dosa besar

Cari hadist

Help

Ditemukan 20 hadist dengan kata “dosa besar”.

0214. “Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Nabi saw. melewati salah satu dinding dari dinding-dinding Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orag manusia yang sedang disiksa didalam kuburnya. Nabis bersabda: ?Dua orang sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Kemudian beliau bersabda: ?Ya? yang seorang tidak bertirai dalam berkencing. Dan yang lain berjalan dengan mencaci maki. Kemudian beliau minta diambilkan pelepah korma yang basah, lalu dibelah menjadi dua, dan beliau letakkan pada masing-masing kuburan itu satu belahan. Lalu dikatakan: ?Wahai rasulullah, kenapakah engkau perbuat ini?? Beliau bersabda: ?Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belah ini belum kering.?”
(HR: Bukhari)

0216. “Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi saw. berjalan melalui dua buah kubur, lalu beliau bersabda: ?Sesungguhnya orang yang ada di dalam kubur ini disiksa, tetapi bukannya disiksa karena mengerjakan dosa besar. Adapun yang seorang dari pada keduanya itu tidak beristinja? dengan sebersih-bersihnya dari kencingnya, sedangkan yang lain ini suka berjalan dengan menyampaikan kata-kata yang berupa adu domba. Kemudian beliau mengambil setangkai pelepah kurma yang masih basah, lalu membelahnya menjadi dua bagian, kemudian setiap belahan tadi dipancangkan pada setiap kubur (yakni masing-masing dari dua buah kubur itu diberi separuh belahannya). Para sahabat bertanya: ?Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?? Beliau bersabda: ?Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belahan itu belum kering.?”
(HR: Bukhari)

6524. Dari Abdullah Ibnu `Amr, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Dosa-dosa besar: mempersekutukan Allah, menduharkai ibu bapak”. Atau beliau bersabda: “Sumpah palsu”, keraguan dari Syu`bah. Dan Mu`adz berkata: “Syu`bah meriwayatkan: Beliau bersabda: “Dosa-dosa besar: mempersekutukan Allah, sumpah dusta dan menduharkai dua orang tua”. Atau beliau bersabda : “dan membunuh jiwa”.
(HR: Bukhari)

6525. Dari Annas ra., dari Nabi saw, beliau bersabda: “Dosa-dosa besar — Dari Anas Ibnu Malik, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Sebesar-besar dosa-dosa besar — adalah mempersekutukan Allah, membunuh jiwa, menduharkai dua orang tua dan ucapan dusta”. Atau beliau bersabda: “dan persaksian dusta (palsu)”.
(HR: Bukhari)

6571. Dari Abu Bakrah ra, dia berkata: Nabi saw bersabda: “Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: Mempersekutukan Allah, durhaka kepada orang tua dan persaksian palsu — dan persaksian palsu — 3 kali atau ucapan palsu (dusta)”. Maka beliau selalu mengulang-ulang hingga kami mengatakan, “semoga beliau diam”.
(HR: Bukhari)

6572. Dari Abdullah ibn `Amr ra dia berkata: Seorang dusun (a`rabi) datang kepada Nabi saw lalu ia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah dosa-dosa besar itu?” Beliau bersabda: “Memusyrikkan Allah” Ia bertanya: “Kemudian apakah?” Beliau bersabda: “Kemudian mendurhakai ibu-bapak”. Ia bertanya: “Kemudian apakah?” Beliau bersabda: “Sumpah bohong” Aku berkata: “Dan apakah itu sumpah bohong?” Beliau bersabda: “(Seperti sumpah) yang memetik harta seorang muslim sedang ia berdusta padanya (sumpah itu)”.
(HR: Bukhari)

5665. Dari Abdullah bin Amr ra. ia berkata: “Rasulullah SAW. bersabda: “Adalah termasuk dosa besar. Seseorang mengutuk terhadap kedua orang tuanya”. Ditanyakan; “Wahai Rasulullah bagaimana mungkin seseorang mengutuk kedua orang tuanya”?. Beliau menjawab: “seseorang mencaci orang tua temannya, kemudian temannya mencaci ayahnya dan ibunya.
(HR: Bukhari)

5669. Dari Anas bin Malik ra. Ia berkata: “Rasulullah SAW. mengucapkan Dosa-dosa besar atau rasulullah sedang ditanyai tentang dosa-dosa besar, kemudian beliau bersabda: “Musyrik kepada Allah, membunuh orang dan berani kepada dua orang tua”. kemudian ia bersabda: “Ingatlah aku beritahu kalian dosa paling besar” ia bersabda: “Ucapan bohong” atau bersabda: “kesaksian bohong”. Syu`bah berkata: sangkaanku beliau bersabda: “kesaksian bohong”.
(HR: Bukhari)

5743. dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: “Rasulullah lewatan diatas dua buah kuburan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya ini disiksa dan mereka disiksa bukan karena dosa besar. adapun yang ini adalah karena ia tidak menuntaskan kencingnya, dan yang ini adalah karena ia suka memfitnah, Kemudian nabi minta diambilkan batang kurma yang basah, lalu memenggalnya jadi dua, kemudian Nabi menancapkan diatas kuburan yang ini satu dan yang lain satu, lalu bersabda: “Mungkin (Batang ini) bisa meringankan keduanya selama belum kering”.
(HR: Bukhari)

5746. Dari Abdullah bin Abbas ra. ia berkata: “Rasulullah saw. sedang keluar dari sebagian tembok (dinding) Madinah, Kemudian Rasul mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di kuburnya, lalu beliau bersabda: “Keduanya disiksa, mereka disiksa bukan karena perkara besar, tapi, (perkara itu) dosa besar, yang satu tidak mau menuntaskan kencingnya, sedangkan yang lain suka memfitnah (Mengadu domba) lalu Nabi minta (di ambilkan) sebatang tangkai, kemudian Nabi memecahnya menjadi dua, dan menancapkan sebuah diatas kuburan yang ini, dan yang lain diatas kuburan yang itu. Kemudian Nabi bersabda: Mungkin (tangkai itu) bisa meringankan siksa mereka, selama belum kering”.
(HR: Bukhari)

6345. Dari Abdullah bin Umar ra. dari Nabi saw. katanya: Dosa besar adalah menyekutukan Allah, berani kepada kedua orang tua, membunuh jiwa dan sumpah palsu”. Allah Jalla Dzikruhu berfirman: “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan islah diantara manusia. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al Baqarah : 224). Allah Ta`ala juga berfirman: “Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Allah Ta`ala juga berfirman: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu dengan meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.(An Nahl : 91).
(HR: Bukhari)

0016. “Dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud bahwasanya Abdulah bin Abbas memberitahukan kepadanya bahwasanya Abu Sufyan bin Harb menceritakan kepadanya bahwa Heraklius minta kedatangannya serta rombongan dagang Quraisy di Syam pada masa Rasulullah saw. membuat gecatan senjata kepada Abu Sufyan dan kafir Quraisy. Maka mereka (rombongan itu) datang kepada Heraklius di Ilia lalu Heraklius memanggil mereka dan disekelilingnya para pembesar Rumawi kemudian ia memanggil mereka dan juga memanggil penterjemah. Heraklius berkata: “Siapakah diatara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku dirinya Nabi?” Lalu Abu Sufyan menjawab: “Sayalah yang paling dekat diantara mereka” Heraklius berkata: “Dekatkanlah kepadaku, dekatkanlah teman-temannya lalu jadikan mereka di belakangnya.” Kemudian ia berkata kepada penterjemahnya: “Katakan lah kepada mereka bahwasanya saya bertanya kepada orang ini tentang laki-laki itu. Jika ia berdusta kepadaku maka dustakanlah ia. Demi Allah seandainya tidak malu karena menganggap saya berdusta niscaya saya berdusta tentang ia (Muhammad). Yang pertama kali ditanyakan kepada saya tentang dia adalah: “Bagaimana nasabnya diantara kalian?” Saya menjawab: “Di kalangan kami dia orang yang bernasab (bangsawan)”. Ia berkata: “Pernahkah seorang diantaramu yang mengatakan perkataan ini sebelummu?” Saya menjawab:”Tidak”. Ia berkata: Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?”. Saya menjawab: “Tidak”. Ia berkata: “Pengikutnya orang-orang mulia atau orang-orang lemah dantara mereka?”. Saya menjawab: “Orang-orang lemah ” Ia berkata:”Apakah mereka bertambah-tambah atau berkurang-kurang?”. Saya menjawab:”Bahkan mereka bertambah”. Ia berkata:”Apakah ada seseorang diantara mereka yang benci kepada agamanya sesudah ia memasukinya?”. Saya berkata:”Tidak ada”. Ia berkata: ” Apakah dia berkhianat?”. Saya menjawab: “Tidak, dan kami dalam masa gencatan dimana kami tidak mengetahui apa yang ia lakukan dalam masa ini, dan tidak mungkin bagi saya untuk memasukkan kalimat sedikitpun selain kalimat ini.” Ia berkata: “Bagaimanakah peperanganmu terhadapnya?.” Peperangan diantara kami dan dia silih berganti, ia menang atas kami dan kami menang atasnya”. Ia berkata: “Apakah yang ia perintahkan kepadamu?.” Saya menjawab: Ia berkata: “Sembahlah Allah sendiri dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan tinggakanlah apa yang dahulu selalu disembah oleh nenek moyangmu”. Ia menyuruh kami untuk shalat, jujur, menjaga diri dan menyambung (persaudaraan). Kemudian ia berkata kepada juru bahasanya: “Katakanlah kepadanya: “Sesungguhya saya bertanya kepadamu tentang nasabnya (keturunanya), lalu kamu menyebutkan bahwa dia di kalanganmu yang yang bernasab (bangsawan), dan demikianlah para rasul itu diutus dikalangan orang-orang bernasab di kaumnya, dan saya bertanta kepadamu: “Apakah ada sesorang diataramu yang mengatakan perkataan sebelumnya? Lalu kamu sebutkan bahwa tidak ada. Dan saya katakan seandainya ada seseorang yang mengatakan perkataan ini sebelumnya, niscaya saya katakan (dia) seseorang laki-laki yang menghibur dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang sebelumnya. Saya tanya kepadamu, apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja maka saya katakan (dia) seorang laki-laki yang menuntut kerajaan nenek moyangnya. Saya bertanya kepadamu, apakah dahulu kamu menuduh ia berdusta sebelum mengatakan apa (kenabian) yang dikatakannya, lalu kamu menjawab bahwa tidak, maka saya tahu bawa dia tidak layak meninggalkanmu dusta atas manusia dan dusta atas Allah. Saya bertanya kepadamu, pengikutnya orang-orang mulia ataukah orang-orang lemah diantara mereka, lalu kamu menyebutkan bahwa pengikutnya adalah orang-orang lemah di antara kaumnya, dan itulah pengikut para rasul. Saya bertanya kepadamu apakah mereka (pengikut-pengikut) berkurang ataukah bertambah lalu kamu menyebutkan bahwa mereka bertambah, dan memang demikianlah urusan iman sehingga sempurna.” “Saya bertanya kepadamu apakah ada salah seorang yang murtad karena benci kepada agamanya setelah ia memasukinya, lalu kami sebutkan bahwa tidak ada, dan memang demikianlah iman ketika bercampur dengan kelapangan hati. Saya bertanya kepadamu apakah dia berkhianat, lal kamu sebutkan tidak, dan memang demianlah para rasul itu tidak berkhianat. Dan saya bertanya kepadamu dengan apakah ia menyuruh kamu, lalu kamu menyebutkan bahwa ia menyuruh kamu untuk menyembah Allah semata dan janganlah mensekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan ia melarang kamu untuk menyembah berhala dan menyuruh kamu dengan shalat, jujur, dan menjaga diri. Jika apa yang kamu katakana itu benar maka ia akan menguasai tempat dua telapak kakiku, dan saya mengetahui dia (Nabi) telah muncul padahal saya tidak menduga bahwa dia (Nabi) itu dari padamu. Seandainya saya mengetahui bahwa saya sampai kepadanya niscaya saya senang bertemu dengannya. Seandainya saya disisinya niscaya saya mencuci telapak kakinya. Kemudian ia minta didatangkan surat Rasulullah saw. Yang mana Dihyah diutus ke pembesar Bushro ia menyerahkannya kepada Heraklius dan dibacanya dan isinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Dari Muhammad hamba dan utusan Allah kepada Heraklius pembesar Rumawi. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk. Adapun selanjutnya, maka sesungguhnya saya mengajak kepadamu dengan panggilan Islam. Masuk Islam lah maka kamu selamat, Allah memberikan pahala kepadamu dua lipat. Jika kamu berpaling maka atasmu dosa para pengikut. Wahai ahli kitab, marilah kepada kalimat yang sama antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah selain Allah, dan tidak kita sekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari pada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Ia berkata: Abu Sofyan berkata: “Ketika ia mengatakan apa yang telah dikatakannya itu dan selesai mebaca surat sehingga ditempatnya, banyak kegaduhan dan suara-suara keras lalu kami dikeluarkan. Maka kami berkata kepada teman-temanku: Sungguh urusan Putera Abi Kabsyah (gelar ayah Nabi) telah menjadi vesar, sesungguhnya ia ditakuti oleh raia Bani Ashfar (Rumawi) dan saya senantiasa meyakinkan bahwa dia (Nabi) akan menang sampai Allah memasukkan Islam atas saya. Ibunu Nathur pemilik (Gubernur) Ilia dan Heraklius sampai pada orang-orang Nashrani di Syam menceritakan bahwa ketika Heraklius tiba di Ilia menjadi buruk jiwanya, lalu sebagian penghuninya berkata: “Kami telah mengingkari peri keadaan tuan”. Ibnu Nathur berkata: ” Heraklius itu seorang dukun yang mengarahkan pandanganmu ke bintang-bintang. Ia berkata kepada mereka ketika mereka bertanya kepadanya: “Sesungguhnya saya tadi malam ketika saya melihat bintang, saya berpendapat bahwa raja yang berkhianat telah muncul”. Siapakah orang yang berkhianat dari umat ini? Mereka menjawab: “Yang berkhianat hanyalah orang-orang Yahudi”. Urusan mereka janganlah menggelisahkanmu dan tulislah ke kota-kota kerajaanmu, lalu mereka membunuh orang-orang Yahudi yang ada di kalangan mereka. Ketika mereka mengurusi urusan mereka, didatangkan pada Heraklius seorang laki-laki yang diutus oleh Raja Ghassan yang memberitakan tentang cerita Rasulullah saw. ketika Heraklius bertanya kepadanya maka ia menjawab: “Pergilah, dan lihatlah apakah dia berkhianat atau tidak? Maka mereka melihatnya dan mereka membicarakannya bahwa Rasulullah saw. Berkhianat. Dan ia bertanya tentang bangsa Arab, lalu ia menjawab: ” Mereka berkhianat”. Lalu Heraklius berkata: “Inilah (Muhammad) raja umat itu telah muncul”. Kemudian Heraklius menulis surat kepada temannya di Rumiah dan ia adalah orang yang menyamai dalam bidang ilmu. Heraklius pergi ke Himsha dan ia tidak bermaksud ke Himsha sehingga datang surat kawannya yang menyetujui pendapat Heraklius atas munculnya Nabi saw. Dan sesungguhnya dia itu Nabi. Lalu Heraklius memberi ijin kepada para pembesar Rumawi di istananya di Himsa kemudian ia mengatur pintu-pintu lalu pintu-pintu itu ditutup dan diapun menampakkan diri seraya berkata: “Wahai golongan orang-orang Rumawi. Apakah kamu ingin berbahagia dan mendapat petunjuk serta tetap kerajaanmu, maka baitlah laki-laki ini (Muhammad)”. Maka mereka lari seperti larinya keledai liar ke pintu-pintu dan mereka dapati pintu-pintunya telah tertutup. Ketika Heraklius melihat larinya mereka dan putus asa dari iman mereka maka ia berkata: “Kembalikanlah mereka atasku”. Dan ia berkata: “Tadi saya katakan perkatanku itu untuk menguji kekokohan agamamu, dan saya telah melihatnya”. Lalu merekapun sujud dan senang kepadanya. Itulah akhir keadaan Heraklius.”
(HR: Bukhari)

6515. Dari Abdullah Ibnu Mas`ud, dia berkata: Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda:”(Dosa yang paling besar) adalah bahwa kamu menyembah (membuat) sepadan kepada Allah sedangkan Dia telah menciptakan kamu”. Ia bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda: “Kamu membunuh anakmu, karena mengkhawatirkan dia makan bersama kamu”. Ia bertanya: “Kemudian apa, lagi?” Beliau bersabda: “Kamu menzinahi istri tetanggamu”. Lalu Allah Azza Wa Jalla menurunkan, sebagai pembenaran demikian: ” Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) — kecuali dengan (alasan) yang benar — dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqan:68)
(HR: Bukhari)

6976. Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda :”Kuda itu bisa memiliki tiga dimensi; bagi seorang lelaki bisa berati pahala, bagi seroang lelaki bisa berarti tirai, dan bagi seorang lelaki bisa berarti dosa. Adapun seorang lelaki yang baginya pahala, adalah seorang lelaki yang menyiapkan seekor kuda di dalam jalan Allah. Dia menempatkan kuda itu disebuah padang rumput atau kebun. Umput yang dimakan kuda itu sepanjang umurnya dari padang rumput atau kebun tersebut baginya adalah kebaik-baikan. Sesungguhnya jika saja kuda itu menempuh (perjalanan) sepanjang umurnya, ia menapaki sebuah bukit atau dua buah bukit, maka jejak-jejak dan kotoran-kotorannya adalah kebaikan-kebaikan baginya. Sesungguhnya jika saja kuda-kuda itu melintasi sebuah sungai, ia lalu meminum dari sungai itu, padahal pemiliknya tidak mengehendaki memberi minum dengan air sungai itu, maka air sungai itu adalah kebaikan-kebaikan baginya. Kuda itu bagi lelaki ini adalah suatu pahala. Seorang lelaki yang mengikat seekor kuda untuk kekayaan dan harga diri, dia tidak melupakan hak Allah dalam merawat dan melindungi kuda itu, maka kuda itu baginya adalah sebuah tirai. Dan seorang lelaki yang mengikat seekor kuda untuk kebesaran dan pamer (riya`), maka kuda itu dalam hal ini adalah sebuah dosa”. Rasulullah saw, pernah ditanya soal keledai-keledai. Beliau bersabda :”Aallah tidak menurunkan kepadaku tentang keledai-keledai itu, kecuali satu-satunya ayat yang padat berikut ini : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.
(HR: Bukhari)

7150. Dari Abdullah, dia berkata “Aku pernah bertanya kepada Nabi saw :”Dosa apakah yang paling besar menurut Allah ?”. beliau bersabda :”Mengadakan sekutu bagi Allah, padahal dialah yang telah menciptkanmu”. Aku berkata :”Sesungguhnya itu memang dosa sangat besar :”. Kamu bertanya pula :”Lalu dosa apa lagi ?”. Beliau bersabda :”Yaitu apabila kamu membunuh anakmu karena kawatir bila anakmu ikut makan bersamamu”. Aku bertanya lagi :”Kemudian dosa apalagi ?”. Beliau bersabda :”Yaitu apabila kamu berzina dengan istri tetanggamu”.
(HR: Bukhari)

7163. Dari Abdullah, ada seseorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar itu menurut Allah?”. Beliau bersabda: “jika kamu mengambil sekutu bagi Allah, padahal dia-lah yang telah menciptakanmu`. Lelaki tersebut barkata: “lalu dosa apa lagi?” beliau bersabda: “yaitu apabila kamu membunuh anakmu karena kamu kawatir jika dia ikut bersamamu”. Lelaki tersebut berkata: “kemudian dosa apa lagi?”. Lalu Allah menurunkan (ayat) yang membenarkannya: “dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah yang tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (Nya)”.
(HR: Bukhari)

5668. Dari Abi bakroh ra. ia berkata: “Rasulullah SAW. bersabda: “Ingatlah aku beritahukan kepadamu Dosa yang paling besar”. Kami menjawab: “Ya wahai Rasulullah” Beliau bersabda: “Musyrik kepada Allah, dan berani kepada kedua orang tua, dan Rasulullah SAW. itu duduk bersandar kemudian duduk (tegak) lalu bersabda lagi: Ingatlah, dan ucapan bohong. dan kesaksian bohong, Ingatlah dan ucapan bohong dan kesaksian bohong, tiada hentinya Rasul mengulanginya sampai kami berkata: Rasul tidak diam.
(HR: Bukhari)

5693. Dari Abdullah ra. ia berkata: “Aku bertanya: “Wahai Rasulullah Dosa apa yang paling besar?”. Beliau menjawab: “Engkau jadikan bagi Allah persamaan, sedangkan ia Dzat yang membuat kamu”. saya berkata: “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Engkau bunuh anakmu karena khawatir makan bersamamu”. Abdullah berkata: “Kemudian apa?”. Beliau menjawab: “Engkau Zinahi istri tetanggamu”. dan Allah menurunkan ayat untuk membenarkan ucapan Nabi: WALLADZIINA LAA YAD`UUNA MA`ALLAHI ILAAHAN AKHORO. (Dan Orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah) (Q.Furqaan. 68).
(HR: Bukhari)

5960. Dari Abu Bakrah ra., ia berkata: Rasulullah bersabda: “Ingatlah!, Aku beri tahu kalian tentang Dosa yang paling besar”, Para Sahabat menjawab: “Ya Wahai Rasulullah!”, Beliau bersabda: “Mensekutukan Allah, dan Berani pada Kedua orang tua”.
(HR: Bukhari)

6479. Dari Abdillah ra. katanya: “Saya bertanya: Wahai Rasulullah apa dosa yang paling besar? Beliau menjawab: “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia adalah Dzat Yang Telah membuatmu”. Saya bertanya lagi: “Kemudian apa?”. Beliau besabda: “Kamu membunuh anakmu karena khawatir ia makan bersamamu”. Saya bertanya: “Kemudian apa?”. Beliau bersabda: “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu”. Al Hasan berkata: “Barangsiapa yang berzina dengan saudara perempuannya sendiri maka hadnya seperti halnya had orang yang berzina”.
(HR: Bukhari)

Awal <> Akhir

Copyright ©2005
IslamDotNet
Hak Cipta dilindungi ALLAH SWT

3 Responses to “dosa besar”

  1. bakti Says:

    smua dosa apakah akan di ampuni?? padahal kita tau bahwa itu dosa besar??

  2. testocore Says:

    Hi, its good article about media print, we all understand media is a gfeat source off data.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

«

»
%d bloggers like this: