tingkat rendah Departemen Pertahanan Amerika di Pentagon bernama Lawrence Larry Franklin secara diam-diam membocorkan dokumen intelijen sangat rahasia – mengenai kebijakan Amerika terhadap Iran, namun belum selesai – kepada pmerintah Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.

Franklin sendiri bekerja di bawah Deputi Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Douglas Feith. Yang disebut pertama juga dikenal sangat dekat dengan Deputi Menteri Pertahanan Amerika Paul Wolfowitz, seorang keturunan Yahudi yang pernah menjadi Duta Besar Amerika untuk Indonesia di Jakarta sekaligus arsitek agresi Amerika ke Irak. Dokumen rahasia itu sendiri bisa sampai ke pemerintah Israel melalui tokoh-tokoh AIPAC.

Meski tidak membantah adanya pembocoran tersebut, namun kelompok ini dan tentu juga pemerintah Israel, sudah membantah bahwa mereka telah melakukan tindakan yang salah. Wallahu a’lam bish shawab.

*) Artikel ini pernah dimuat majalah sabili edisi 06 bulan Oktober 2004.
http://swaramuslim.net/more.php?id=A1642_0_1_0_M

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: