dosa

1 Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 59:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Hasyr 1
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (1)
Imam Bukhari dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Umar r.a., bahwasanya Rasulullah saw. membakar pohon-pohon kurma milik orang-orang Bani Nadhir dan menebangi pohon-pohon kurma yang ada di lembah Al-Buwairah, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Apa saja yang kalian tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kalian biarkan (tumbuh)…” (Q.S. Al-Hasyr 5) Abu Ya’la mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang dhaif (lemah) melalui Jabir r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. memberikan kemudahan bagi kaum muslimin, yaitu boleh menebang pohon-pohon kurma, kemudian dia melarang hal tersebut. Lalu mereka datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami berdosa mengenai pohon-pohon yang telah kami tebang atau pohon-pohon yang kami biarkan tumbuh?” Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Apa saja yang kalian tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kalian biarkan (tumbuh)…” (Q.S. Al-Hasyr 5) Ibnu Ishak mengetengahkan sebuah hadis melalui Yazid bin Rauman yang menceritakan, bahwa sewaktu Rasulullah saw. turun menyerang Bani Nadhir, maka orang-orang Bani Nadhir berlindung ke dalam benteng-benteng mereka dari serangannya. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan kaum muslimin supaya menebangi dan membakar pohon-pohon kurma mereka yang ada di tempat itu juga. Maka orang-orang Bani Nadhir berseru, “Hai Muhammad! Sesungguhnya engkau telah melarang manusia melakukan perusakan dan engkau mencela perbuatan itu. Apakah artinya penebangan dan pembakaran pohon-pohon kurma itu?” Lalu turunlah ayat ini. Hadis serupa diketengahkan pula oleh Imam Ibnu Jarir melalui Qatadah dan Mujahid.

2 Katakanlah (hai Muhammad):` Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al quran yang menakjubkan,(QS. 72:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Jin 1
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1)
Imam Ibnu Munzir, Imam Ibnu Abu Hatim dan Abu Syekh di dalam kitabnya Al-‘Azhamah mengetengahkan sebuah hadis melalui Kardam bin Saib Al-Anshari. Kardam bin Saib menceritakan, aku berangkat bersama dengan ayahku menuju ke Madinah untuk suatu keperluan. Hal ini terjadi sewaktu kami baru mendengar adanya Rasulullah saw. di kota Madinah. Di tengah jalan kami kemalaman, lalu kami terpaksa menginap di kemah seorang penggembala kambing. Ketika malam hari sampai pada pertengahannya, datanglah seekor serigala, lalu ia mencuri seekor kambing. Hal itu diketahui oleh si penggembala, lalu penggembala melompat seraya mengucapkan, “Hai penunggu lembah ini! Tolonglah tetanggamu ini.” Kemudian tiba-tiba terdengarlah ada suara yang tidak tampak orangnya, seraya mengatakan, “Hai Sarhan (penggembala)!” Tiba-tiba kambing yang dicuri serigala tadi dikembalikan kepadanya dalam keadaan terikat, lalu kambing bandot itu dikumpulkan bersama dengan kambing-kambing lainnya. Allah menurunkan ayat ini kepada Rasul-Nya di Mekah, yaitu firman-Nya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin…” (Q.S. Al-Jin 6) Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Raja’ dari kalangan Bani Tamim yang menceritakan, bahwa sesungguhnya aku menjadi penggembala kambing-kambing milik keluargaku dan aku menanggung beban pekerjaan mereka semuanya. Ketika Nabi saw. telah diutus, kami keluar dari kalangan keluarga kami melarikan diri. Sewaktu kami sampai di suatu padang, sebagaimana biasanya yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kami, yaitu apabila kami kemalaman, maka pemimpin (syekh) kami mengatakan, “Sesungguhnya kami berlindung kepada penunggu lembah ini dari gangguan jin pada malam ini.” Maka kami pun mengatakan hal yang serupa. Lalu ada suara yang ditujukan kepada kami seraya mengatakan, “Sesungguhnya jalan keluar bagi laki-laki ini ialah mengucapkan kesaksian, yaitu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah. Kesaksian itu siapa pun yang mengucapkannya, niscaya darah dan harta bendanya selamat.” Lalu kami kembali, dan langsung masuk Islam. Abu Raja’ mengatakan, sesungguhnya aku berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh aku dan teman-temanku, yaitu firman-Nya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambahkan bagi mereka dosa dan kesalahan…” (Q.S. Al-Jin 6 dan seterusnya) Kharaithi di dalam kitabnya yang berjudul Hawatiful Jan (bisikan-bisikan jin) mengetengahkan sebuah hadis yang teksnya berbunyi sebagai berikut, “Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Balawi, menceritakan kepada kami Ammarah bin Zaid; telah bercerita kepadaku Abdullah bin Ala’; telah bercerita kepada kami Muhammad bin Akbar. Semuanya menceritakan hadis ini melalui Sa’id bin Jubair, bahwasanya ada seorang lelaki dari kalangan Bani Tamim yang dikenal dengan nama Rafi’ bin Umair, ia menceritakan tentang keadaannya sewaktu baru masuk Islam. Untuk itu ia menceritakan, sesungguhnya pada suatu hari aku sedang mengadakan perjalanan, dan sewaktu sampai di Ramal Alij telah malam, perasaan kantuk yang sangat menguasai diriku lalu segera aku turun dari unta kendaraanku, kemudian untaku itu kutambatkan dengan kuat. Aku tidur, dan sebelum tidur terlebih dahulu aku meminta perlindungan; untuk itu aku mengatakan, ‘Aku berlindung kepada penunggu lembah ini dari gangguan jin.’ Di dalam tidurku aku bermimpi melihat seorang laki-laki yang membawa sebilah tombak kecil di tangannya, ia bermaksud untuk menusukkannya ke leher untaku. Aku terbangun karena terkejut, dan aku melihat ke kanan dan ke kiri, tetapi ternyata aku tidak melihat sesuatu pun yang mencurigakan. Aku berkata kepada diriku sendiri, ini adalah mimpi buruk. Kemudian aku kembali meneruskan tidurku, dan ternyata aku kembali melihat laki-laki itu berbuat hal yang sama, maka aku terbangun karena terkejut. Aku lihat untaku gelisah dan sewaktu aku menengoknya ternyata ada seorang laki-laki muda seperti yang aku lihat di dalam mimpiku seraya membawa tombak kecil di tangannya, dan aku lihat pula ada seorang syekh (orang tua) yang sedang memegang tangan laki-laki itu seraya melarangnya supaya untaku itu jangan dibunuh. Ketika keduanya sedang saling bertengkar, tiba-tiba muncullah tiga ekor sapi jantan liar. Lalu orang (jin) yang tua itu berkata kepada jin yang muda, ‘Sekarang pergilah kamu, dan ambillah mana saja yang kamu sukai dari banteng-banteng liar itu, sebagai tebusan dan pengganti dari unta milik manusia yang aku lindungi ini.’ Lalu jin muda itu mengambil seekor sapi jantan (banteng) liar dan langsung pergi dari situ, selanjutnya aku menoleh kepada jin tua itu, dan ia berkata kepadaku, ‘Hai kamu! Apabila kamu beristirahat pada salah satu lembah, kamu merasa takut akan keseramannya, maka katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Muhammad dari keseraman lembah ini.’ Jangan kamu meminta perlindungan kepada jin siapa pun, karena sesungguhnya hal itu adalah perkara yang batil. Aku bertanya, ‘Siapakah Muhammad itu?’ Ia menjawab, ‘Dia adalah nabi berkebangsaan Arab; dia bukan dari timur dan bukan pula dari barat, dan dia diutus pada hari Senin.’ Aku bertanya lagi, ‘Maka di manakah tempat tinggalnya?’ Ia menjawab, ‘Di kota Yatsrib yang banyak pohon kurmanya.’ Maka segera aku menaiki kendaraan untaku ketika waktu subuh telah lewat (matahari terbit) dan aku pacu untaku hingga masuk ke dalam kota Madinah. Sesampainya aku di Madinah Rasulullah saw. melihatku dan beliau langsung menceritakan tentang perihal diriku dan apa yang telah terjadi denganku sebelum aku menceritakan sepatah kata pun tentangnya. Dia mengajak aku untuk masuk Islam, maka aku pun masuk Islam.” Said bin Jubair mengatakan, “Kami telah memastikan, bahwa berkenaan dengan dialah Allah menurunkan firman berikut ini, ‘Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.'” (Q.S. Al-Jin 6)

3 Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata,(QS. 48:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Fath 1
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1)
Syaikhain (Bukhari dan Muslim), Imam Tirmizi dan Imam hakim, mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Anas yang mengatakan bahwa ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan diri Nabi saw. yaitu firman-Nya, “Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” (Q.S. Al Fatah, 2). Ayat di atas diturunkan sewaktu Nabi saw. kembali dari Hudaibiyah; sehubungan dengan hal ini Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku suatu ayat yang aku lebih cintai kepadanya dari pada apa yang ada di bumi ini”, selanjutnya Nabi saw. membacakannya kepada mereka. Setelah Nabi saw. selesai membacakannya, para sahabat mengatakan, “Selamat untukmu wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah swt. telah menjelaskan apa yang diperbuat-Nya terhadapmu. Maka apakah yang akan diperbuat-Nya terhadap kami?” Lalu ketika itu juga turunlah firman-Nya yang lain, yaitu, “Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan…” (Q.S. Al Fatah, 5) sampai dengan firman-Nya, .”.adalah keuntungan yang besar.” (Q.S. Al Fatah, 5).

4 orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.(QS. 70:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ma’aarij 2
لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ (2)
Imam Bukhari dan Imam Tirmizi serta lain-lainnya, semuanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas r.a. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. belum pernah membacakan Alquran secara langsung kepada jin dan belum pernah pula beliau melihat mereka. Akan tetapi pada suatu hari Rasulullah saw. berangkat bersama serombongan sahabat-sahabat dengan tujuan pasar Ukazh. Pada masa itu berita langit sudah ditutup rapat-rapat di muka setan; antara langit dan setan sudah terhalang oleh panah-panah berapi yang ditugaskan untuk menjaga langit. Akhirnya setan-setan (jin-jin) itu kembali kepada kaumnya. Lalu mereka berkata, “Tiada lain hal ini (penghalang langit ini) kecuali karena ada sesuatu yang telah terjadi. Maka pergilah kalian ke arah timur dan arah barat dari bumi ini, kemudian perhatikan oleh kalian apa yang menjadi penyebab adanya hal ini. Sekarang berangkatlah kalian.” Segolongan jin yang ditugaskan untuk memeriksa daerah Tihamah berangkat, lalu mereka bertemu dengan Rasulullah saw. yang pada saat itu sedang berada di lembah Nakhlah. Pada saat itu Rasulullah saw. sedang mengerjakan salat dengan para sahabat, yakni salat Subuh. Sewaktu mereka mendengar bacaan Alquran, lalu mereka mendengarkan bacaan Alquran Rasulullah dengan sungguh-sungguh. Lalu mereka berkata, “Ini, demi Allah, adalah yang menghalang-halangi kalian untuk sampai kepada berita langit.” Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya; setelah mereka datang lalu mereka berkata, “Hai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan Alquran yang menakjubkan.” Maka pada saat itu Allah menurunkan firman-Nya, “Katakanlah (hai Muhammad)! Telah diwahyukan kepadaku…'” (Q.S. Al-Jin 1) Sesungguhnya kepada Rasulullah saw. hanya diwahyukan tentang perkataan atau pembicaraan jin. Imam Ibnu Jauzi di dalam kitabnya yang berjudul Shafwatush Shafwah mengetengahkan sebuah hadis berikut sanadnya melalui Sahl bin Abdullah. Sahl bin Abdullah menceritakan, pada suatu hari aku berada di salah satu kawasan tempat kaum Ad. Tiba-tiba aku melihat suatu kota yang terbuat dari batu yang dilubangi. Di dalam lubang itu yakni di tengah-tengahnya terdapat sebuah gedung yang dijadikan tempat tinggal para jin. Lalu aku memasukinya, maka tiba-tiba aku bersua dengan seorang yang sudah lanjut usianya lagi sangat besar bentuknya; ia sedang mengerjakan salat menghadap ke arah Kakbah. Orang tua atau syekh jin itu memakai jubah dari bulu yang dianyam dengan sangat indahnya. Ketakjubanku terhadap keindahan jubah yang dipakainya melebihi ketakjubanku kepada bentuk tubuhnya yang sangat besar itu. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya, dan ia pun menjawab salamku, lalu ia berkata, “Hai Sahl! Sesungguhnya badan atau jasad ini tidak dapat merusak atau melapukkan pakaian, akan tetapi sesungguhnya yang merusakkan pakaian itu adalah bau dosa-dosa dan makanan-makanan yang diharamkan. Dan sesungguhnya jubah yang aku pakai ini, tetap aku pakai sejak tujuh ratus tahun yang silam. Dengan memakai baju ini pula aku bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Lalu aku beriman kepada keduanya.” Aku bertanya, “Siapakah Anda?” Ia menjawab, “Aku adalah termasuk jin-jin yang ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka,” yaitu firman-Nya, “Katakanlah (hai Muhammad)! Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran)…” (Q.S. Al-Jin 1)

5 Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.(QS. 99:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Az Zalzalah 7
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7)
Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Said bin Jubair yang menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya…” (Q.S. Al Insaan, 8). Orang-orang muslim pada saat itu berpendapat, bahwa mereka tidak akan mendapatkan pahala apa pun jika mereka memberikan sesuatu dalam kadar yang sedikit. Orang-orang lainnya berpendapat pula, bahwa diri mereka tidak akan dicela hanya karena dosa kecil, seperti berbicara dusta, melihat wanita yang lain, mengumpat dan perbuatan berdosa lainnya yang sejenis. Mereka mengatakan, bahwa sesungguhnya Allah swt. itu hanyalah menjanjikan neraka kepada orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa besar saja. Maka Allah segera menurunkan firman-Nya, “Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Q.S. Az Zalzalah, 7-8)

6 Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata: `Apakah yang menghalanginya?` Ingatlah, di waktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya.(QS. 11:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Huud 8
وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَى أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ لَيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ أَلَا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ مَصْرُوفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (8)
Imam Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui Juraij. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Masud yang menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki yang telah mencium perempuan bukan muhrimnya. Kemudian laki-laki itu datang kepada Nabi saw. lalu menceritakan semua yang dialaminya itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam hari. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Q.S. Hud 114). Selanjutnya laki-laki itu bertanya, “Apakah hal ini khusus bagi diriku saja?” Maka Nabi saw. menjawab, “Berlaku untuk umatku semuanya.” Imam Tirmizi dan lain-lainnya meriwayatkan sebuah hadis melalui Abu Yusr yang menceritakan, aku kedatangan seorang wanita yang mau membeli buah kurma. Lalu aku katakan kepadanya, bahwa di dalam rumah terdapat buah-buah kurma yang lebih baik daripada yang di luar. Kemudian wanita itu masuk ke dalam rumah bersamaku, dan (sesampainya di dalam rumah) aku peluk dia dan kuciumi. Setelah peristiwa itu aku menghadap kepada Rasulullah saw. dan menceritakan semua kisah yang kualami itu kepadanya. Maka Nabi saw. bersabda, “Apakah engkau berani berbuat khianat seperti itu terhadap istri seorang mujahid yang sedang berjuang di jalan Allah?” Selanjutnya Rasulullah saw. menundukkan kepalanya dalam waktu yang cukup lama hingga Allah swt. menurunkan wahyu-Nya kepadanya, yaitu: “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang)……,” sampai dengan firman-Nya, “Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Q.S. Hud 114). Hadis yang serupa telah disebutkan pula dengan melalui hadisnya Abu Umamah, Mu’adz bin Jabal, Ibnu Abbas, Buraidah dan para sahabat lainnya. Hadis-hadis mereka telah disebutkan secara lengkap di dalam kitab Turjumanul Quran.

7 dan sumpahnya yang kelima: Bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.(QS. 24:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nuur 9
وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ (9)
Syaikhain dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui Siti Aisyah r.a., yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bila hendak melakukan perjalanan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Barang siapa yang namanya keluar dalam undian, maka ia akan pergi bersamanya. Lalu Rasulullah saw. mengadakan undian di antara kami dalam suatu peperangan yang akan dilakukannya, maka keluarlah bagianku, lalu aku pergi bersamanya. Peristiwa ini terjadi sesudah ayat hijab diturunkan. Selanjutnya aku dinaikkan ke atas punggung unta kendaraanku dan aku berada di dalam sekedupnya. Kami berangkat menuju medan perang yang dimaksud, ketika Rasulullah saw. telah selesai dari tugasnya, kemudian beliau kembali lagi, kota Madinah sudah dekat. Pada suatu malam Rasulullah saw. menyeru semua rombongan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan. Ketika itu juga aku pergi meninggalkan rombongan pasukan untuk menunaikan hajatku. Setelah aku menyelesaikan hajatku, aku kembali ke rombongan, tetapi di tengah jalan ketika aku meraba dadaku tiba-tiba kalungku sudah tidak ada karena terputus. Aku kembali lagi untuk mencari kalungku itu, sehingga aku tertahan selama beberapa waktu. Rombongan yang membawa aku, telah berangkat; menaikkan sekedup tempat aku berada ke atas punggung unta kendaraanku, mereka menduga bahwa aku telah berada di dalamnya. Siti Aisyah r.a. mengatakan, bahwa kaum wanita pada masa itu ringan bobotnya, karena badannya kurus. Sebab mereka makan hanya sedikit sekali. Kaum yang mengangkat sekedupku pun tidak menaruh rasa curiga terhadap ringannya berat sekedupku sewaktu mereka mengangkatnya. Oleh karenanya mereka segera menghardik untaku untuk berangkat, tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun. Aku menemukan kembali kalungku, sewaktu rombongan pasukan telah berangkat; ketika aku datang ke tempatku ternyata tidak ada seorang pun, semuanya telah berangkat. Terpaksa aku menunggu di tempatku itu, karena aku mempunyai dugaan, bahwa kelak rombongan akan merasa kehilangan aku, kemudian mereka pasti akan kembali mencariku. Sewaktu aku sedang duduk menunggu, rasa kantuk menyerangku dan membuatku tertidur nyenyak. Shofwan ibnu Mu’aththal tertinggal jauh dari rombongan pasukan karena beristirahat, kemudian ia melanjutkan perjalanannya di waktu malam hari. Pada waktu pagi harinya ia sampai ke tempatku; sesampainya di tempatku, ia melihat seseorang yang sedang tidur, yaitu aku sendiri. Begitu ia melihatku, ia langsung mengenalku karena ia pernah melihatku sebelum aku memakai hijab (kain penutup). Aku menjadi terbangun sewaktu mendengar Istirja’nya, karena begitu ia melihat dan mengenalku ia langsung mengucapkan kalimat Istirja’. Segera aku menutupkan hijab ke mukaku. Demi Allah, sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya untuk berbicara kepadaku dan aku tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya selain daripada kalimat Istirja’nya, yaitu sewaktu ia merundukkan kendaraannya. Lalu ia merundukkan kaki untanya dan aku menaikinya, kemudian ia berangkat seraya menuntun kendaraannya yang kunaiki, sedang ia sendiri berjalan kaki. Akhirnya kami dapat menyusul rombongan pasukan, yaitu sewaktu mereka Sedang beristirahat di tengah teriknya matahari waktu lohor. Sejak saat itu mulai tersiar berita bohong mengenai diriku, semoga Allah membinasakan para pelakunya. Orang yang menjadi biang keladi dan sumber berita bohong ini adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul. Ketika aku datang ke Madinah langsung aku mengalami sakit selama satu bulan dan pada masa itu orang-orang ramai membicarakan tentang berita bohong itu. Akan tetapi aku masih belum mengetahui dan belum merasakan adanya berita bohong tersebut, hingga pada suatu hari ketika aku telah sembuh dari sakit dan sedang kemaruk (sedang banyak nafsu makan karena habis sakit), aku keluar bersama Umu Misthah menuju ke Al Manashi’ tempat biasa kami membuang hajat besar. Karena terburu-buru Umu Misthah tersandung, kemudian keluarlah kata makian dari mulutnya, “Celakalah si Misthah”. Maka aku berkata kepadanya, “Alangkah buruknya apa yang telah kamu katakan itu. Apakah kamu berani mencaci seorang lelaki yang pernah ikut dalam perang Badar?” Umu Misthah menjawab, “Wahai saudaraku! Tidakkah kamu mendengar apa yang telah dikatakannya?” Aku bertanya, “Apakah yang telah dikatakannya itu?” Kemudian Umu Misthah menceritakan kepadaku apa yang dipergunjingkan oleh para penyiar berita bohong itu; hal ini menambah sakitku di samping sakit yang baru saja aku alami itu. Ketika Rasulullah saw. menggilirku, aku berkata, “Apakah engkau memberi izin kepadaku jika aku pergi ke rumah kedua orang tuaku, karena aku mau meyakinkan berita tersebut dari mereka berdua”. Maka Rasulullah saw. memberikan izin kepadaku, lalu aku pergi ke rumah kedua orang tuaku. Aku bertanya kepada ibuku, “Wahai ibuku! Apakah yang sedang dipergunjingkan oleh orang-orang tentang diriku?” Ibuku menjawab: “Wahai anakku! Bersabarlah engkau, demi Allah, sesungguhnya seorang wanita cantik yang menjadi istri seorang lelaki, yang sangat mencintainya, tetapi ia banyak mempunyai istri-istri lain, tentu istri-istrinya yang lain itu banyak membicarakan tentang dia”. Lalu aku berkata, “Maha Suci Allah, apakah memang benar orang-orang membicarakan hal ini”. Pada malam itu juga aku menangis tiada henti-hentinya, sehingga air mataku serasa habis karenanya dan malam itu aku tidak tidur sama sekali, pagi harinya pun aku masih menangis. Rasulullah saw. memanggil sahabat Ali ibnu Abu Thalib serta Usamah ibnu Zaid, yaitu sewaktu wahyu lama tidak turun. Nabi memanggil mereka berdua untuk diajak bermusyawarah mengenai masalah menjatuhkan talak kepada istrinya (yaitu aku sendiri). Usamah memberikan isyarat sesuai dengan apa yang ia telah ketahui tentang istri Nabi, yaitu membersihkan nama istri Nabi saw. Untuk itu ia mengatakan, “Mereka adalah istri-istrimu, kami tidak mengetahui tentang mereka melainkan hanya baik-baik saja”. Lain halnya dengan Ali, ia mengatakan, “Allah tidak akan membuatmu sempit, wanita-wanita selain dia cukup banyak. Jika kamu menanyakannya kepada budak perempuan, niscaya dia akan berkata sebenarnya kepadamu”. Lalu Rasulullah saw. memanggil Barirah, dan bertanya kepadanya, “Hai Barirah! Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan pada diri Aisyah?” Barirah menjawab, “Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan benar, saya tidak mempunyai gambaran lain terhadapnya kecuali dia adalah seorang gadis yang masih berusia muda, ia tertidur dengan meninggalkan roti suaminya, kemudian datanglah seorang lelaki yang kelaparan, lalu ia langsung memakannya.” Rasulullah saw., berdiri di atas mimbar, lalu meminta dukungan untuk menghadapi Abdullah ibnu Ubay, kemudian beliau bersabda, “Siapakah yang akan membantuku dalam menghadapi lelaki yang telah melukai keluargaku. Demi Allah, sepengetahuanku bahwa istriku adalah seorang yang baik.” Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, aku terus menangis sepanjang hari itu, kemudian pada malam harinya aku pun terus menangis serta tidak tidur sama sekali. Sedangkan kedua orang tuaku menyangka bahwa tangisanku itu seolah-olah memecahkan hatiku. Ketika keduanya sedang duduk bersamaku dan aku masih tetap dalam keadaan menangis, tiba-tiba ada seorang wanita dari kalangan sahabat Anshar datang meminta izin untuk menemuiku. Aku memberi izin masuk kepadanya, ia pun duduk dan menangis pula menemaniku. Kemudian Rasulullah saw. masuk seraya mengucapkan salam, lalu duduk, sedangkan wahyu masih belum turun kepadanya selama sebulan mengenai perihal diriku ini. Rasulullah saw. terlebih dahulu membaca syahadat, lalu beliau bersabda, “Amma ba’du, wahai Aisyah! Sesungguhnya telah sampai suatu berita kepadaku tentang dirimu, yaitu demikian dan demikian. Maka jika kamu bersih niscaya Allah akan membersihkan dirimu (melalui wahyu-Nya), dan jika kamu telah melakukan perbuatan dosa, maka mintalah ampun kepada Allah, kemudian bertobatlah, karena sesungguhnya seseorang hamba, apabila ia mengakui berbuat dosa, kemudian ia bertobat, niscaya Allah akan mengampuninya”. Setelah Rasulullah saw. selesai dari ucapannya itu, aku berkata kepada ayahku, “Jawablah Rasulullah atas namaku”. Tetapi ayahku berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang harus kukatakan kepadanya”. Kemudian aku berkata kepada ibuku, “Jawablah Rasulullah, sebagai pengganti diriku”. Maka ibuku menjawab, “Aku tidak mengetahui apa yang harus kukatakan kepadanya”. Lalu aku menjawab, sedang keadaanku pada waktu itu adalah seorang gadis yang teramat muda usianya, “Demi Allah, aku telah mengetahui bahwa engkau telah mendengar berita ini, hingga berita ini mantap di dalam hati engkau dan engkau percaya kepadanya. Maka jika aku mengatakan kepada engkau, sesungguhnya aku bersih, sedangkan Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih, niscaya engkau tidak akan mempercayaiku”. Menurut riwayat yang lain dikatakan, bahwa Siti Aisyah berkata, “Seandainya aku mengakui kepada kalian telah melakukan suatu perkara, sedangkan Allah Maha Mengetahui, bahwa aku bersih dari hal tersebut, maka niscaya kamu percaya kepadaku. Sesungguhnya aku ini, demi Allah, tidak menemukan suatu perumpamaan mengenai diriku dan kamu, melainkan hanya seperti apa yang telah dikatakan oleh bapak Nabi Yusuf, ‘Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.’ (Q.S. 12 Yusuf, 18).” Setelah aku mengatakan demikian lalu aku pergi berpaling darinya, lalu aku langsung merebahkan diri ke tempat tidur. Demi Allah, setelah peristiwa itu Rasulullah saw. tidak lagi pergi ke majelisnya dan tidak ada seorang pun dari kalangan Ahlul Bait yang keluar, hingga Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi-Nya. Setelah wahyu turun, maka tampak kembali kegairahan beliau saw. sebagaimana biasanya. Dan setelah kedatangan berita gembira itu kalimat pertama yang diucapkannya ialah, “Hai Aisyah! Bergembiralah, ingatlah bahwa Allah telah menyucikanmu”. Lalu ibuku berkata kepadaku: “Mendekatlah kepadanya”. Maka aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendekat kepadanya dan aku tiada memuji melainkan hanya kepada Allah; karena Dia-lah yang telah menurunkan kebersihanku”. Allah swt. telah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian…” (Q.S. An Nur, 11 sampai dengan sepuluh ayat kemudian).

8 Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): `Apakah yang dikatakannya tadi` Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.(QS. 47:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Muhammad 16
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (16)
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis demikian pula Muhammad bin Nashr Al Marwazi di dalam kitab Salat-nya, meriwayatkan hadis ini melalui Abul Aliyah yang menceritakan, bahwa para Sahabat Rasulullah saw. mempunyai pandangan, tiada suatu dosa pun yang membahayakan bila pelakunya beriman, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sebagaimana mereka pun berpandangan bahwa tiada suatu amal pun yang bermanfaat bila pelakunya musyrik. Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kalian merusak (pahala) amal-amal kalian.” (Q.S. Muhammad, 33) Akhirnya mereka merasa khawatir amal mereka akan terhapus oleh perbuatan dosa (yakni mereka tidak lagi mempunyai pandangan seperti semula. pent.).

9 Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 24:22)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nuur 22
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (22)
Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis melalui Khushaif. Khushaif menceritakan, aku berkata kepada Said ibnu Jubair: “Manakah yang dosanya lebih berat, zina atau qadzaf (menuduh berzina)?” Said ibnu Jubair menjawab, “Zina lebih besar dosanya”. Aku menjawab, “Sesungguhnya Allah telah berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina)…'” (Q.S. An Nur, 23). Said ibnu Jubair menjawab, “Sesungguhnya ayat itu hanya diturunkan berkenaan dengan perihal Siti Aisyah”. Hanya saja hadis ini dalam sanadnya terdapat Yahya Al Hammamy, ia dikenal seorang yang daif. Imam Thabrani mengetengahkan pula hadis ini, hanya kali ini ia melalui Dhahhak ibnu Murahim yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan istri-istri Nabi saw. secara khusus, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina)…” (Q.S. An Nur, 23).

10 Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. 4:24)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nisaa’ 24
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (24)
Muslim, Abu Daud, Tirmizi meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, katanya, “Kami beroleh wanita-wanita tawanan dari Bani Authas yang masih mempunyai suami. Mereka tidak bersedia kami campuri disebabkan masih bersuami itu. Lalu kami tanyakan hal itu kepada Nabi saw., maka turunlah ayat, ‘Dan diharamkan mengawini wanita-wanita yang bersuami kecuali hamba sahaya yang menjadi milikmu.’ (Q.S. An-Nisa 24) maksudnya kecuali yang diberikan Allah kepadamu sebagai orang-orang tawanan, maka dengan ayat itu halallah bagi kami kehormatan mereka.” Thabrani dari Ibnu Abbas mengetengahkan, katanya, “Ayat itu turun di waktu perang Hunain tatkala kaum muslimin diberi kemenangan oleh Allah di perang Hunain, mereka mendapatkan beberapa orang wanita dari kalangan Ahli Kitab yang masih mempunyai suami. Jika salah seorang di antara mereka hendak dicampuri maka jawabnya, ‘Saya ini bersuami’, maka turunlah ayat, ‘Dan diharamkan pula kamu mengawini wanita-wanita yang bersuami…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 24) Ibnu Jarir mengetengahkan dari Muammar bin Sulaiman, dari bapaknya, katanya, “Seorang laki-laki dari Hadramaut mengajukan soal, ‘Bagaimana bila suami-suami telah menetapkan maskawin lalu siapa tahu mereka ditimpa oleh kesulitan’, maka turunlah ayat, ‘Dan kamu tidak berdosa mengenai sesuatu yang telah saling kamu relakan, setelah mahar ditetapkan itu.'” (Q.S. An-Nisa 24)

11 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.(QS. 24:27)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nuur 27
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Muqatil ibnu Hayyan yang menceritakan, bahwa ketika ayat meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain diturunkan, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimana nanti dengan para pedagang Quraisy, yaitu orang-orang yang sering bolak-balik antara Mekah, Madinah dan negeri Syam, sedangkan mereka mempunyai rumah-rumah yang telah dikenal oleh mereka di tengah-tengah jalan, maka bagaimanakah mereka meminta izin dan mengucapkan salam, sedangkan di dalam rumah-rumah mereka yang di tengah jalan itu tidak ada penghuninya?” Maka turunlah firman-Nya, “Tidak ada dosa atas kalian memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami…” (Q.S. An Nur, 29).

12 (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.(QS. 53:32)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Najm 32
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى (32)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah, bahwa Nabi saw. berangkat menuju ke salah satu medan peperangan. Datanglah seorang lelaki yang bermaksud ikut, tetapi ia tidak mempunyai kendaraan untuk berangkat perang. Ia bertemu dengan seorang temannya lalu berkata, “Berikanlah aku kendaraan.” Maka si teman itu menjawab, “Aku akan memberikan kepadamu untaku yang terbaik ini dengan syarat, hendaknya kamu mau memikul dosa-dosaku.” Lalu lelaki itu menjawab, “Baiklah saya setuju.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Ceritakanlah kepada-Ku tentang orang yang berpaling.” (Q.S. An Najm, 33) Ibnu Abu Hatim juga mengetengahkan hadis ini melalui Daraj Abu Samah yang menceritakan, bahwa suatu pasukan berangkat ke medan perang lalu seorang lelaki meminta kepada Rasulullah saw. hewan kendaraan untuknya. Rasulullah menjawab, “Aku tidak memiliki hewan kendaraan untukmu.” Kemudian lelaki itu pergi dengan hati yang sedih lalu ia bersua dengan seorang lelaki yang unta kendaraannya sedang diistirahatkan di hadapannya, “‘Maukah engkau bila menaiki kendaraanku ini dan menyusul pasukan (kaum muslimin) dengan membawa pahala kebaikanmu?” Maka lelaki yang tidak berkendaraan itu mengatakan, “Ya.” Maka ia berangkat dengan kendaraan untanya, lalu turunlah firman-Nya, “Ceritakanlah kepada-Ku tentang orang yang berpaling.” (Q.S. An Najm, 33) sampai dengan firman-Nya, “Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (Q.S. An Najm, 41) Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Zaid yang menceritakan, bahwa ada seorang lelaki masuk Islam, lalu ia ditemui oleh sebagian orang yang telah memberikan pinjaman kepadanya. Lalu orang itu berkata kepadanya, “Apakah kamu lupa akan utangmu kepada orang-orang tua itu sehingga kamu membiarkan mereka kehilangan, sedangkan kamu menduga bahwa mereka masuk neraka.” Lelaki itu menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada siksaan Allah.” Orang itu berkata, “Berikanlah kepadaku sesuatu, maka aku bersedia menanggung semua azab yang ditimpakan kepadamu.” Lelaki itu memberinya sesuatu yang dimaksud. Tetapi orang itu berkata, “Berikanlah kepadaku lebih dari itu.” akhirnya keduanya saling tawar menawar. Lelaki itu memberinya sesuatu yang dimintanya, lalu menuliskan hal itu dan memanggil saksi untuk itu. Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tadi, yaitu firman-Nya, “Ceritakanlah kepada-Ku tentang orang yang berpaling serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi.” (Q.S. An Najm, 33-34)

13 Berkatalah orang-orang yang kafir:` Mengapa Al quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? `; Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok.(QS. 25:32)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Furqaan 32
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا (32)
Syaikhan mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Masud r.a. yang menceritakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Dosa manakah yang paling besar?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, sedangkan Dialah Yang telah menciptakan dirimu’. Aku bertanya kembali, ‘Kemudian dosa apa lagi?’ Rasul menjawab, ‘Bilamana kamu membunuh anakmu karena khawatir dia ikut makan bersamamu.’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian dosa apa lagi?’ Rasul menjawab, ‘Jika kamu berzina dengan istri tetanggamu.’ Kemudian Allah swt menurunkan firman-Nya, ‘Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.’ (Q.S.. Al Furqan, 68).”

14 Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. 9:41)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah At Taubah 41
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (41)
Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah atsar melalui Mujahid sehubungan dengan ayat ini. Mujahid menceritakan bahwa hal ini terjadi ketika mereka diperintahkan untuk berangkat ke medan perang Tabuk sesudah penaklukan kota Mekah. Mereka diperintahkan untuk berangkat, sedangkan pada saat itu sedang musim panas dan buah-buahan sedang mulai masak. Suasananya pada saat itu membuat orang-orang senang bernaung-naung di bawah pepohonan, dan sangat berat bila diajak untuk berangkat ke medan perang. maka Allah menurunkan firman-Nya, “Berangkatlah kalian baik dalam keadaan ringan atau pun merasa berat.” (Q.S. At-Taubah 41). Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah atsar melalui Hadhramiy yang menceritakan, ia mendengar berita, bahwa ada orang-orang yang salah seorang dari mereka sedang terkena sakit atau karena usia terlalu tua, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku berdosa karena tidak ikut ke medan perang.” Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (Q.S. At-Taubah 41).

15 Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampun untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.(QS. 33:43)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 43
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)
Ibnu Jarir mengetangahkan sebuah hadis melalui Ikrimah dari Hasan Al Bashri, yang keduanya menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya, “Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” (Q.S. Al Fat-h, 2), lalu segolongan orang-orang Mukmin berkata, “Selamatlah bagimu, wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui apa yang dilakukan oleh-Nya terhadapmu, maka apakah yang akan dilakukan oleh Allah terhadap kami?” Allah menurunkan firman-Nya, “…supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga.” (Q.S. Al Fat-h, 5); Di dalam surah Al Ahzab Allah menurunkan firman-Nya, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Q.S. Al Ahzab, 47). Imam Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah mengetengahkan sebuah hadis melalui Rabi’ ibnu Anas yang menceritakan bahwa ketika turun firman-Nya, “…dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadap kalian.” (Q.S. Al Ahqaf 9) sesudah itu turun pula firman-Nya yang lain, yaitu, “…supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” (Q.S. Al Fat-h, 2), para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui apa yang Dia lakukan terhadap dirimu, maka apakah yang akan Dia lakukan terhadap kami?” Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Q.S. Al Ahzab, 47). Yang dimaksud karunia yang besar adalah surga; demikianlah menurut Ibnu Jarir.

16 Sesungguhnya pohon zaqqum itu,(QS. 44:43)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Ad Dukhaan 43
إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ (43)
Sa’id bin Manshur mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Malik yang menceritakan bahwa Abu Jahal datang dengan membawa buah kurma dan keju, lalu ia berkata, “Berzaqqumlah kalian (makanlah oleh kalian), inilah zaqqum yang diancamkan oleh Muhammad kepada kalian.” Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa” (Q.S. Dukhan, 43-44).

17 Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.(QS. 54:45)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Qamar 45
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ (45)
Imam Muslim mengetengahkan sebuah hadis, demikian pula Imam Tirmizi, keduanya mengetengahkan hadis ini dengan bersumber dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan, bahwa pada suatu hari datanglah orang-orang kafir Quraisy dengan maksud untuk berbantahan dengan Rasulullah saw. dalam masalah takdir, lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” (Q.S. Al Qamar, 47) sampai dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. Al Qamar, 49)

18 Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.(QS. 54:47)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Qamar 47
إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ (47)
Imam Muslim mengetengahkan sebuah hadis, demikian pula Imam Tirmizi, keduanya mengetengahkan hadis ini dengan bersumber dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan, bahwa pada suatu hari datanglah orang-orang kafir Quraisy dengan maksud untuk berbantahan dengan Rasulullah saw. dalam masalah takdir, lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” (Q.S. Al Qamar, 47) sampai dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. Al Qamar, 49)

19 Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. 4:48)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nisaa’ 48
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (48)
Ibnu Abu Hatim dan Thabrani mengetengahkan dari Abu Ayub Al-Anshari, katanya, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw., lalu katanya, ‘Saya mempunyai seorang anak saudara laki-laki yang tidak henti-hentinya mengerjakan yang haram.’ Tanya Rasulullah, ‘Apa agamanya?’ Jawabnya, ‘Dia melakukan salat dan mengesakan Allah.’ Sabda Rasulullah, ‘Mintalah agamanya itu kepadanya, dan kalau dia berkeberatan, maka belilah!’ Laki-laki itu pun melakukan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah tadi, tetapi keponakannya itu menolak. Maka kembalilah laki-laki itu kepada Rasulullah, katanya, ‘Saya lihat ia amat fanatik sekali kepada agamanya.’ Maka turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dan Dia akan mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'” (Q.S. An-Nisa 48)

20 (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): `Rasakanlah sentuhan api neraka`.(QS. 54:48)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Qamar 48
يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ (48)
Imam Muslim mengetengahkan sebuah hadis, demikian pula Imam Tirmizi, keduanya mengetengahkan hadis ini dengan bersumber dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan, bahwa pada suatu hari datanglah orang-orang kafir Quraisy dengan maksud untuk berbantahan dengan Rasulullah saw. dalam masalah takdir, lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” (Q.S. Al Qamar, 47) sampai dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. Al Qamar, 49)

21 Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.(QS. 4:49)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nisaa’ 49
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (49)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Orang-orang Yahudi menonjolkan anak-anak mereka di waktu salat dan menyajikan kurban-kurban mereka serta mengaku bahwa mereka tidak mempunyai dosa dan kesalahan. Maka Allah menurunkan, ‘Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka bersih?'” (Q.S. An-Nisa 49) Ibnu Jarir mengetengahkan pula yang serupa dengan itu dari Ikrimah, Mujahid, Abu Malik dan lain-lain.

22 Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain Allah, agar mereka bertakwa.(QS. 6:51)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al An’aam 51
وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (51)
Imam Ahmad, Imam Thabrani dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui Ibnu Masud r.a. yang telah mengatakan, bahwa ada segolongan orang-orang Quraisy bertemu dengan Rasulullah saw. yang ketika itu sedang bersama Khabbab bin Art, Shuhaib, Bilal dan Ammar. Kemudian mereka berkata, “Hai Muhammad! Apakah engkau suka terhadap mereka dan apakah mereka orang-orang yang mendapat anugerah dari Allah di antara kami? Andaikata engkau mengusir mereka niscaya kami mau mengikutimu.” Lalu Allah swt. menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan mereka, yaitu firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan Tuhan…” sampai dengan firman-Nya, “…supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-An’am 51-55). Dan Ibnu Jarir mengetengahkan melalui Ikrimah yang telah mengatakan, bahwa telah datang Atabah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muth’im bin Addi dan Harts bin Naufal beserta para pemuka kabilah Abdul Manaf dari kalangan kaum kafir kepada Abu Thalib. Kemudian mereka berkata kepadanya, “Seandainya anak saudaramu mengusir hamba-hamba sahaya tersebut, niscaya ia sangat kami agungkan dan akan ditaati di kalangan kami serta ia lebih dekat kepada kami, dan niscaya kami akan mengikutinya.” Lalu Abu Thalib menyampaikan permintaan mereka kepada Nabi saw. Umar bin Khaththab mengusulkan, “Bagaimana jika engkau melakukan apa yang mereka pinta itu, kemudian mari kita lihat apa yang akan mereka kehendaki.” Akan tetapi kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan…,” sampai dengan firman-Nya, “…tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. Al-An’am 51-53). Mereka yang dimaksud adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim bekas budak Ibnu Huzaifah, Saleh bekas budak Usaid, Ibnu Masud, Miqdad bin Abdullah, Waqid bin Abdullah Al-Hanzhali dan orang-orang yang miskin seperti mereka. Akhirnya Umar menghadap Nabi saw. seraya memohon maaf atas perkataannya itu. Setelah itu turunlah firman-Nya, “Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami…” (Q.S. Al-An’am ayat 54).

23 Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keredhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).(QS. 6:52)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al An’aam 52
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (52)
Imam Ahmad, Imam Thabrani dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui Ibnu Masud r.a. yang telah mengatakan, bahwa ada segolongan orang-orang Quraisy bertemu dengan Rasulullah saw. yang ketika itu sedang bersama Khabbab bin Art, Shuhaib, Bilal dan Ammar. Kemudian mereka berkata, “Hai Muhammad! Apakah engkau suka terhadap mereka dan apakah mereka orang-orang yang mendapat anugerah dari Allah di antara kami? Andaikata engkau mengusir mereka niscaya kami mau mengikutimu.” Lalu Allah swt. menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan mereka, yaitu firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan Tuhan…” sampai dengan firman-Nya, “…supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-An’am 51-55). Ibnu Hibban dan Hakim meriwayatkan melalui Saad bin Abu Waqqash yang mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan enam orang, yaitu saya sendiri, Abdullah bin Masud dan empat orang lainnya. Mereka (kaum musyrikin) berkata kepada Rasulullah saw., “Usirlah mereka (yakni para pengikut Nabi) sebab kami merasa malu menjadi pengikutmu seperti mereka.” Akhirnya hampir saja Nabi saw. terpengaruh oleh permintaan mereka, akan tetapi sebelum terjadi, Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya…,” sampai dengan firman-Nya, “…Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. Al-An’am 52-53). Dan Ibnu Jarir mengetengahkan melalui Ikrimah yang telah mengatakan, bahwa telah datang Atabah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muth’im bin Addi dan Harts bin Naufal beserta para pemuka kabilah Abdul Manaf dari kalangan kaum kafir kepada Abu Thalib. Kemudian mereka berkata kepadanya, “Seandainya anak saudaramu mengusir hamba-hamba sahaya tersebut, niscaya ia sangat kami agungkan dan akan ditaati di kalangan kami serta ia lebih dekat kepada kami, dan niscaya kami akan mengikutinya.” Lalu Abu Thalib menyampaikan permintaan mereka kepada Nabi saw. Umar bin Khaththab mengusulkan, “Bagaimana jika engkau melakukan apa yang mereka pinta itu, kemudian mari kita lihat apa yang akan mereka kehendaki.” Akan tetapi kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan…,” sampai dengan firman-Nya, “…tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. Al-An’am 51-53). Mereka yang dimaksud adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim bekas budak Ibnu Huzaifah, Saleh bekas budak Usaid, Ibnu Masud, Miqdad bin Abdullah, Waqid bin Abdullah Al-Hanzhali dan orang-orang yang miskin seperti mereka. Akhirnya Umar menghadap Nabi saw. seraya memohon maaf atas perkataannya itu. Setelah itu turunlah firman-Nya, “Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami…” (Q.S. Al-An’am ayat 54). Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim dan selain mereka berdua mengetengahkan melalui Khabbab yang telah berkata, bahwa Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Hishn telah datang menghadap, lalu mereka menemukan Rasulullah saw. bersama Shuhaib, Bilal, Ammar dan Khabbab dalam keadaan duduk-duduk ditemani oleh segolongan kaum mukminin yang lemah-lemah. Tatkala mereka melihat orang-orang tersebut berada di sekitar Nabi saw., mereka menghina orang-orang lemah sahabat Nabi itu. Kemudian mereka menemui Nabi saw. secara tertutup lalu mereka berkata, “Kami menghendaki engkau membuat suatu majelis tersendiri untuk kami, tentu engkau telah mengetahui kedudukan kami di kalangan orang-orang Arab. Sebab para utusan Arab sering datang kepadamu; kami merasa malu apabila datang utusan orang-orang Arab, mereka melihat kami bersama dengan budak-budak itu. Untuk itu kami minta apabila kami datang kepadamu, harap engkau mengusir mereka dari sisimu, dan apabila kami telah selesai bertemu denganmu, maka kami persilakan engkau duduk kembali bersama mereka jika hal itu engkau kehendaki.” Nabi saw. menjawab, “Ya.” Kemudian setelah itu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (Q.S. Al-An’am 52). Kemudian Allah swt. menyebutkan tentang Aqra’ dan temannya itu melalui firman-Nya, “Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang yang miskin)…” (Q.S. Al-An’am 53). Dan tersebutlah bahwa Rasulullah saw. sering duduk-duduk bersama kami, apabila ia bermaksud pergi, maka ia berdiri dan meninggalkan kami masih dalam keadaan duduk. Setelah itu turunlah firman Allah, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (Q.S. Al-Kahfi 28). Ibnu Katsir berkata, “Hadis ini adalah hadis garib, sebab sesungguhnya ayat ini adalah Makiah, sedangkan Aqra’ dan Uyainah sesungguhnya mereka berdua baru masuk Islam sesudah lewat satu tahun masa hijrah.”

24 Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.(QS. 33:52)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 52
لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا (52)
Mengenai hadis yang menyangkut Umar r.a. telah kami sebutkan di dalam surah Al Baqarah. Syaikhain mengetengahkan sebuah hadis melalui Anas r.a. yang menceritakan, “Ketika Nabi saw. nikah dengan Zainab binti Jahsy, Nabi saw. mengundang orang-orang, lalu memberinya makan. Setelah itu mereka masih tetap duduk-duduk sambil berbincang-bincang, maka Nabi saw. berlaku seolah-olah hendak berdiri akan tetapi mereka masih tetap duduk tidak mau berdiri, meninggalkan tempat itu. Ketika Nabi saw. melihat gelagat tersebut, maka terpaksa ia bangkit, lalu bangkitlah sebagian orang-orang yang ada di situ dan pergi tetapi masih ada tiga orang tetap duduk, hanya tidak berapa lama kemudian mereka pun pergi pula. Lalu aku datang menemui nabi dan memberitahukan kepadanya, bahwa mereka (orang-orang yang diundang menghadiri jamuan walimah) telah bubar. Kemudian Nabi saw. datang dan masuk ke dalam rumah dan aku pun masuk mengikutinya. Tiba-tiba ia memasang hijab antara aku dan dia (artinya aku tidak diperkenankan masuk), sesudah itu Allah menurunkan firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah-rumah nabi…’ (Q.S. Al Ahzab, 53). sampai dengan firman-Nya, ‘Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.’ (Q.S. Al Ahzab, 53).” Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang menurut penilaiannya hadis itu hasan sumbernya dari Anas r.a. yang menceritakan, “Pada suatu hari aku bersama Rasulullah saw. kemudian Rasulullah saw. mendatangi pintu rumah istri yang baru saja dikawinnya, tetapi beliau menjumpai bahwa di rumahnya masih banyak orang. Lalu Rasulullah pergi, kemudian kembali lagi, orang-orang pada saat itu telah keluar semuanya, kemudian Rasulullah saw. masuk rumah dan menurunkan kain penutup antara aku dan dia. Lalu aku ceritakan hal itu kepada Abu Thalhah, Abu Thalhah menjawab, ‘Jika keadaannya memang seperti apa yang kamu katakan itu, sungguh nanti akan turun wahyu yang akan menjelaskannya’, maka turunlah ayat hijab.” Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih bersumber dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan, “Pada suatu hari aku sedang makan bersama dengan nabi dalam satu piring besar, tiba-tiba Umar lewat. Nabi saw. mengajaknya untuk ikut makan, lalu Umar pun makan bersama kami, ternyata ketika kami sedang makan jari telunjuk nabi mengenai jari telunjukku, lalu Nabi saw. mengaduh seraya berkata, ‘Seandainya kalian taat, niscaya tidak ada mata yang melihat kalian’. Kemudian turunlah ayat hijab.” Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, “Pada suatu hari seorang lelaki masuk menemui Nabi saw. lalu lelaki itu duduk lama sekali. Nabi saw. telah keluar sebanyak tiga kali supaya lelaki itu keluar, tetapi ternyata lelaki itu tidak juga mau keluar. Lalu Umar masuk menemui Nabi saw., Umar melihat pada wajah nabi adanya tanda tidak senang. Maka Umar berkata kepada lelaki itu, ‘Mungkjn kamu telah membuat nabi tidak senang’. Nabi berkata, ‘Sungguh aku telah pergi sebanyak tiga kali supaya ia mengikutiku, akan tetapi ternyata ia tidak juga mau mengikutiku’. Umar berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah! alangkah baiknya seandainya engkau membuat hijab, karena sesungguhnya istri-istrimu tidaklah seperti wanita-wanita biasa; dengan adanya kain penutup atau hijab itu, maka hal itu lebih membuat bersih hati mereka’. Kemudian turunlah ayat hijab.” Hafiz ibnu Hajar memberikan komentarnya, kedua Asbabun Nuzul ini dapat disatukan, dengan anggapan bahwa hal ini terjadi sebelum peristiwa Siti Zainab, karena mengingat dekatnya masa turun antara kedua Asbabun Nuzul ini, maka kedua-duanya disebutkan sebagai Asbabun Nuzul ayat hijab. Tidaklah mengapa banyak Asbabun Nuzul sekalipun subjeknya satu. Abu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Muhammad ibnu Kaab yang menceritakan, “Apabila Rasulullah saw. bangkit lalu menuju ke rumahnya, mereka (para sahabat) segera mengikutinya, kemudian membentuk suatu majelis. Maka hal itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa pada diri Rasulullah saw. karena tidak terlihat tanda-tanda yang tidak wajar pada roman muka beliau. Hanya saja beliau tidak mau mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan karena merasa malu terhadap mereka. Lalu mereka ditegur atas perbuatan itu melalui firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah-rumah nabi…” (Q.S. Al Ahzab, 53). Firman Allah swt., “Dan tidak boleh bagi kalian …” (Q.S. Al Ahzab, 53). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Zaid yang menceritakan bahwa telah sampai suatu berita kepada Nabi saw. di mana seorang laki-laki mengatakan, “Jika Nabi saw. benar-benar telah wafat, aku akan mengawini si Fulanah, jandanya”. Lalu turunlah firman-Nya, “Dan tidak boleh kalian menyakiti (hati) Rasulullah…” (Q.S. Al Ahzab, 53). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui lbnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki yang bermaksud menikahi sebagian istri-istri Nabi saw. sesudah Nabi saw. wafat. Sofyan mengatakan, “Mereka telah menyebutkan bahwa wanita yang dimaksud adalah Siti Aisyah”. Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lain melalui Saddi yang menceritakan bahwa telah sampai kepada kami, bahwa Thalhah ibnu Ubaidillah pernah mengatakan, “Apakah Muhammad menghalang-halangi kami dari anak-anak perempuan paman kami sendiri, sedangkan dia sendiri telah mengawini perempuan-perempuan kami. Jikalau terjadi suatu hal terhadap dirinya, sungguh kami akan menikahi istri-istrinya sesudah ia wafat”, maka turunlah ayat ini. Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Bakar ibnu Amr ibnu Hazm yang menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Thalhah ibnu Ubaidillah, karena sesungguhnya ia pernah mengatakan, “Apabila Rasulullah saw. wafat, niscaya aku akan mengawini Siti Aisyah”. Juwaibir mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang mendatangi sebagian istri-istri Nabi saw. lalu ia berbicara kepadanya, dia adalah anak paman dari istri nabi sendiri. Maka Nabi saw. berkata kepada lelaki itu, “Sungguh mulai sejak sekarang, kamu saya larang berada di tempat ini lagi”. Lalu lelaki itu menjawab, “Sesungguhnya dia adalah anak pamanku sendiri, demi Allah, aku tidak mengatakan hal-hal yang mungkar kepadanya, dan dia sendiri pun tidak mengatakan apa-apa kepadaku”. Nabi saw. bersabda, “Kamu telah mengetahui hal tersebut, yaitu bahwasanya tiada seorang pun yang lebih besar cemburunya daripada Allah dan bahwasanya tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripadaku”, lalu lelaki itu pergi seraya berkata, “Dia (Nabi) telah melarangku untuk berbicara dengan anak pamanku sendiri, sungguh jika ia telah wafat aku akan mengawininya”. Maka Allah swt. menurunkan ayat ini. Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa setelah turunnya ayat itu lelaki tersebut memerdekakan seorang budak, kemudian ia menanggung sepuluh ekor unta sebagai kendaraan untuk perang Sabilillah dan ia melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Kesemuanya itu dimaksudkan sebagai tobat darinya atas perkataan yang telah diucapkannya tadi.

25 Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya) berkata:` Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka? ` (Allah berfirman):` Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)? `(QS. 6:53)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al An’aam 53
وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ (53)
Imam Ahmad, Imam Thabrani dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui Ibnu Masud r.a. yang telah mengatakan, bahwa ada segolongan orang-orang Quraisy bertemu dengan Rasulullah saw. yang ketika itu sedang bersama Khabbab bin Art, Shuhaib, Bilal dan Ammar. Kemudian mereka berkata, “Hai Muhammad! Apakah engkau suka terhadap mereka dan apakah mereka orang-orang yang mendapat anugerah dari Allah di antara kami? Andaikata engkau mengusir mereka niscaya kami mau mengikutimu.” Lalu Allah swt. menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan mereka, yaitu firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan Tuhan…” sampai dengan firman-Nya, “…supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-An’am 51-55). Ibnu Hibban dan Hakim meriwayatkan melalui Saad bin Abu Waqqash yang mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan enam orang, yaitu saya sendiri, Abdullah bin Masud dan empat orang lainnya. Mereka (kaum musyrikin) berkata kepada Rasulullah saw., “Usirlah mereka (yakni para pengikut Nabi) sebab kami merasa malu menjadi pengikutmu seperti mereka.” Akhirnya hampir saja Nabi saw. terpengaruh oleh permintaan mereka, akan tetapi sebelum terjadi, Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya…,” sampai dengan firman-Nya, “…Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. Al-An’am 52-53). Dan Ibnu Jarir mengetengahkan melalui Ikrimah yang telah mengatakan, bahwa telah datang Atabah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muth’im bin Addi dan Harts bin Naufal beserta para pemuka kabilah Abdul Manaf dari kalangan kaum kafir kepada Abu Thalib. Kemudian mereka berkata kepadanya, “Seandainya anak saudaramu mengusir hamba-hamba sahaya tersebut, niscaya ia sangat kami agungkan dan akan ditaati di kalangan kami serta ia lebih dekat kepada kami, dan niscaya kami akan mengikutinya.” Lalu Abu Thalib menyampaikan permintaan mereka kepada Nabi saw. Umar bin Khaththab mengusulkan, “Bagaimana jika engkau melakukan apa yang mereka pinta itu, kemudian mari kita lihat apa yang akan mereka kehendaki.” Akan tetapi kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan…,” sampai dengan firman-Nya, “…tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. Al-An’am 51-53). Mereka yang dimaksud adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim bekas budak Ibnu Huzaifah, Saleh bekas budak Usaid, Ibnu Masud, Miqdad bin Abdullah, Waqid bin Abdullah Al-Hanzhali dan orang-orang yang miskin seperti mereka. Akhirnya Umar menghadap Nabi saw. seraya memohon maaf atas perkataannya itu. Setelah itu turunlah firman-Nya, “Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami…” (Q.S. Al-An’am ayat 54). Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim dan selain mereka berdua mengetengahkan melalui Khabbab yang telah berkata, bahwa Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Hishn telah datang menghadap, lalu mereka menemukan Rasulullah saw. bersama Shuhaib, Bilal, Ammar dan Khabbab dalam keadaan duduk-duduk ditemani oleh segolongan kaum mukminin yang lemah-lemah. Tatkala mereka melihat orang-orang tersebut berada di sekitar Nabi saw., mereka menghina orang-orang lemah sahabat Nabi itu. Kemudian mereka menemui Nabi saw. secara tertutup lalu mereka berkata, “Kami menghendaki engkau membuat suatu majelis tersendiri untuk kami, tentu engkau telah mengetahui kedudukan kami di kalangan orang-orang Arab. Sebab para utusan Arab sering datang kepadamu; kami merasa malu apabila datang utusan orang-orang Arab, mereka melihat kami bersama dengan budak-budak itu. Untuk itu kami minta apabila kami datang kepadamu, harap engkau mengusir mereka dari sisimu, dan apabila kami telah selesai bertemu denganmu, maka kami persilakan engkau duduk kembali bersama mereka jika hal itu engkau kehendaki.” Nabi saw. menjawab, “Ya.” Kemudian setelah itu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, “Janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (Q.S. Al-An’am 52). Kemudian Allah swt. menyebutkan tentang Aqra’ dan temannya itu melalui firman-Nya, “Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang yang miskin)…” (Q.S. Al-An’am 53). Dan tersebutlah bahwa Rasulullah saw. sering duduk-duduk bersama kami, apabila ia bermaksud pergi, maka ia berdiri dan meninggalkan kami masih dalam keadaan duduk. Setelah itu turunlah firman Allah, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (Q.S. Al-Kahfi 28). Ibnu Katsir berkata, “Hadis ini adalah hadis garib, sebab sesungguhnya ayat ini adalah Makiah, sedangkan Aqra’ dan Uyainah sesungguhnya mereka berdua baru masuk Islam sesudah lewat satu tahun masa hijrah.”

26 Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah:` Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 6:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al An’aam 54
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (54)
Imam Ahmad, Imam Thabrani dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui Ibnu Masud r.a. yang telah mengatakan, bahwa ada segolongan orang-orang Quraisy bertemu dengan Rasulullah saw. yang ketika itu sedang bersama Khabbab bin Art, Shuhaib, Bilal dan Ammar. Kemudian mereka berkata, “Hai Muhammad! Apakah engkau suka terhadap mereka dan apakah mereka orang-orang yang mendapat anugerah dari Allah di antara kami? Andaikata engkau mengusir mereka niscaya kami mau mengikutimu.” Lalu Allah swt. menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan mereka, yaitu firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan Tuhan…” sampai dengan firman-Nya, “…supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-An’am 51-55). Dan Ibnu Jarir mengetengahkan melalui Ikrimah yang telah mengatakan, bahwa telah datang Atabah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muth’im bin Addi dan Harts bin Naufal beserta para pemuka kabilah Abdul Manaf dari kalangan kaum kafir kepada Abu Thalib. Kemudian mereka berkata kepadanya, “Seandainya anak saudaramu mengusir hamba-hamba sahaya tersebut, niscaya ia sangat kami agungkan dan akan ditaati di kalangan kami serta ia lebih dekat kepada kami, dan niscaya kami akan mengikutinya.” Lalu Abu Thalib menyampaikan permintaan mereka kepada Nabi saw. Umar bin Khaththab mengusulkan, “Bagaimana jika engkau melakukan apa yang mereka pinta itu, kemudian mari kita lihat apa yang akan mereka kehendaki.” Akan tetapi kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan…,” sampai dengan firman-Nya, “…tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. Al-An’am 51-53). Mereka yang dimaksud adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim bekas budak Ibnu Huzaifah, Saleh bekas budak Usaid, Ibnu Masud, Miqdad bin Abdullah, Waqid bin Abdullah Al-Hanzhali dan orang-orang yang miskin seperti mereka. Akhirnya Umar menghadap Nabi saw. seraya memohon maaf atas perkataannya itu. Setelah itu turunlah firman-Nya, “Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami…” (Q.S. Al-An’am ayat 54). Faryabi dan Ibnu Abu Hatim mengetengahkan melalui Mahan yang telah mengatakan, bahwa pada suatu hari ada orang-orang datang menemui Nabi saw. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah melakukan dosa-dosa yang besar”, akan tetapi Nabi saw. sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu…” (Q.S. Al-An’am 54).

27 Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al quran, supaya jelas jalan orang-orang yang saleh dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.(QS. 6:55)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al An’aam 55
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (55)
Imam Ahmad, Imam Thabrani dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui Ibnu Masud r.a. yang telah mengatakan, bahwa ada segolongan orang-orang Quraisy bertemu dengan Rasulullah saw. yang ketika itu sedang bersama Khabbab bin Art, Shuhaib, Bilal dan Ammar. Kemudian mereka berkata, “Hai Muhammad! Apakah engkau suka terhadap mereka dan apakah mereka orang-orang yang mendapat anugerah dari Allah di antara kami? Andaikata engkau mengusir mereka niscaya kami mau mengikutimu.” Lalu Allah swt. menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan mereka, yaitu firman-Nya, “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan Tuhan…” sampai dengan firman-Nya, “…supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-An’am 51-55).

28 Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.(QS. 24:55)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nuur 55
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan hadis mengenai hal ini melalui Barra yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kami, sedangkan kami pada saat itu dalam keadaan ketakutan yang sangat. Firman Allah swt., “Tidak ada dosa bagi orang buta…” (Q.S. An Nur, 61). Abdur Razzaq mengatakan bahwa kami menerima hadis dari Muammar yang ia terima dari Ibnu Abu Nujaih, kemudian Abu Nujaih menerimanya dari Mujahid yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang membawa serta orang buta, orang pincang dan orang yang sedang sakit ke rumah ayahnya, atau rumah saudara lelakinya, atau rumah saudara perempuannya, atau rumah saudara perempuan ayahnya, atau rumah saudara perempuan bibinya. Maka tersebutlah bahwa orang yang menderita sakit yang menahun itu merasa berdosa akan hal tersebut, maka mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka membawa kita pergi hanya ke rumah-rumah orang lain, bukan rumah mereka Sendiri”. Maka turunlah ayat ini sebagai rukhshah atau keringanan buat mereka, yaitu firman-Nya, “Tidak ada dosa bagi orang buta…” (Q.S. An Nuur, 61). Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil…” (Q.S. 4 An Nisa, 29). Maka orang-orang Muslim merasa berdosa, lalu mereka mengatakan: “Makanan adalah harta yang paling utama, maka tidak dihalalkan bagi seorang pun di antara kita untuk makan di tempat orang lain”. Maka orang-orang pun menahan diri dari hal tersebut, kemudian turunlah firman-Nya, “Tidak ada halangan bagi orang buta…” (Q.S. An Nuur, 61). sampai dengan firman-Nya, “… atau di rumah yang kalian miliki kuncinya…” (Q.S. An Nuur, 61). Dhahhak mengetengahkan sebuah hadis, bahwa penduduk kota Madinah sebelum Nabi saw. diutus, jika mereka makan tidak mau campur dengan orang buta, orang yang sedang sakit, dan orang yang pincang. Karena orang yang buta tidak akan dapat melihat makanan yang baik, dan orang yang sedang sakit tidak dapat makan sepenuhnya sebagaimana orang yang sehat sedangkan orang yang pincang tidak dapat bersaing untuk meraih makanan. Kemudian turunlah ayat ini Sebagai rukhshah yang memperbolehkan mereka untuk makan bersamasama dengan orang-orang yang sehat. Dhahhak mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Miqsam yang menceritakan, penduduk Madinah selalu menghindar dari makan bersama dengan orang yang buta dan orang yang pincang, kemudian turunlah ayat ini. Tsaklabi di dalam kitab tafsirnya mengemukakan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Harits berangkat bersama dengan Rasulullah dalam suatu peperangan. Sebelum itu Harits mempercayakan kepada Khalid ibnu Zaid untuk menjaga istrinya, tetapi Khalid, ibnu Zaid merasa berdosa untuk makan dari makanan Harits, sedang ia sendiri orang yang mempunyai penyakit yang menahun, kemudian turunlah ayat ini, “Tidak ada dosa bagi kalian…” (Q.S. An Nur, 61). Al Bazzar mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih melalui Siti Aisysh r.a, bahwa kaum Muslimin ingin sekali berangkat berperang bersama dengan Rasulullah saw. Oleh karena itu mereka menyerahkan kunci rumah-rumah mereka kepada orang-orang jompo, seraya mengatakan kepadanya, “Kami telah menghalalkan bagi kalian untuk memakan dari apa yang kalian sukai di dalam rumah kami”. Akan tetapi orang-orang jompo itu mengatakan, “Sesungguhnya tidaklah mereka memperbolehkan kami melainkan hanya karena terpaksa saja, tidak dengan sepenuh hati”. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Tidak ada dosa bagi kalian…” (Q.S. An Nur, 61). sampai dengan firman-Nya, “…atau di rumah-rumah yang kalian miliki kuncinya…” (Q.S. An Nur, 61). lbnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Zuhri, bahwasanya Zuhri pada suatu hari ditanya mengenai firman-Nya, “Tidak ada dosa bagi orang buta…” (Q.S. An Nur, 61). Si penanya itu mengatakan, “Apakah artinya orang buta, orang pincang dan orang sakit yang disebutkan dalam ayat ini?” Maka Zuhri menjawab: “Sesungguhnya kaum Muslimin dahulu, jika mereka berangkat ke medan perang, mereka meninggalkan orang-orang jompo dari kalangan mereka, dan mereka memberikan kunci rumah-rumah mereka kepada orang-orang jompo, seraya mengatakan, ‘Kami telah menghalalkan bagi kalian untuk memakan apa saja yang kalian inginkan dari rumah kami’. Akan tetapi orang-orang jompo tersebut merasa berdosa untuk melakukan hal itu, yakni memakan makanan dari rumah mereka. Oleh karena itu orang-orang jompo mengatakan, ‘Kami tidak akan memasuki rumah-rumah mereka selagi mereka dalam keadaan tidak di rumah’. Maka Allah swt. menurunkan ayat ini sebagai rukhshah atau kemurahan dari-Nya bagi mereka”. Ibnu Jarir mengetengshkan pula hadis lainnya melalui Qatadah yang menceritakan, bahwa ayat, “Tidak ada dosa bagi kalian makan bersama-sama mereka atau sendirian…” (Q.S. An Nur, 61). diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Arab Badui, di mana seorang dari mereka tidak mau makan sendirian dan pernah di suatu hari ia memanggul makanannya selama setengah hari untuk mencari seseorang yang menemaninya makan bersama. Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis ini melalui Ikrimah dan Abu saleh, yang kedua-duanya menceritakan bahwa orang-orang Anshar apabila kedatangan tamu, mereka tidak mau makan kecuali bila tamu itu makan bersama mereka. Maka turunlah ayat ini sebagai rukhshah buat mereka.

29 Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.(QS. 17:59)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Israa’ 59
وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا (59)
Abu Ya`la mengetengahkan sebuah hadis melalui Ummu Hani bahwa ketika Nabi saw. melakukan isra, maka pagi harinya Nabi saw. menceritakannya kepada segolongan orang-orang Quraisy, akan tetapi mereka memperolok-olokkannya. Lalu mereka meminta bukti dari Nabi saw. yang membenarkan ceritanya itu. Maka Nabi saw. menggambarkan tentang Baitul Muqaddas kemudian beliau pun menceritakan pula tentang kafilah milik mereka. Maka pada saat itu juga Walid bin Mughirah berkata, “Ini adalah sihir.” Allah segera menurunkan firman-Nya, yaitu, “Dan Kami tidak menjadikan rukyah yang Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian untuk manusia.” (Q.S. Al-Isra 60). Ibnu Mundzir mengetengahkan pula hadis yang sama melalui Hasan. Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui Husain bin Ali, bahwasanya Rasulullah saw. di suatu pagi kelihatan susah. Maka ada yang berkata kepadanya, “Apakah gerangan yang kamu pikirkan, karena sesungguhnya rukyah kamu itu adalah ujian bagi keimanan mereka.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan Kami tidak menjadikan rukyah yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia.” (Q.S. Al-Isra 60). Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis yang sama melalui Sahal bin Sa’ad. Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Amr bin Ash, melalui Ya’la bin Murrah, dan dari mursalnya Sa’id bin Musayyab, yaitu hadis yang sama hanya saja sanad-sanadnya dha’if. Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi di dalam kitab Al-Ba’atsnya, keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa ketika Allah menyebutkan tentang pohon zaqqum untuk menakut-nakuti segolongan orang-orang Quraisy, maka Abu Jahal berkata, “Apakah kalian mengetahui pohon zaqqum ini yang dipakai oleh Muhammad untuk menakut-nakuti kalian?” Mereka `menjawab, “Tidak.” Lalu Abu Jahal menjawab (dengan nada mencemoohkan), “Roti yang diberi kuah kemudian dicampur dengan keju, seandainya kami dapat memperolehnya, maka niscaya akan kami telan bulat-bulat.” Maka Allah menurunkan firman Nya, “Dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk di dalam Alquran. Dan Kami menakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.” (Q.S. Al-Isra 60). Dan Allah menurunkan pula firman-Nya, yaitu, “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa.” (Ad-Dukhan 43-44).

30 Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingati Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).(QS. 5:91)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Maa-idah 91
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah r.a. ia mengatakan, “Tatkala Rasulullah saw. sampai di Madinah, para penduduknya terbiasa minuman khamar dan permainan judi. Kemudian mereka menanyakan tentang kedua perbuatan itu kepada beliau. Setelah itu turunlah ayat, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi…’ (Al-Baqarah 219). Akan tetapi orang-orang mengatakan, ‘Allah tidak mengharamkannya, akan tetapi Ia mengatakan bahwa perbuatan itu hanyalah dosa yang besar saja.’ Mereka masih tetap meminum khamar, sehingga pada suatu hari seorang dari sahabat Muhajirin melakukan salat Magrib sebagai imam dari teman-temannya, akan tetapi bacaan Alquran salah karena mabuk. Setelah peristiwa itu Allah menurunkan ayat pengharaman khamar yang lebih berat dari semula, yaitu firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…’ (An-Nisa 43). Kemudian turun pula ayat pengharaman khamar yang jauh lebih keras dari sebelumnya, yaitu firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi…’ sampai dengan firman-Nya, ‘…maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)…’ (Q.S. Al-Maidah 90-91). Baru setelah turunnya ayat ini mereka mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Sekarang kami telah berhenti.'” Ada orang-orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang telah gugur di jalan Allah sedangkan mereka mati dalam keadaan melakukan suatu hal yang melampaui batas dengan meminum khamar dan memakan dari hasil berjudi padahal Allah telah menjadikan kedua perbuatan tersebut najis termasuk dari perbuatan setan.” Kemudian Allah swt. menurunkan ayat, “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu…” (Q.S. Al-Maidah 93). Kemudian ada orang-orang dari kalangan mutakallifin (orang-orang yang memaksakan dirinya) mengatakan, “Khamar itu adalah keji sedang ia berada di dalam perut si polan yang telah gugur pada perang Uhud,” kemudian Allah swt. menurunkan ayat, “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” (Q.S. Al-Maidah 93).

31 Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. 5:93)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Maa-idah 93
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (93)
Ada orang-orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang telah gugur di jalan Allah sedangkan mereka mati dalam keadaan melakukan suatu hal yang melampaui batas dengan meminum khamar dan memakan dari hasil berjudi padahal Allah telah menjadikan kedua perbuatan tersebut najis termasuk dari perbuatan setan.” Kemudian Allah swt. menurunkan ayat, “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu…” (Q.S. Al-Maidah 93). Kemudian ada orang-orang dari kalangan mutakallifin (orang-orang yang memaksakan dirinya) mengatakan, “Khamar itu adalah keji sedang ia berada di dalam perut si polan yang telah gugur pada perang Uhud,” kemudian Allah swt. menurunkan ayat, “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” (Q.S. Al-Maidah 93).

32 Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (syurga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 9:99)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah At Taubah 99
وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (99)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Aufi dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw. memerintahkan orang-orang untuk bersiap-siap berangkat ke medan perang bersamanya. Maka datanglah segolongan dari para sahabat yang di antara mereka terdapat Abdullah bin Ma`qal Al-Muzanniy. Lalu Abdullah bin Ma’qal Al-Muzanniy berkata, “Wahai Rasulullah! Bawalah kami berangkat.” Rasulullah saw. menjawab, “Demi Allah, aku tidak mempunyai bekal yang cukup untuk membawa kalian.” Maka mereka pergi dari hadapan Rasulullah saw. seraya menangis karena kecewa tidak dapat ikut berjihad; mereka tidak mempunyai biaya untuk itu dan tidak pula mempunyai kendaraan. Maka tidak lama kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan…” (Q.S. At-Taubah 92) Nama-nama mereka itu telah disebutkan di dalam kitab Al-Mubhamat. Dan firman-Nya yang lain, yaitu, “Dan di antara orang-orang Arab badui itu ada orang yang beriman kepada Allah…” (Q.S. At-Taubah 99). Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Mujahid yang telah mengatakan, bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan orang-orang dari Bani Muqarrin, yang diturunkan pula pada mereka ayat lainnya berkenaan dengan peristiwa yang menimpa mereka, yaitu firman-Nya, “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan…” (Q.S. At-Taubah 92). Abdurrahman bin Ma’qal Al-Muzanniy mengetengahkan pula sebuah hadis yang berkenaan dengan peristiwa ini. Ia menceritakan, “Pada saat itu jumlah kami ada sepuluh orang, semuanya dari anak-anak Bani Muqarrin”, kemudian turun pula ayat di atas berkenaan dengan diri kami.

33 Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 9:102)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah At Taubah 102
وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (102)
Ibnu Murdawaih dan Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Aufi dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa sewaktu Rasulullah saw. berangkat ke medan perang, Abu Lubabah bersama lima orang temannya tidak ikut berangkat. Kemudian Abu Lubabah bersama dengan dua orang lainnya merenungkan perbuatan dan sikap yang telah dilakukannya itu, akhirnya mereka merasa menyesal dan merasa yakin bahwa diri mereka pasti akan binasa. Lalu mereka berkata, “Kami berada dalam naungan yang menyejukkan dan ketenangan yang menyenangkan bersama dengan istri-istri kami, sedangkan Rasulullah saw. beserta kaum Mukminin yang bersamanya sedang berjuang di medan jihad. Demi Allah, kami akan mengikatkan diri kami sendiri di tiang-tiang mesjid, dan kami bersumpah tidak akan melepaskannya melainkan jika Rasulullah saw. sendirilah yang melepaskannya.” Mereka melakukan apa yang telah mereka putuskan itu; sedangkan tiga orang lainnya tidak mengikuti jejak yang dilakukan oleh Abu Lubabah dan kedua orang temannya itu mereka diam saja tinggal di rumahnya masing-masing. Sewaktu Rasulullah saw. kembali dari medan perang, beliau bertanya, “Siapakah mereka yang terikat di tiang-tiang mesjid?” Seorang lelaki menjawab, “Abu Lubabah dan teman-temannya, mereka tidak ikut ke medan perang. Mereka berjanji kepada Allah, bahwa mereka tidak akan melepaskan ikatannya melainkan jika engkau sendirilah yang melepaskannya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Aku tidak akan melepaskan ikatan mereka sebelum aku diperintahkan untuk melepaskannya.” Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan ada (pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka…” (Q.S. At-Taubah 102). Ketika ayat di atas diturunkan lalu Rasulullah saw. melepaskan ikatan mereka dan mau menerima uzur mereka; sedangkan tiga orang lainnya yang tidak mengikatkan diri mereka, tidak disebut-sebut dalam ayat tadi mengenai tobat mereka. Ketiga orang tersebut adalah mereka yang disebutkan di dalam firman-Nya, “Dan (ada pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah…” (Q.S. At-Taubah 106). Maka orang-orang mengatakan, “Mereka pasti binasa bila tidak diturunkan firman Allah yang menjelaskan diterimanya uzur mereka.” Sedangkan orang-orang lainnya mengatakan, “Barangkali Allah akan memberikan ampunan-Nya kepada mereka,” sehingga pada akhirnya turunlah firman-Nya, “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka…” (Q.S. At-Taubah 118). Ibnu Jarir mengetengahkan hadis yang serupa yang ia kemukakan melalui jalur Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas r.a. Hanya saja di dalam hadisnya ditambahkan, bahwa Abu Lubabah dan teman-temannya setelah peristiwa pengampunan mereka datang dengan membawa harta mereka masing-masing. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Inilah harta benda kami, kamu sedekahkanlah ia sebagai kafarat bagi diri kami dan kami minta supaya engkau memohonkan ampunan buat kami.” Maka Rasulullah saw. menjawab, “Aku tidak diperintahkan untuk mengambil sedikit pun daripada harta kalian.” Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka…” (Q.S. At-Taubah 103) Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis yang sama secara menyendiri melalui Said bin Jubair, Dhahhak, Zaid bin Aslam dan lain-lainnya. Abd mengetengahkan sebuah hadis melalui Qatadah, bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan tujuh orang (yang tidak ikut berangkat ke medan perang); empat orang di antara mereka mengikatkan dirinya di tiang-tiang mesjid Nabawi, yaitu Abu Lubabah, Muradas, Aus bin Khadzdzam dan Tsa’labah bin Wadi’ah. Abu Syekh mengetengahkan sebuah hadis, demikian pula Ibnu Mandah di dalam Kitab Ash-Shahabahnya dengan melalui Tsauri dari A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir yang menceritakan bahwa di antara orang-orang yang tidak ikut dengan Rasulullah saw. ke medan perang Tabuk ada enam orang, yaitu Abu Lubabah, Aus bin Khadzdzam, Tsa’labah bin Wadi’ah, Kaab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Kemudian Abu Lubabah, Aus dan Tsa’labah datang ke mesjid untuk mengikatkan diri mereka sendiri pada tiang-tiangnya dan mereka pun membawa serta pula harta benda mereka. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Ambillah harta yang membuat kami tidak dapat berangkat bersamamu.” Maka Rasulullah saw. menjawab, “Aku tidak akan melepaskan mereka hingga terjadi peperangan lagi (yang akan datang).” Maka pada saat itu juga turunlah firman-Nya, “Dan ada (pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka…” (Q.S. At-Taubah 102). Sanad hadis ini kuat. Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang di dalamnya terdapat Waqidiy, melalui Umu Salamah yang menceritakan, bahwa ayat yang menjelaskan diterimanya tobat Abu Lubabah turun di rumahku. Pada suatu waktu aku mendengar Rasulullah saw. tertawa, yaitu tepatnya di waktu sahur. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah gerangan yang menyebabkan engkau tertawa?” Rasulullah saw. menjawab, “Abu Lubabah telah diampuni.” Lalu aku berkata, “Apakah boleh aku memberitahukan hal tersebut?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika kamu suka, silakan!” Kemudian aku berdiri di depan pintu kamarku, yang hal ini aku lakukan ketika ayat hijab belum diturunkan, lalu aku berkata, “Hai Abu Lubabah! Bergembiralah karena sesungguhnya Allah telah menerima tobatmu.” Maka kala itu juga orang-orang beramai-ramai hendak melepaskan ikatannya, akan tetapi Abu Lubabah menolak, “Biarkanlah ia, sehingga Rasulullah saw. sendiri yang akan melepaskannya daripadaku.” Ketika Rasulullah saw. keluar untuk menunaikan salat subuh, lalu beliau melepaskan ikatan Abu Lubabah, maka turunlah firman-Nya, “Dan ada (pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka…” (Q.S. At-Taubah 102).

34 Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: `Sesungguhnya Al quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)`. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.(QS. 16:103)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nahl 103
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (103)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa ketika Nabi saw. bermaksud untuk hijrah ke Madinah, lalu orang-orang musyrik menangkap Bilal, Khabbab dan Ammar bin Yasir. Maka Ammar mengucapkan kata-kata yang membuat kaum musyrikin merasa takjub karenanya; Ammar sengaja melakukan hal itu demi untuk keselamatan dirinya yaitu bertaqiyyah. Ketika ia kembali kepada Rasulullah saw. lalu ia menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Bagaimanakah dengan hatimu sewaktu kamu mengucapkan kalimat tersebut? Apakah kamu merasa lega dengan apa yang kamu ucapkan itu?” Ammar menjawab, “Tidak”. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (Q.S. An-Nahl 106). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula sebuah hadis yang lain melalui Mujahid yang menceritakan, bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan sebagian penduduk Mekah yang telah beriman. Kemudian sebagian para sahabat menulis surah kepada mereka dari Madinah, yang isinya menganjurkan mereka untuk berhijrah. Lalu mereka keluar berangkat menuju ke Madinah. Akan tetapi di tengah jalan mereka dikejar oleh orang-orang Quraisy; kemudian orang-orang Quraisy menyiksa mereka, sehingga mereka mengucapkan kalimat kufur karena dipaksa. Maka ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan mereka itu. Ibnu Saad di dalam kitabnya Ath-Thabaqaat mengetengahkan sebuah hadis melalui Umar bin Hakam yang menceritakan, bahwa Ammar bin Yasir mengalami siksaan yang amat berat sekali sehingga ia tidak sadar lagi apa yang dikatakan oleh mulutnya. Dan demikian pula Shuhaib ia mengalami siksaan yang berat juga, sehingga ia tidak sadar lagi apa yang dikatakan oleh lisannya. Dan Fukaihah mengalami siksaan yang berat pula sehingga ia tidak sadar lagi apa yang dikatakan oleh mulutnya. Bilal, Amir bin Fuhairah dan segolongan kaum Muslimin mengalami siksaan yang berat dari kaum musyrikin; maka berkenaan dengan merekalah ayat berikut ini diturunkan, yaitu firman-Nya, “Dan sesungguhnya Rabbmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan.” (Q.S. An-Nahl 110).

35 Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah–jika kamu ragu-ragu: ` (Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa`.(QS. 5:106)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Maa-idah 106
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ (106)
Imam Tirmizi meriwayatkan sebuah hadis yang ia nilai dhaif dan dari lain-lainnya juga seperti Ibnu Abbas dan Tamim Ad-Dary sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, kesaksian di antaramu apabila seorang kamu menghadapi kematian…” (Q.S. Al-Maidah 106). Tamim Ad-Dary mengatakan, “Semua orang tidak terlibat dalam masalah yang diungkapkan oleh ayat di atas, kecuali hanya diriku dan Addi bin Bada. Tamim Ad-Dary dan Addi bin Bada keduanya adalah pemeluk agama Nasrani; keduanya biasa pulang pergi ke negeri Syam sebelum masa Islam. Pada suatu saat keduanya pergi ke negeri Syam untuk urusan dagang, kemudian seorang bekas budak dari kalangan Bani Sahm yang dikenal dengan nama Badil bin Abu Maryam yang juga membawa barang dagangan, berupa piala terbuat dari emas bergabung dengan mereka. Di tengah perjalanan Badil mengalami sakit keras, lalu ia berwasiat kepada kedua temannya itu, bahwa mereka diminta supaya menyampaikan harta peninggalannya kepada keluarga ahli warisnya.” Tamim melanjutkan kisahnya, “Tatkala Badil meninggal dunia, kami mengambil pialanya dan menjual dengan harga seribu dirham. Kemudian hasil penjualan itu kami bagi dua antara diriku dengan Addi bin Bada. Tatkala sampai kepada keluarganya, kami berikan kepada mereka semua yang ada pada kami dari harta peninggalan Badil. Akan tetapi mereka merasa kehilangan piala emas kepunyaannya. Akhirnya kami katakan kepada mereka bahwa Badil tidak meninggalkan selain dari semuanya ini dan tidak memberikan kepada kami lain dari semuanya ini. Setelah aku masuk Islam, diriku merasa berdosa akibat perbuatan tersebut. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi keluarganya dan aku ceritakan kisah yang sebenarnya kepada mereka dan menyerahkan kepada mereka sebanyak lima ratus dirham. Kemudian kuberitahukan kepada mereka, bahwa separuhnya masih berada di tangan temanku. Mereka membawa temanku itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. meminta barang buktinya, akan tetapi mereka tidak bisa mendatangkannya. Kemudian beliau memerintahkan mereka agar mengambil sumpah dari orang itu lalu ia pun bersumpah. Setelah itu Allah swt. menurunkan ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman, kesaksian di antara kamu…’ sampai dengan firman-Nya, ‘Akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah.’ (Q.S. Al-Maidah 106-108). Akan tetapi Amr bin Ash dan seorang lelaki lainnya berdiri untuk membantah sumpahnya itu. Akhirnya uang lima ratus dirham bisa diambil dari tangan Addi bin Bada yang mungkir itu.”

36 Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) memperbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: `Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri`.(QS. 5:107)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Maa-idah 107
فَإِنْ عُثِرَ عَلَى أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا فَآخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْأَوْلَيَانِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (107)
Tamim Ad-Dary mengatakan, “Semua orang tidak terlibat dalam masalah yang diungkapkan oleh ayat di atas, kecuali hanya diriku dan Addi bin Bada. Tamim Ad-Dary dan Addi bin Bada keduanya adalah pemeluk agama Nasrani; keduanya biasa pulang pergi ke negeri Syam sebelum masa Islam. Pada suatu saat keduanya pergi ke negeri Syam untuk urusan dagang, kemudian seorang bekas budak dari kalangan Bani Sahm yang dikenal dengan nama Badil bin Abu Maryam yang juga membawa barang dagangan, berupa piala terbuat dari emas bergabung dengan mereka. Di tengah perjalanan Badil mengalami sakit keras, lalu ia berwasiat kepada kedua temannya itu, bahwa mereka diminta supaya menyampaikan harta peninggalannya kepada keluarga ahli warisnya.” Tamim melanjutkan kisahnya, “Tatkala Badil meninggal dunia, kami mengambil pialanya dan menjual dengan harga seribu dirham. Kemudian hasil penjualan itu kami bagi dua antara diriku dengan Addi bin Bada. Tatkala sampai kepada keluarganya, kami berikan kepada mereka semua yang ada pada kami dari harta peninggalan Badil. Akan tetapi mereka merasa kehilangan piala emas kepunyaannya. Akhirnya kami katakan kepada mereka bahwa Badil tidak meninggalkan selain dari semuanya ini dan tidak memberikan kepada kami lain dari semuanya ini. Setelah aku masuk Islam, diriku merasa berdosa akibat perbuatan tersebut. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi keluarganya dan aku ceritakan kisah yang sebenarnya kepada mereka dan menyerahkan kepada mereka sebanyak lima ratus dirham. Kemudian kuberitahukan kepada mereka, bahwa separuhnya masih berada di tangan temanku. Mereka membawa temanku itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. meminta barang buktinya, akan tetapi mereka tidak bisa mendatangkannya. Kemudian beliau memerintahkan mereka agar mengambil sumpah dari orang itu lalu ia pun bersumpah. Setelah itu Allah swt. menurunkan ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman, kesaksian di antara kamu…’ sampai dengan Firman-Nya, ‘Akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah.’ (Q.S. Al-Maidah 106-108). Akan tetapi Amr bin Ash dan seorang lelaki lainnya berdiri untuk membantah sumpahnya itu. Akhirnya uang lima ratus dirham bisa diambil dari tangan Addi bin Bada yang mungkir itu.”

37 Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.(QS. 2:108)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 108
أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ (108)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari jalur Said atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas, katanya: Berkata Rafi` bin Huraimalah dan Wahab bin Zaid kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad! Datangkanlah kepada kami suatu Kitab yang kamu turunkan dari langit dan dapat kami baca, atau pancarkanlah bagi kami anak-anak sungai agar kami mengikuti dan membenarkanmu.” Maka Allah pun menurunkan tentang hal itu. “Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasulmu..” sampai dengan “…sesat dan jalan yang lurus” (Q.S. Al-Baqarah 108) Diketengahkan oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid, katanya, “Orang-orang Quraisy meminta kepada Muhammad untuk mengubah bukit Shafa menjadi bukit emas. Maka jawabnya kepada mereka, ‘Baiklah, hal itu kelak bagimu sama halnya dengan hidangan dari langit bagi Bani Israel jika kamu nanti kafir.’ Mereka pun menolak dan berbalik surut. Maka Allah pun menurunkan, ‘Apakah kamu menghendaki…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. Al-Baqarah 108) Diketengahkannya pula dari Sadiy, katanya, “Orang-orang Arab meminta kepada Nabi Muhammad saw. untuk mendatangkan Allah hingga mereka dapat melihat-Nya secara nyata. Maka turunlah ayat ini.” Diketengahkannya pula dari Abu Aliyah, katanya, “Seorang laki-laki berkata, ‘Sekiranya kafarat (denda penebus dosa) kita seperti kafarat Bani Israel!’ Jawab Nabi saw., ‘Apa yang diberikan Allah kepada kamu, lebih baik! Orang-orang Israel, jika salah seorang di antara mereka berbuat kesalahan, maka ia akan menemukan kesalahan itu terpampang di pintunya berikut kafaratnya. Jika kafarat itu dipenuhi, ia akan ditimpa kehinaan di dunia dan jika tidak, maka ia akan mengalaminya di akhirat. Sedangkan kamu diberi Allah yang lebih baik dari itu.’ Firman-Nya, ‘Barang siapa yang mengerjakan suatu kejahatan atau menganiaya dirinya…’ sampai akhir ayat. (Q.S. An-Nisa 110). Salat lima waktu dan dari Jumat ke Jumat berikutnya merupakan kafarat terhadap kesalahan yang terdapat di antara keduanya.” Maka Allah pun menurunkan, “Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasulmu…” sampai akhir ayat. (Q.S. Al-Baqarah 108).

38 Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(QS. 5:108)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Maa-idah 108
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (108)
Tamim Ad-Dary mengatakan, “Semua orang tidak terlibat dalam masalah yang diungkapkan oleh ayat di atas, kecuali hanya diriku dan Addi bin Bada. Tamim Ad-Dary dan Addi bin Bada keduanya adalah pemeluk agama Nasrani; keduanya biasa pulang pergi ke negeri Syam sebelum masa Islam. Pada suatu saat keduanya pergi ke negeri Syam untuk urusan dagang, kemudian seorang bekas budak dari kalangan Bani Sahm yang dikenal dengan nama Badil bin Abu Maryam yang juga membawa barang dagangan, berupa piala terbuat dari emas bergabung dengan mereka. Di tengah perjalanan Badil mengalami sakit keras, lalu ia berwasiat kepada kedua temannya itu, bahwa mereka diminta supaya menyampaikan harta peninggalannya kepada keluarga ahli warisnya.” Tamim melanjutkan kisahnya, “Tatkala Badil meninggal dunia, kami mengambil pialanya dan menjual dengan harga seribu dirham. Kemudian hasil penjualan itu kami bagi dua antara diriku dengan Addi bin Bada. Tatkala sampai kepada keluarganya, kami berikan kepada mereka semua yang ada pada kami dari harta peninggalan Badil. Akan tetapi mereka merasa kehilangan piala emas kepunyaannya. Akhirnya kami katakan kepada mereka bahwa Badil tidak meninggalkan selain dari semuanya ini dan tidak memberikan kepada kami lain dari semuanya ini. Setelah aku masuk Islam, diriku merasa berdosa akibat perbuatan tersebut. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi keluarganya dan aku ceritakan kisah yang sebenarnya kepada mereka dan menyerahkan kepada mereka sebanyak lima ratus dirham. Kemudian kuberitahukan kepada mereka, bahwa separuhnya masih berada di tangan temanku. Mereka membawa temanku itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. meminta barang buktinya, akan tetapi mereka tidak bisa mendatangkannya. Kemudian beliau memerintahkan mereka agar mengambil sumpah dari orang itu lalu ia pun bersumpah. Setelah itu Allah swt. menurunkan ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman, kesaksian di antara kamu…’ sampai dengan firman-Nya, ‘Akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah.’ (Q.S. Al-Maidah 106-108). Akan tetapi Amr bin Ash dan seorang lelaki lainnya berdiri untuk membantah sumpahnya itu. Akhirnya uang lima ratus dirham bisa diambil dari tangan Addi bin Bada yang mungkir itu.”

39 Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.(QS. 16:126)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah An Nahl 126
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ (126)
Ibnu Abdul Barr mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang dha’if melalui Siti Aisyah r.a. yang menceritakan, bahwa Siti Khadijah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang anak-anak kaum musyrikin. Rasulullah saw. menjawab, “Mereka berasal dari bapak-bapak mereka.” Kemudian sesudah itu Siti Khadijah bertanya lagi kepada Rasulullah saw. maka Rasulullah saw. menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka lakukan (nanti seandainya mereka hidup).” Kemudian Siti Khadijah bertanya lagi kepada Rasulullah saw. sesudah agama Islam kuat, lalu turunlah firman-Nya, “Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (Q.S. Al-Isra 15). Dan Rasulullah saw. bersabda, “Anak-anak orang-orang musyrik itu berada dalam fitrah (agama Islam),” atau beliau bersabda, “(Mereka) berada dalam surga.”

40 Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:158)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 158
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (158)
Diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain dari Urwah dari Aisyah, katanya kepada Aisyah, “Bagaimana pendapat Anda tentang firman Allah, ‘Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian dan syiar-syiar Allah,’ maka barang siapa yang beribadah Haji ke Baitullah atau berumrah, maka tak ada dosa baginya untuk mengerjakan sai di antara keduanya.’ (Q.S. Al-Baqarah 158). Saya lihat tak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bersai di antara keduanya.” Jawab Aisyah, “Jelek sekali apa yang kamu katakan itu, wahai keponakanku! Sekiranya ayat itu menurut apa yang kamu takwilkan, tentulah dia akan berbunyi, ‘Maka tidak ada dosa baginya untuk tidak melakukan sai di antara keduanya.’ (Q.S. Al-Baqarah 18). Tetapi sebenarnya ia diturunkan terhadap orang-orang Ansar. Sebelum masuk Islam, mereka mengadakan upacara-upacara ke berhala Manat dan sesudah masuk Islam sebagian warganya merasa keberatan untuk sai di antara Safa dan Marwah. Lalu mereka tanyakan hal itu kepada Rasulullah saw., kata mereka, ‘Wahai Rasulullah! Kami merasa keberatan untuk sai di antara Safa dan Marwah di masa jahiliah?’ Maka Allah pun menurunkan, ‘Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian di antara syiar-syiar Allah…’ sampai dengan firman-Nya ‘…maka tak ada dosa baginya untuk mengerjakan sai di antara keduanya.'” (Q.S. Al-Baqarah 158). Diketengahkan oleh Bukhari dari Ashim bin Sulaiman katanya, “Saya tanyakan kepada Anas tentang Safa dan Marwah.” Jawabnya, “Selama ini kami menganggapnya sebagai urusan jahiliah, dan setelah Islam datang kami menahan diri untuk membicarakannya”, maka Allah pun menurunkan, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk dalam syiar-syiar Allah.” (Q.S. Al-Baqarah 158). Diketengahkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas, katanya, “Di masa jahiliah, setan-setan gentayangan sepanjang malam di antara Safa dan Marwah, dan di antara keduanya itu terdapat berhala-berhala mereka. Maka tatkala Islam datang, kaum muslimin pun mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Kami tak hendak sai lagi di antara Safa dan Marwah. Cukuplah kami melakukannya di masa jahiliah.’ Maka Allah pun menurunkan ayat ini.”

41 Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS. 2:195)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 195
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Hudzaifah, katanya, “Ayat ini diturunkan mengenai soal nafkah.” Diketengahkan pula oleh Abu Daud dan Tirmizi yang menyatakan sahnya serta oleh Ibnu Hibban, Hakim dan lain-lain, dari Abu Ayub Al-Anshari, katanya, “Ayat ini diturunkan kepada kita golongan Ansar, yaitu tatkala Allah menjadikan Islam suatu agama yang jaya hingga para penyokongnya tisak sedikit jumlahnya; berkatalah sebagian kita pada yang lain secara rahasia bahwa harta benda kita telah habis dan Allah telah mengangkat agama kita menjadi jaya. Maka sekiranya kita mempertahankan harta benda itu, lalu mengganti mana yang telah habis …!” Maka turunlah ayat menolak pendapat dan rencana ini, “Dan belanjakanlah di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke jurang kebinasaan.” (Q.S. Al-Baqarah 195). Jadi yang dimaksud dengan kebinasaan itu ialah mempertahankan harta benda serta menumpuk-numpuknya serta mengabaikan soal pertahanan dan peperangan. Diketengahkan pula oleh Thabrani dengan sanad yang sahih dari Abu Jubairah bin Dhahik, katanya, “Orang-orang Ansar biasa memberi dan bersedekah sebanyak yang dikehendaki Allah, tetapi pada suatu ketika mereka ditimpa oleh paceklik hingga mereka menahan pemberian mereka, maka Allah pun menurunkan, ‘Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan …’ sampai akhir ayat.” (Q.S. Al-Baqarah 195). Diketengahkan pula dengan sanad yang sahih dari Nukman bin Basyir, katanya, “Ada seorang laki-laki yang membuat dosa, lalu katanya, ‘Dosaku tidak dapat diampuni’, maka Allah pun menurunkan, ‘Dan janganlah kamu jatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan!'” (Q.S. Al-Baqarah 195). Hadis ini didukung oleh hadis lain sebagai saksi dari Barra’ yang dikeluarkan oleh Hakim.

42 Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.(QS. 2:198)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 198
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ (198)
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas, katanya, “Ukazh dan Majinnah serta Zulmajaz merupakan pasar-pasar di masa jahiliah. Mereka merasa berdosa apabila berniaga di musim haji, maka mereka menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. lalu turunlah ayat, ‘Tidak ada dosa bagi kamu mencari karunia dari Tuhanmu, pada musim-musim haji.'” (Q.S. Al-Baqarah 198) Diketengahkan oleh Ahmad, Ibnu Abu Hatim, Ibnu Jarir, Hakim dan lain-lain dari beberapa jalur dari Abu Umamah At-Taimi, katanya, “Saya katakan kepada Ibnu Umar, ‘Kami ini menerima upah, apakah kami dapat melakukan haji?’ Jawab Ibnu Umar, ‘Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. menanyakan apa yang kamu tanyakan kepada saya barusan. Nabi tidak memberikan jawaban sampai Jibril turun kepadanya menyampaikan ayat ini, ‘Tidak ada dosa bagi kamu mencari karunia dari Tuhanmu.’ (Q.S. Al-Baqarah 198) Lalu Nabi saw. memanggil orang itu seraya sabdanya, ‘Tuan-tuan termasuk jemaah haji.'”

43 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 2:218)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 218
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (218)
Kata sebagian mereka, “Walaupun mereka tidak berbuat dosa, tetapi mereka juga tidak beroleh pahala.” Maka Allah pun menurunkan, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka mengharapkan rahmat dari Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah 218) Ini juga diketengahkan oleh Ibnu Mandah dari golongan sahabat dari jalur Usman bin Atha’ dari bapaknya dari Ibnu Abbas.

44 Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS. 2:229)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 229
الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (229)
Tirmizi, Hakim dan lain-lain mengetengahkan dari Aisyah, katanya, “Seorang laki-laki dapat menceraikan istrinya seberapa dikehendakinya untuk menceraikannya. Dia akan tetap menjadi istrinya jika ia rujuk selama berada dalam idah, walau diceraikannya lebih dari seratus kali pun, hingga seorang laki-laki berkuasa mengatakan kepada istrinya, ‘Demi Allah, saya tidak akan menceraikanmu hingga kamu lepas dari tangan saya, dan tak akan pula memberimu tempat tinggal untuk selama-lamanya.’ Jawab wanita itu, ‘Bagaimana caranya?’ Jawabnya, ‘Saya jatuhkan talak kepadamu, dan setiap idahmu hendak habis, saya kembali rujuk kepadamu.’ Maka saya sampaikan hal itu kepada Nabi saw. lalu beliau terdiam, sampai turun ayat, ‘Talak itu dua kali dan setelah itu boleh rujuk secara yang makruf atau baik-baik dan menceraikan dengan ihsan atau secara baik-baik pula.'” (Q.S. Al-Baqarah 229) Diketengahkan oleh Abu Daud dalam An-Nasikhu wal Mansukh dari Ibnu Abbas, katanya, “Seorang suami biasa memakan harta istrinya dari maskawin yang telah diberikan kepadanya dan dari lain-lainnya tanpa menganggapnya sebagai dosa. Maka Allah pun menurunkan, ‘Dan tidak halal bagimu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan pada mereka.'” (Q.S. Al-Baqarah 229) Ibnu Jarir mengetengahkan dari Ibnu Juraij, katanya, “Ayat ini diturunkan mengenai Tsabit bin Qais dengan Habibah. Wanita ini mengadukan suaminya kepada Rasulullah saw. maka sabdanya, ‘Apakah kamu bersedia mengembalikan kebunnya kepadanya?’ ‘Ya, bersedia,’ jawabnya. Maka Nabi saw. memanggil suaminya dan menyebutkan hal itu. Katanya, ‘Dan ia telah rela terhadap demikian, dan hal itu telah saya lakukan.’ Maka turunlah ayat, ‘Dan tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali jika keduanya khawatir tak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.'” (Q.S. Al-Baqarah 229)

45 Kemudian jika sisuami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.(QS. 2:230)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 230
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (230)
Ibnu Munzir mengetengahkan dari Muqatil bin Hibban, katanya, “Ayat ini turun mengenai Aisyah binti Abdurrahman bin Atik yang menjadi istri dari saudara sepupunya Rifa`ah bin Wahab bin Atik. Suaminya itu menceraikannya sampai talak bain, lalu ia kawin dengan Abdurrahman bin Zubair Al-Qurazhi, yang menceraikannya pula. Maka Aisyah datang kepada Nabi saw. katanya, ‘Ia menceraikan saya sebelum menyetubuhi saya, maka bolehkah saya, kembali kepada suami saya yang pertama?’ Jawab Nabi, ‘Tidak, sampai ia menyetubuhi atau mencampurimu.’ Jika si suami menceraikan istrinya, maka tidak halal baginya sampai ia kawin dengan suami yang lain, lalu mencampurinya. Dan jika diceraikan setelah dicampuri, maka tidak ada dosa bagi mereka, jika ia kembali kepada suaminya yang pertama.”

Halaman First

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: