’Sungai Besar’ Jadi Rebutan Aset Great River

’Sungai Besar’ Jadi Rebutan Aset Great River

Ariyanto dan Bona Ventura

JAKARTA siang itu cukup terik. Tapi, puluhan buruh PT Great River International Tbk. seperti tak peduli. Rabu pekan lalu, di depan Pengadilan Niaga Jakarta mereka terus bergerombol meski matahari seperti tepat berada di atas kepala. ”Memang perusahaan sudah tidak beroperasi. Tetapi, kami tidak setuju jika dipailitkan,” ujar Martanto, salah seorang perwakilan karyawan.
Nasib PT Great River memang bak berada di ujung tanduk. Perusahaan tekstil yang memegang lisensi sejumlah merek pakaian terkenal, seperti Arrow, Triumph, Lee, dan Kenzo tersebut terancam divonis pailit alias bangkrut. Jika tak ada aral, Senin pekan ini pengadilan yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, itu akan menjatuhkan putusan atas permohonan pailit itu.
Menariknya, tuntutan pailit itu dilayangkan oleh sebagian buruh perusahaan itu sendiri. Persisnya, awal Mei lalu lima orang karyawan, tiga di antaranya pegawai harian dua bulanan, yakni Susanto, Nawawie, Yusuf Iskandar, Safruddin, dan Gandi S., melayangkan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga Jakarta. Mereka tampaknya sudah tidak sabar lagi menunggu pembayaran upah yang sudah terhenti sejak Juli 2006 silam.

Artikel Lain
Kisah Istri Jenderal dan Tender Helikopter
Edwin pun Lepas Landas
Dicari: Pemimpin yang Paham Masalah
Kado untuk ’Sultan’ Senayan
’Sungai Besar’ Jadi Rebutan
Nama Sama Membawa Perkara
Menyingkap ’Dosa’ Lama Jamsostek
Terjerat Jagung Argentina
Mengintip Beleid Sukuk Negara
Karena Presiden Bukan Raja

Total kewajiban perusahaan kepada lima karyawan itu sebenarnya tidak terlalu ”besar”, yakni Rp 46,5 juta. Namun, menurut Darwin Aritonang, kuasa hukum para pemohon, persoalannya bukan pada besar atau kecilnya utang. Di dalam Undang-undang tentang Kepailitan, demikian Darwin, bila persyaratannya sudah dipenuhi, kreditor bisa mengajukan permohonan pailit. ”Ini bukan tindakan bunuh diri. Perusahaan sudah mati dan tidak membayar gaji karyawan. Jadi, mereka berhak menggugat pailit supaya gaji mereka dibayar,” tegasnya.
Untuk memperkuat permohonannya, Darwin menyebutkan bahwa PT Great River juga memiliki utang ke sejumlah kreditor lain. Sebagai misal Dirjen Pajak, Bank Mega, dan Bank Mandiri. Jadi, ucap Darwin, unsur-unsur yang dipersyaratkan oleh UU Kepailitan untuk menyatakan bahwa perusahaan itu pailit sudah terpenuhi.
Lebih dari itu, Darwin mengungkapkan bahwa apakah mungkin orang yang sudah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (yang dimaksud adalah Sunjoto Tanudjaja, bos PT Great River) itu akan muncul kembali dan menunaikan kewajibannya terhadap karyawan. Apalagi, belum ada kepastian apakah perusahaan itu akan bisa beroperasi kembali mengingat sejumlah asetnya telah dieksekusi oleh Bank Mega.
Sekadar informasi, Pengadilan Negeri Cibinong telah melelang sebagian aset PT Great River. Lelang tersebut dimenangi oleh PT Samudera Biru dengan nilai Rp 47,75 miliar. Lelang itu pun kemudian diprotes oleh karyawan. Awal Juni lalu tak kurang dari 500 orang buruh mendatangi gedung parlemen untuk menyampaikan dugaan adanya rekayasa. Ketua DPC Serikat Pekerja Nasional Kabupaten Bogor, Iwan Kusmawan, yang ikut mendampingi para buruh itu mengungkapkan bahwa sejatinya aset perusahaan garmen itu—yang terdiri dari tanah, bangunan, mesin-mesin, serta peralatannya—nilainya paling sedikit Rp 460 miliar.
Namun, agaknya, ratusan buruh itu mesti bersabar. Benar bahwa sebagian anggota dewan mengamini keluhan yang mereka sampaikan dan menyebut bahwa lelang tersebut cacat hukum. Tapi, anggota Komisi IX DPR hanya memberikan janji untuk meminta klarifikasi dari pengadilan yang melaksanakan lelang tersebut.
Sementara, di mata Darwin, langkah hukum yang tepat untuk menghentikan pelelangan aset itu adalah dengan mengajukan permohonan pailit. Hanya kurator—pihak yang diberikan hak oleh pengadilan niaga untuk mengelola aset perusahaan yang telah dinyatakan pailit—yang bisa menghentikan hak lelang Bank Mega atau Bank Mandiri. Kurator, ujarnya, akan mendata aset dan membayarkan hak karyawan. ”Jika perusahaan tidak dipailitkan, apakah hak-hak karyawan bisa dikembalikan,” cetusnya.
Tentu saja apa yang disampaikan oleh Darwin itu ditepis oleh PT Great River. Endang Susilowati, kuasa hukum perusahaan itu, menyebutkan bahwa kliennya berhenti beroperasi semata-mata disebabkan oleh perbuatan para pemohon yang melakukan aksi mogok kerja dan memaksa karyawan lain untuk menduduki perusahaan. Jadi, demikian Endang, adalah tidak wajar jika kliennya dinyatakan pailit dengan alasan kondisi yang dipaksakan dan diciptakan oleh para pemohon.

BURUH TAK PERNAH MEMBERI KUASA
Endang juga mengungkapkan bahwa sejatinya salah seorang pemohon, yakni Safrudin, sudah pernah mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap PT Great River dengan mengatasnamakan 258 karyawan lainnya. Namun, ratusan buruh yang disebut-sebut setuju untuk mengayun langkah hukum itu membantah memberi kuasa kepadanya. Buntutnya, permohonan itu akhirnya dicabut dan perkara dianggap selesai. Namun, demikian Endang, ternyata permohonan serupa diajukan kembali oleh Safrudin dan empat rekannya.
Selain itu, Endang menilai utang yang didalilkan oleh para pemohon juga sangat kecil alias tidak ada artinya dibandingkan nilai aset kliennya. Bahkan, menurutnya, para pemohon harus bertanggung jawab atas semua kerugian yang timbul akibat aksi yang telah dilakukan. Apalagi, keinginan untuk memailitkan perusahaan itu juga bertentangan dengan harapan dan kepentingan karyawan lain yang jumlahnya sekitar 6.000 orang. ”Mereka tetap ingin agar pabrik dapat berjalan kembali dan berproduksi seperti sedia kala,” tegas Endang seperti tertuang dalam berkas jawabannya.
Apa yang disampaikan oleh Endang itu senada dengan yang diucapkan oleh Martanto. Menurutnya, jika PT Great River dipailitkan, maka yang paling diuntungkan adalah Sunjoto Tanudjaja. Dia bakal terlepas dari kewajiban untuk membayar pesangon ribuan buruh yang nilainya sekitar Rp 180 miliar. Jika perusahaan pailit, katanya, ”Kami bisa tidak mendapat uang pesangon dan pekerjaan lagi”.
Sesungguhnya, tutur Martanto, pihaknya hanya ingin agar perusahaan dapat beroperasi sehingga buruh bisa bekerja kembali. Dan mereka berharap, pemenang baru dalam lelang—yang menurut Martanto adalah Bank Mega—sudi kembali mempekerjakan para karyawan. ”Kami setuju jika perusahaan diambil alih Bank Mega karena teman-teman bisa bekerja kembali,” ujarnya polos.
Sementara, lanjut Martanto, jika perusahaan pailit buruh akan kesulitan kepada siapa dan kapan uang PHK akan dibayarkan. Kami, tuturnya, hanya akan dipaksa menunggu terus, dan itu akan tidak jelas. ”Karena itu kami datang ke pengadilan untuk menolak permohonan pailit yang diajukan oleh lima karyawan tersebut,” tegasnya. 

KARAM LALU MENGHILANG

SEPERTI namanya, awalnya PT Great River International Tbk., adalah perusahaan garmen raksasa yang cukup terpandang. Sejumlah pemilik merek pakaian ternama di dunia pun tak segan-segan untuk memberikan hak kepada gergasi itu untuk memproduksi barang dagangan mereka. Arrow, Triumph, Lee, dan Kenzo adalah beberapa nama dagang yang memberikan kepercayaan ke perusahaan itu.
Namun, sejak awal tahun 2005 lalu, ”kapal” besar itu karam. Berawal dari penghentian perdagangan saham alias suspensi oleh Bursa Efek Jakarta, borok perusahaan itu satu demi satu terbongkar. Suspensi itu sendiri ditetapkan menyusul kegagalan sang ”Sungai Besar” untuk membayar bunga obligasi sebesar Rp 11 miliar yang telah jatuh tempo. Belakangan diketahui bahwa utang perusahaan itu mencapai Rp 600 miliar. Awal Mei 2007 lalu saham perusahaan itu pun dicoret dari lantai bursa.
Setelah melewati serangkaian penyelidikan, Sunjoto Tanudjaja, bos PT Great River, ditetapkan sebagai tersangka. Dia dianggap menabrak sejumlah aturan. Salah satunya mengemplang utang Bank Mandiri. Kepada wartawan beberapa waktu lalu mantan Direktur Utama Bank Mandiri E. C. W. Neloe mengatakan, total utang PT Great River kepada Bank Mandiri mencapai Rp 250 miliar. Utang itu terdiri dari obligasi Great River senilai Rp 50 miliar dan pinjaman Rp 200 miliar. Namun, Neloe yakin piutang itu tak akan bermasalah karena aset Great River diketahui mencapai Rp 1 triliun.
Tapi apa mau dikata, Kejaksaan Agung tetap berkesimpulan bahwa Sunjoto telah melakukan tindak pidana dan akan menyeretnya ke kursi pesakitan. Namun, langkah kejaksaan itu seperti memukul angin. Pengusaha itu telah lebih dahulu menghilang dan hingga kini tak pernah menunjukkan lagi batang hidungnya. 

sumber : http://www.majalahtrust.com/hukum/hukum/1315.php

6 Responses to “’Sungai Besar’ Jadi Rebutan Aset Great River”

  1. D.J.Niode Says:

    Bagaimana keputusan akhirnya saat ini antara hak mendahului pekerja dan hak mendahului pajak?
    Bagaimana keputusan akhirnya MA?

  2. beni Says:

    teruskan perjuangan kalian dalam menuntut pesangon, jangan takut aral melintang karena kalian (para buruh) yang harus didahulukan. karyawan adalah ujung tombak perusahaan, maju mundurnya perusahaan ditangan karyawan. hidup buruh !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  3. ANDRI LISTRIK PGAD Says:

    rayap rayap PT GRI kan temui ajal menyedihkan ,…semoga diampuni

  4. asphalt 8 Hack Says:

    I read this post fully about the comparison of newest and earlier technologies, it’s awesome
    article.

  5. exercises tennis elbow Says:

    The healing process, involving scar formation, can also cause tightening as it contracts and lead to a further vulnerability to stretch.
    After all, even those older and more experienced had to start somewhere, and by treating people like you and I, is how they
    became great and experienced. A freelancer who
    works on fast turnaround projects may develop any or
    all of these difficulties: or may aggravate such injuries developed on
    prior work assignments.

  6. donatos coupons Says:

    Compare the cost of the treatment in installments.
    The procedure takes about 15 minutes during which lasers pass over
    the skin, giving disgusting bruises and skin discoloration to the delicate
    surface silicone breast implants that happens due to surgery done soon after.
    People come from several thousand miles away to have one of the parts of skin that
    is created by this weight loss. There are many quality surgeons, who charge far
    less than the results you are looking for repetition in the reviews.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: